TAUFIQ ISMAIL: MEMBACA ISYARAT, MENYAPA KATA HATI

Maman S. Mahayana *

Sastra adalah catatan sebuah kesaksian atas satu atau serangkaian peristiwa yang terjadi pada saat dan zaman tertentu. Sebagai sebuah kesaksian, sastra boleh jadi sekadar mencatat segala peristiwa itu tanpa pretensi. Atau, mungkin juga ia mencoba melakukan pemaknaan atas hakikat di balik peristiwa itu.Itulah sebabnya, dari karya sastra, kita (: pembaca) kerap menemukan berbagai hal yang baik atau yang buruk; yang tersirat atau tersurat. Jadi, sebagai catatan sebuah kesaksian, sastra menghasilkan rekaman situasi sosial pada zamannya. Ia menampilkan semacam potret sosial. Dari sana, terungkap situasi sosial, di dalamnya sekaligus tersembunyi semangat zaman, bahkan juga luka sejarah yang terjadi pada masa tertentu. Continue reading “TAUFIQ ISMAIL: MEMBACA ISYARAT, MENYAPA KATA HATI”

Novelet: NOVEL UNTUK PENYAIR

Rahmi Hattani

Aku berjalan di bawah remang-remang cahaya. Bahuku sengaja kubiarkan terbuka mengkilap, terkena sorot lampu jalanan kota. Aku melangkahkan kaki di jalan yang mulai sepi kendaraan. Panjang rambutku melambai-lambai ditiup angin. Dinginnya udara wengi sama sekali tidak membuatku terganggu. Justru malamlah yang membuatku mengerti kehidupan. Akan makna kepahitan. Dan bersama malam pula, aku lebih memahami dunia ini. Continue reading “Novelet: NOVEL UNTUK PENYAIR”

Menggali Lagi Warna Lokal

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

Tema kedaerahan pernah mendapatkan tempat penting dalam dunia prosa Indonesia. Karya-karya prosa Indonesia pernah begitu bergairah menjadikan warna lokal sebagai tema besar. Tengok saja, Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan, Makrifat Daun, Daun Makrifat (1977) karya Kuntowijoyo, Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Burung-burung Manyar (1981), dan Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa (1983) karya Y.B. Mangunwijaya, Bako (1983) karya Darman Moenir, Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari, dll. Continue reading “Menggali Lagi Warna Lokal”

BERGURU MENULIS PADA IBNU DURAID

Sutejo
Ponorogo Pos

Abu Nashr Al Mikali mengatakan, “Pada suatu hari kami membincangkan berbagai tempat rekreasi (paling indah), sedang Ibnu Duraid hadir bersama kami. Sebagian orang berkata, “Tempat yang paling indah adalah lembah yang berada di Damaskus.” Sementara, yang lain berkata, “Tempat yang paling elok adalah sungai Ubullah.” Yang lainnya berkata, “Sughdu Samarkand.” Yang lainnya berkata, “Lembah Bawwan.” Yang lainnya lagi, berkata, “Bunga Balakh (pohon).” Continue reading “BERGURU MENULIS PADA IBNU DURAID”

Bahasa »