CHAIRIL ANWAR ATAU SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Maman S. Mahayana *

Chairil Anwar telah menjadi sejarah. Puisi-puisinya dipandang telah berhasil menghancurkan konsep bentuk konvensional; persoalan seputar larik dan bait, tidak lagi menjadi syarat sebuah puisi. Ia juga menawarkan kemungkinan pemanfaatan bahasa sehari-hari sebagai sarana ekspresi yang memberi ruang yang lebih luas bagi penyair. Dengan begitu, penyair leluasa dan bebas mengumbar gagasan kreatifnya. Continue reading “CHAIRIL ANWAR ATAU SUTARDJI CALZOUM BACHRI”

Divide et Impera

Dian Hartati*

Guncangan menggetarkan bumi yang kupijak. Dengan langkah bergegas aku kembali menatap jalanan yang gelap. Langit malam tak memberiku cahaya penerang, yang ada hanya gemuruh langkah-langkah bergegas menuju Selatan. Entah sudah berapa lama aku melangkah mengikuti kelok jalan dalam kelam malam. Gemerisik pepohonan mengantarkan kidung lengang tentang pertiwi yang disakiti. Continue reading “Divide et Impera”

Multitafsir Pahlawan dalam Puisi

Jurnal Nasional, 12 Okt 2008
Theresia Purbandini

Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah air. Continue reading “Multitafsir Pahlawan dalam Puisi”

Reinkarnasi Angin

Mashuri

Ketika ia memperkenalkan namanya dengan: Bajra, aku sudah curiga. Kulihat matanya yang berongga dan terkesan sangat dalam. Tulang tengkoraknya besar dan menonjol, alis mata tebal dan sekuntum kamboja terselip di kupingnya. Aku seperti menemukan sosok asing tetapi terasa dekat dan sangat kukenal. Aku lalu mulai menebaknya. Continue reading “Reinkarnasi Angin”

ASRIZAL NUR: DERAP KUDA DAN KEPAK RAJAWALI

Maman S Mahayana *

Hanya ada satu kata: Lawan!” Itulah kalimat pendek yang lahir dari kegelisahan panjang ketika kekuasaan telah menjelma gurita raksasa penindasan, membunuhi kemanusiaan, dan membungkam apa pun yang lahir dari hati nurani. Wiji Thukul, sang penyair, terus bergerak sampai nasib menggelindingkannya pada misteri tak berjawab: Hilang diterkam kekuasaan. Ia lalu menjadi sebuah ikon bagi gerakan perlawanan atas apa pun yang bernama tirani. Continue reading “ASRIZAL NUR: DERAP KUDA DAN KEPAK RAJAWALI”

Bahasa »