Peta perpuisian Nasional setelah 2000 memang diwarnai dengan banyaknya puisi gelap yang bersumber dari penyair Jawa Timur. Sederet nama sudah didaftar S Yoga dalam Kompas (Selasa/22 Juli 2008), yang bertajuk: ‘Taman Puisi Gelap Jawa Timur’. Kenyataan itu memang membanggakan. Meski demikian, ada sesuatu yang mengganjal terkait dengan dinamika sastra di Jawa Timur, yakni absennya jenis puisi epik. Padahal secara historis dan kultural, Jawa Timur adalah lumbung puisi epik. Di sisi lain, lewat puisi epik, sastra juga bisa membumi di masyarakatnya sendiri. Continue reading “Merindu Genre Puisi Epik di Jawa Timur”
DARI UJUNG KE UJUNG
Tak bisa diduga, berapa lama dia berada di ujung jalan. Andaikata terdapat seseorang yang menyapa, apa yang harus dikatakannya? Andaikata terdapat seseorang yang menduga, haruskah dia selonjorkan menit-menit yang berharga, buat secuap jawab tanpa makna? Namun demikian, pada hari yang penuh berlumur gula, sepatutnya dia kembali meraih penunjuk jalan yang mengarahkan orang pada jalur yang tepat – di kala segalanya masih remang dalam rabaan. Continue reading “DARI UJUNG KE UJUNG”
Geliat Sufistik Si Anak Laut
Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 14 Sep 2008
Ia piawai menyusun kata-kata lembut dalam rangkaian puisinya.
Dari sederet nama penyair Tanah Air era 1970-an, Abdul Hadi WM merupakan salah satu yang layak diperbincangkan. Pria berdarah Madura ini merupakan salah satu motor penggerak lahirnya puisi-puisi sufistik yang memperbincangkan kedekatan manusia dengan penciptanya. Continue reading “Geliat Sufistik Si Anak Laut”
Malin Kundang Bernama Indonesia: Puisi dan Kesadaran Berbangsa
Jamal D. Rahman
Sumber, http://jamaldrahman.wordpress.com/
Judul yang diajukan panitia Kongres Bahasa Indonesia VIII1 kepada saya mengandaikan dua persoalan tentang kedudukan sastra dalam masyarakat kita. Persoalan pertama menyangkut pandangan bahwa apresiasi masyarakat kita terhadap sastra masih relatif rendah, dan karena itu perlu ditingkatkan melalui program yang amat konkret, yaitu Continue reading “Malin Kundang Bernama Indonesia: Puisi dan Kesadaran Berbangsa”
Kuduk
Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 21 Sep 2008
Apa ukuran sebuah puisi yang berhasil? Bila Anda tanyakan ini kepada penyair Acep Zam Zam Noor, maka jawabnya sederhana. ”Sajak itu membuat bulu kuduk saya berdiri!” begitulah kata Acep, yang telah disampaikannya berkali-kali dalam berbagai forum. Hingga, Acep Zam Zam Noor kemudian, di antara teman-temannya penyair, acap kali disindir sebagai penyair ’bulu kuduk’. Continue reading “Kuduk”
