Geliat Sufistik Si Anak Laut

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 14 Sep 2008

Ia piawai menyusun kata-kata lembut dalam rangkaian puisinya.

Dari sederet nama penyair Tanah Air era 1970-an, Abdul Hadi WM merupakan salah satu yang layak diperbincangkan. Pria berdarah Madura ini merupakan salah satu motor penggerak lahirnya puisi-puisi sufistik yang memperbincangkan kedekatan manusia dengan penciptanya.

Abdul Hadi mengakui, ketertarikannya pada puisi-puisi sufistik dikarenakan tema-tema spiritual kurang mendapat tempat dalam perkembangan sastra di Indonesia. “Padahal hal itu penting untuk sebuah keseimbangan hidup,” kata Abdul Hadi kepada Jurnal Nasional, Selasa (9/9).

Kepiawaian lelaki kelahiran Sumenep enam puluh tahun lalu ini dalam merangkai kata memang tak diragukan lagi. Dengan lincah Abdul Hadi merangkai simbol-simbol untuk bercerita mengenai sejarah Islam maupun konsep kesufian, bukan sekadar tiruan dari kenyataan. “Bagi saya menulis puisi bukan hanya menggunakan perasaan, tapi juga intuisi,” ujar pengajar Seni dan Budaya Sastra Islam, Universitas Paramadina Jakarta ini.

Sastrawan Sides Sudyarto mengatakan, Abdul Hadi biasa menggunakan bahasa yang lembut dalam karya-karyanya. “Pilihan katanya cukup sederhana namun penuh makna, sehingga ketika membaca orang langsung tahu bahwa itu karya Abdul Hadi,” kata Sides.

Tengok saja sajaknya yang berjudul Tuhan, Kita Begitu Dekat. Karya yang cukup representatif untuk menggambarkan komitmen dan orientasi estetik kepenyairan Abdul Hadi.

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti api dan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya
Kita begitu dekat
Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Secara sekilas puisi tersebut menampilkan kesan sederhana yaitu, kedekatan Abdul Hadi dengan penciptanya menggunakan bahasa perumpamaan. Tetapi jika dikaji dengan menggunakan metode intertekstualitasnya Julia Christeva, puisi tersebut dapat dikaitkan dengan konsep yang rumit tentang tasawuf.

Dalam dua bukunya yaitu, Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979) Kristeva mengatakan, intertekstualitas merupakan kunci untuk memahami sebuah teks sastra secara lengkap. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam menafsir teks sastra.

Di sisi lain penyair Slamet Soekirnanto mengagumi kedalaman Abdul Hadi dalam mengeksplorasi tema. “Syair-syair yang ia tulis tak semata-mata bersandar pada inspirasi melainkan melalui proses pengendapan, pencarian serta sublimasi,” ujar penulis sajak Gergaji ini.

Slamet mengatakan, Abdul Hadi dengan lentur memadukan imajinasi dengan pengetahuan yang dimilikinya. Setiap tema yang diusung selalu diperkuat dengan riset sehingga kedalaman pesan yang ingin disampaikan sangat terasa.

Pernyataan Slamet ini hampir senada dengan pernyataan H.B. Jassin dalam Harian Berita Buana, Oktober 1977 lalu. Di sana Jassin menyebut Abdul Hadi sebagai salah satu penyair yang mempunyai pemikiran atau latar belakang estetik yang jelas. “Abdul Hadi tak menulis sajak begitu saja, asal jadi dan asal tulis. Ia menulis dengan pertimbangan tertentu yang dilakukan secara sadar,” kata Jassin ketika itu.

Kedalaman eksplorasi puisi-puisi Abdul Hadi bermuara dari kegemarannya membaca berbagai macam litelatur mulai dari buku tasawuf hingga kitab suci. “Setiap hari saya menyediakan waktu minimal dua jam untuk membaca,” kata Abdul Hadi.

Sejak muda Abdul Hadi sudah melahap buku-buku karya pemikir dunia seperti Plato, Socrates, Imam Ghazali, hingga R Tagore. Bahkan untuk memuaskan rasa keingintahuannya Abdul Hadi memilih untuk meninggalkan Fakultas Sastra, dan pindah ke Fakultas Filsafat.

Abdul Hadi mulai “jatuh cinta” dengan puisi waktu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Tak heran, mengingat darah seni mengalir deras dalam tubuhnya. Ayahnya gemar melukis, sementara kakeknya senang bersenandung mocopatan dan membaca sastra Jawa.

Suami dari pelukis Tedjawati ini juga lebih senang disebut sebagai penyair. Menurut dia, profesi lain yang digelutinya seperti pengajar, wartawan dapatlah dianggap sebagai tambahan.

Tema sufistik

Tema sufistik sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru dalam percaturan dunia sastra nusantara. Sejak abad ke-16 Hamzah Fansuri telah memulainya. Namun ajaran tasawuf yang disebarkan oleh Fansuri sempat coba dihapus oleh Sultan Iskandar Muda, meski tak sepenuhnya berhasil karena para pengikut Fansuri berusaha mengumpulkan jejak yang ditinggalkan.

Setelah Fansuri, jejak sufistik dapat dirasakan melalui karya-karya Amir Hamzah. Meski kemudian tidak terlalu kentara karena ditelikung polemik kebudayaan tentang pemikiran Barat yang diusung oleh Sutan Takdir Alisjabana dan pemikiran Timur yang disuarakan oleh Sanusi Pane.

Sutardji Calzoum Bachri mengatakan, polemik kebudayaan tersebut berlanjut hingga Indonesia merdeka. “Polemik itu dimenangkan oleh Takdir dan kawan-kawan, ketika itu keberadaan sastra sufistik pun mulai memudar,” kata pria yang baru saja memperoleh penghargaan Bakrie Award ini.

Lelaki kelahiran Rengat 67 tahun silam ini memaparkan, kemenangan kelompok yang mengusung pemikiran Barat bukan diperoleh dengan logika maupun perdebatan, melainkan melalui karya. “Polemik dalam sastra harus dibuktikan dengan karya,” kata Sutardji.

Hingga kemudian Oktober 1950, Chairil Anwar, Asrul Sani serta Rivai Apin mendeklarasikan Surat Kepercayaan Gelanggang yang berisi pernyataan bahwa mereka merupakan ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan berhak meneruskan dengan caranya sendiri.

Dalam deklarasi yang dipublikasikan dalam majalah Siasat, Chairil dan kawan-kawan juga menyebutkan jika mereka tidak akan mengelap hasil kebudayaan lama sampai berkilat, tapi memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.

Menurut Sutardji, Chairil beserta rekan-rekannya berhasil membuktikan geliat pemikiran Barat dalam karya-karyanya. Sebaliknya, karya sastra yang berkiblat pada pemikiran Timur keberadaannya semakin meredup.

Sekitar tahun 1970-an perkembangan sastra Tanah Air mulai berbalik arah. Perdebatan serta wacana konseptual mengenai kesusastraan kembali kencang berembus. “Saat itu semangat kembali ke akar, kembali ke sumber, tengah gencar dielu-elukan,” ujar Sutadji.

Pria yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Sosial Politik, Universitas Padjadjaran Bandung ini menuturkan, ketika itu para sastrawan giat menggali nilai-nilai yang dekat serta akrab dengan mereka, entah itu kesukuan maupun religiusitas.

Abdul Hadi sendiri membagi corak pendekatan dan sikap terhadap tradisi yang dilakukan para sastrawan pada masa itu ke dalam tiga kelompok. Pertama, mereka yang mengambil unsur budaya tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan. Kelompok ini melihat dalam tradisi terdapat aspek yang relevan bagi pandangan hidup manusia mutakhir. “Irrasionalisme ternyata mendapat perhatian kaum eksistensialis dan penganut aliran sastra absurd,” kata Abdul Hadi.

Kelompok yang kedua adalah mereka yang menumpuk perhatian hanya pada satu budaya daerah saja seperti, Jawa, Minangkabau, Melayu Riau, Sunda, dan lain-lain. “Kelompok ini memiliki kecenderungan untuk memberi corak khas kedaerahan terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia,” ujar Abdul Hadi.

Sementara kelompok ketiga merupakan mereka yang mengambil tradisi dari spiritualitas dan agama tertentu. “Mereka yang masuk dalam kelompok ini sadar tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar, seperti Hindu, Buddha, dan Islam,” kata Abdul Hadi.

Salah satu konsep yang menonjol ketika itu adalah sastra sufistik yang diusung oleh Abdul Hadi dan beberapa sastrawan lain seperti Danarto, Leon Agusta, serta Sutardji Calzoum Bachri. “Konsep mereka adalah menjadikan tema ketuhanan dan sufisme sebagai sumber ilham dalam bersastra,” kata Sides.

Lebih lanjut, Sides mengatakan, gerakan sufistik merupakan aktivitas para penyair untuk mencari nilai-nilai religiusitas yang lebih mendalam. “Dalam hal itu sastra religius dan sufistik ada kesamaan, yaitu pendekatan diri dengan yang maha kuasa dengan caranya masing-masing,” ujar Sides.

Abdul Hadi mengatakan, sastra sufisme ini sebagai kebudayaan universal dari segi peradaban, kebudayaan, serta estetika dan bukan sekadar dogma agama saja. “Islam merupakan agama yang universal,” ujar Abdul Hadi.

Kurang dilirik

Tiga puluh tahun silam Sutardji pernah mengatakan kekagumannya pada karya-karya Abdul Hadi. Ia melihat Abdul Hadi sebagai seorang penyair yang senantiasa berkembang. “Abdul Hadi dikenal sebagai penyair yang prolifik alam, sajak mistis dan sufis, sajak cinta, sajak mbeling, sajak protes sosial,” kata Sutardji ketika itu.

Kini setelah tiga dasawarsa berlalu, Sutardji masih tetap mengakui kelenturan Abdul Hadi dalam mengolah kata, serta pendalaman-pendalamannya ketika mengeksplorasi tema. “Abdul Hadi penyair yang hebat, sayangnya kurang dilirik oleh kritikus sastra,” ujar Sutardji.

Setali tiga uang dengan Sutardji, penyair asal Minang, Taufik Ismail juga memberikan apresiasi terhadap karya-karya Abdul Hadi. Menurut Taufik, Abdul Hadi merupakan seorang penyair yang sangat produktif dalam berkarya. “Pemberian gelar profesor di bidang sastra untuk Abdul Hadi sangat-sangat terlambat,” kata Taufik Ismail.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *