KIDUNG SANG KEMBARA
lewat semesta cakrawala
segala tembang ia simpul
bagai sejoli lelangkah
dan hanya bermuara
pada seketuk nada
“do”
di jati kembara Continue reading “Puisi-Puisi Imamuddin SA”
KIDUNG SANG KEMBARA
lewat semesta cakrawala
segala tembang ia simpul
bagai sejoli lelangkah
dan hanya bermuara
pada seketuk nada
“do”
di jati kembara Continue reading “Puisi-Puisi Imamuddin SA”
Judul Buku : Nabi Tanpa Wahyu
(Esei-esei Sastra Perlawanan)
Penulis : Hudan Hidayat
Penerbit : Pustaka Pujangga Lamongan
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xii + 218 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/ Continue reading “Mengakrabkan Sastra Kepada Tuhannya”
Haris del Hakim
Kehadiran bayi pertama pada usia sepuluh tahun pernikahan merupakan kebahagiaan tak terkira bagi Juragan Kosim. Kekayaan yang melimpah ruah hasil keringat bertahun-tahun tidak akan hilang begitu saja. Sayangnya, kebahagiaan itu belum sempurna. Bayi itu belum pernah menangis sejak lahir. Sebagaimana kata orang, anak itu akan tumbuh dewasa sebagai orang bisu. Continue reading “Tahi Mata Hitam”
Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=72
“Untuk mengada, kita tidak hanya mendapat jatah tempat. Kita juga punya rentang waktu yang sudah ditetapkan.” (Jostein Gaarder).
Pun bagaimana, dunia diciptakan melewati pengadaan, semisal mengawali tulisan yang menggelora. Segala yang terbentang kemudian, ternyata bukan endapan dalam, juga tidak sedari rentetan panjang penalaran. Kadang keseluruan mendadak meloncat dari fikiran-perasaan yang sempat terbangun, yang tidak sanggup mengikuti gerakan peredarannya. Continue reading “MENGADA BERSAMA JOSTEIN GAARDER”
Mardi Luhung *
Jurnal Nasional 14 Sep 2008
Umi dan Abi pergi ke taman kampung. Umi berkebaya sedap. Abi berbaju koko. Kata keduanya: “Kami ingin naik sepur kelinci yang panjang!” terus tersenyum. Senyum yang lepas. Dan membuntut di belakang sepur kelinci yang panjang itu. Seperti buntut layang-layang yang tertempa oleh angin. Meriah dan menyala. Dengan warna yang terang. Warna yang ketika masuk ke dalam mimpiku, akan mewarnai relungnya. Sampai membuat mimpiku merajuk: “Tolong, jangan, jangan bangunkan aku dari ini semua!” Dan senyum yang mengingatkan aku pada yang bertumbuhan di kelebatan bulumu. Yang kerap kau warnai. Yang sesekali menggumpal. Dan sesekali bergerai. Meluncurkan perahuku yang aku anyam dari puisi. Continue reading “PERAHUKU”