HUJAN PERAPATAN LATENG

Taufiq Wr. Hidayat *

Hujan. Sebagaimana berabad-abad lampau, tetaplah titik-titik air yang jatuh ke bumi. Berkilau bagai butiran kristal waktu terkena cahaya lampu. Merintik ke atas aspalan. Ke atas atap-atap rumah. Kemudian air hujan itu, mengaliri pepohonan, menetes dari ujung-ujung dedaunan. Orang memumikan kenangan dengan ingatan yang dibubuhinya penanda. Mumi-mumi kenangan itu pun basah terkena hujan. Dan ada yang menanti entah siapa di sana, sambil melupakan usia, atau berpura-pura lupa pada usia. Continue reading “HUJAN PERAPATAN LATENG”

Humanisme dalam Cerpen Katastrofa

Rika Wijayanti

Saat membaca cerpen Kompas edisi 20 September 2015, judul adalah hal pertama yang tampak dalam penglihatan kita. Katastrofa? Kata asing ini menimbulkan berbagai pertanyaan dan asumsi perihal isi cerpen tersebut. Baiklah, mari kita tengok pada kamus. Menurut KBBI, katastrofe adalah penyelesaian (akhir) suatu drama, terutama drama klasik yang bersifat tragedi. Continue reading “Humanisme dalam Cerpen Katastrofa”

Arah Mudik

Raudal Tanjung Banua *
JawaPos 1 Juni 2019

Di kampungku, pesisir Barat Sumatera, mudik pertama-tama dipahami sebagai penunjuk arah. Ia merujuk daerah hulu sungai, gunung, atau sebalik bukit.

Kebalikannya adalah hilir, merujuk muara, pantai dan laut. Umumnya, masyarakat kita memang tidak menyebut arah dalam ungkapan “resmi” mata angin, namun lebih banyak mengacu pada tradisi dan budaya (toponomi). Continue reading “Arah Mudik”

Bahasa »