
[Photo: Tomas Transtromer by Lois Shelton, 1988]
Ahmad Yulden Erwin Continue reading “TAK ADA PETUAH DI DALAM PUISI MODERN”
Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia
Sumber: Asrul Sani: Surat-Surat Kepercayaan
Pramoedya Ananta Toer
Pokok-pokok pikiran ceramah pada Seminar Sastra yang diadakan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada tanggal 26 Januari 1963. Pelopor yang dianggap bapak realisme-sosialis adalah Maxim Gorki. Tanggal timbulnya tak dapat ditentukan dengan pasti, tetapi kira-kira tahun 1905. Istilah realisme-sosialis itu sendiri baru timbul kira-kira tiga puluh tahun kemudian, yakni melalui ucapan Andrei Zhdanov di hadapan Kongres I Sastrawan Soviet di Moskwa pada tahun 1934. Continue reading “Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia”
POHON PONGO
Bulu-bulunya menegang saat Laksmi menggamit Pongo untuk kembali menghutan. Pongo yang masih kecil, enggan mengikuti ibunya. Ia masih sibuk menghisap daging ubi yang manis, ransum dari taman nasional. Namun, hati Laksmi sudah terpanggil ke sisi lain hutan. Continue reading “POHON PONGO”
OMAYGAD! Sutardji Presiden Puisi Abadi dan Mau Keluarkan Kredo Baru!?
Seperti tak mau kalah dari Sapardi yang menerbitkan buku dengan berkolaborasi (Prokem: Tik-Tok-an) bersama Rintik Sendu, dikabarkan oleh KOMPAS-Sabtu 8 Februari 2020, dalam tulisan milik Putu Fajar Arcana di rubrik Sosok halaman 12, bahwa Sutardji ternyata diam-diam tengah mempersiapkan sebuah buku dengan sebuah Kredo baru, Maret nanti.“Omaygad!” Ya, di balik meja kerja, sontak saya berteriak lirih seperti tiba-tiba tercekik: “Omaygad!” Continue reading “OMAYGAD! Sutardji Presiden Puisi Abadi dan Mau Keluarkan Kredo Baru!?”
MEMBACA MANTRA PADA PUISI “KERANDA”, KARYA TITI AOSKA
Indra Intisa
Sebelum zaman Sutardji–yang melejitkan mantra melalui puisi kontemporernya–sebenarnya mantra telah membumi di masyarakat Indonesia. Membuminya mantra juga merasuk ke relung-relung budaya masyarakat. Bahkan sampai zaman modern sekarang ini. Masih ada. Continue reading “MEMBACA MANTRA PADA PUISI “KERANDA”, KARYA TITI AOSKA”


