TAK ADA PETUAH DI DALAM PUISI MODERN


[Photo: Tomas Transtromer by Lois Shelton, 1988]
Ahmad Yulden Erwin

Kini, kebanyakan orang awam yang tak paham sastra nampaknya telah keliru memahami bahwa puisi modern atau kontemporer identik dengan kumpulan amanat, petuah, kata-kata mutiara, kalimat motivasi, nasehat keagamaan nan bijak, atau minimal sebuah rayuan cinta yang membara. Namun, jika itu yang mereka cari, kenapa mereka tak membaca kitab suci atau buku motivasi atau biografi para tokoh dunia atau kitab pepatah lama atau novel cinta populer?

Puisi modern memang memilki tema, tapi mengeksplorasi tema bukan berarti menaburkan “khotbah” ke dalam tubuh puisi. Teks-teks puisi kelas dunia tidak berkhotbah, tidak berambisi untuk menyaingi kitab suci atau buku filsafat, juga bukan renungan aplikatif yang bisa memecahkan problem sehari-hari hidup Anda.

Puisi modern adalah “satu karya seni”. Keindahannya bukan terletak pada verbalitas pesan, melainkan pada komposisi yang tersusun oleh unsur-unsur ketepatan linguistik, gita-puitik, lukisan-puitik, pendalaman-tematik, dan inovasi. Agar Anda mampu “membaca” keindahan sebuah teks puisi modern dan menikmatinya, maka Anda mesti paham terlebih dahulu setiap aspek yang membentuk komposisi pada suatu teks puisi modern.

Sama juga halnya bila ada yang menyatakan bahwa tak semua orang awam bisa memahami teks asli dari teori relativitas umum Einstein, atau teori ketakpastian Heisenberg, atau teori ketaklengkapan Kurt Godel, atau buku Tractatus Logico-Philosophicus karya Wittgenstein. Anda musti memahami terlebih dahulu bahasa matematika dan logika simbolis modern sebelum mampu membaca teks asli dari buku-buku yang telah mengubah pandangan dunia tersebut.

Ketidakpahaman Anda sama sekali tidak membuktikan rendahnya kualitas dari buku-buku tersebut, tetapi hanya menunjukkan fakta ketidakmampuan Anda untuk memahaminya. Jika Anda memang amat butuh “informasi” siap saji, saya sarankan, bacalah koran pagi atau media berita online, dan jangan baca puisi Tomas Transtromer *) berikut ini:

ENAM MUSIM DINGIN
Karya Tomas Transtromer

1
Dalam hotel hitam seorang bocah tertidur.
Dan di luar: malam musim dingin
tempat bagi mata dadu nyalang terguling.

2
Begini saja kematian elit itu membatu
di halaman Gereja Katarina
tempat angin menerpa zirah dari Svalbard.

3
Pas musim dingin masa perang aku jatuh sakit,
gumpalan es besar tumbuh di luar jendela.
Tetangga dan tombak, memori tak terjelaskan.

4
Es menggantung di tepi atap.
Tetes air membeku: gotik terbalik.
Sapi abstrak, ambing kaca.

5
Masih pada relnya, gerbong kereta api kosong.
Terus. Heraldik.
Terus melaju dengan cakarnya.

6
Malam kabut salju, purnama. Ubur-ubur sinar bulan,
di depan kita, melayang sendirian. Tersenyum bersama
di jalan pulang. Senyum yang menyihir seluruh jalanan.

_____________________
*) Tomas Transtromer adalah penyair Swedia peraih Nobel Sastra 2011. Puisi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Fulton dari buku “För Levande och Döda” (1989) karya Tomas Transtromer.

__________________________________________
Terjemahan Puisi: Ahmad Yulden Erwin, 2012
__________________________________________

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *