PETER HANDKE DAN MAGSAYSAY UNTUK PRAMOEDYA

Anindita S Thayf *
Jawa Pos, 01/12/2019

Peter Handke, sastrawan asal Austria, diganjar penghargaan Nobel Sastra 2019 oleh Akademi Swedia. Belum sampai sepekan setelah kabar itu tersiar, polemik bermunculan. Selebriti sastra dunia Salman Rushdie dan filsuf Slavoj Zizek mengajukan keberatan atas penganugerahan untuk Handke. Selain itu, muncul pula petisi online yang menggugat keputusan Akademi Swedia tersebut. Alasan semuanya sama: Handke dianggap pendukung pemimpin Serbia, Slobodan Milosevic—orang yang dianggap sebagai penjahat perang Yugoslavia pada 1990. Continue reading “PETER HANDKE DAN MAGSAYSAY UNTUK PRAMOEDYA”

KITAB IBLIS (2)

Taufiq Wr. Hidayat *

Dalam cerita Taufiq el-Hakim, tampak jelas bahwa agama tak dapat menghantarkan Iblis pada Allah. Semua agama samawi itu tak bersedia menerima Iblis memeluk agama, menghalanginya bertobat.

Jika benar dan diyakini agama ialah jalan atau sebentuk alat menuju Tuhan, mendapatkan kasih dan ampunan-Nya, kenapa ia tak sanggup menerima Iblis bertobat melalui agama? Pengertian ini dapat berkembang; mampukah agama memberi jalan keluar bagi penderitaan manusia yang diasingkan dalam noda dan kekejian? Continue reading “KITAB IBLIS (2)”

KITAB IBLIS (1)

Taufiq Wr. Hidayat *

Tuhan lebih mencintai seorang yang berdosa besar, sadar, lalu bertobat daripada sembilan puluh sembilan orang saleh yang tak butuh tobat.

Demikian Taufiq el-Hakim, sastrawan agung Mesir, menulis “qishos falsafiyah” dalam sastra Arab yang mengagumkan, dalam antologi “Arini Allah” (1953). Ungkapan itu dikutip dari kitab suci Injil. Ungkapan tersebut diucapkan Iblis di depan seorang pemuka agama samawi. Kisah menarik ini, tak habis daya mempertanyakan kembali apa sejatinya eksistensi dan manfaat agama beserta segala kemapanannya bagi kehidupan. Cerita masyhur itu, kurang-lebih berkisah, begini. Continue reading “KITAB IBLIS (1)”

PETA SASTRA: UNTUK APA DAN SIAPA

Anindita S Thayf
Jawa Pos, 17/02/2019

Pada tanggal 18-20 Desember 2018, Muktamar Sastra 2018 tergelar di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Perhelatan akbar ini diselenggarakan berlandaskan visi Menggali Kesusastraan Membangun Kebangsaan. Sejumlah pembicaraan dan diskusi pun dilakukan demi menajamkan visi ini. Salah satunya diskusi panel yang membahas seputar peta sastra Indonesia mutakhir dimana saya didapuk menjadi salah satu narasumber. Continue reading “PETA SASTRA: UNTUK APA DAN SIAPA”

Bahasa »