Pelaku Seni Sastra Sebut Disbudpar Jawa Timur Tidak Manusiawi

Reporter: Haris Saputra
mediajatim.com/2018/02/22

Sejumlah pelaku seni sastra di Jawa Timur mengaku kecewa kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur. Pasalnya, para pegiat sastra se Jawa Timur yang diundang mengikuti Training of Trainer (ToT) merasa tidak dihargai setelah hanya menerima uang Rp. 100.000 sebagai pengganti transportasi.

“Jangan berbicara soal sastra dulu bila Disbudpar tidak bisa menanusiakan manusia. Ini jelas pelecehan terhadap pelaku sastra Jawa Timur sendiri,” kata Timur Budi Raja, salah satu Peserta ToT. Continue reading “Pelaku Seni Sastra Sebut Disbudpar Jawa Timur Tidak Manusiawi”

Kini, Kritik Kritikus Sastra Sumut

Mihar Harahap
Harian Analisa, 4 Nov 2012

Kini, kembang kritik kritikus sastra Indonesia modern di Sumut, mengapa kuncup? Setidaknya ada 3 hal. Pertama, sejumlah kritikus telah meninggal dunia, misal B. Y. Tand, Herman KS, Ahmad Samin Siregar dan Antilan Purba. Tinggallah Damiri Mahmud, Mihar Harahap, Shafwan Hadi Umry dan yang istirahat. Untung, muncul angkatan baru seperti Yulhasni, Afrion, Suyadi San, Jones Gultom, Budi P.Hatees dan lainnya. Kritik sastra pun mengalir, walau tekanan arus tak sederas masa lalu. Continue reading “Kini, Kritik Kritikus Sastra Sumut”

Sastrawan Batubara yang Terlupakan

Damiri Mahmud
Harian Analisa, 4 Nov 2012

Para seniman dan budayawan Kabupaten Batubara sangat terkesan mengingat kembali bahwa di daerah mereka Kabupaten Batubara yang dimekarkan dari Kabupaten Asahan pernah eksis seniman dan sastrawan besar yang selama ini seperti terlupakan. Seperti yang saya kemukakan dalam “Dialog Kebudayaan” yang digelar oleh Kadis Kebudayaan dan Pariwisata bertempat di Balai Resto baru-baru ini, para seniman dan sastrawan dari sini telah mengukir pena mereka dalam mengisi khazanah sastra Indonesia Modern. Continue reading “Sastrawan Batubara yang Terlupakan”

Bersastra dari Rumah ke Rumah

J Anto

SEORANG Penyair, cerpenis juga novelis senior Sumut, Damiri Mahmud pernah merasakan kesunyian hati saat tak diajak ngopi. Saat itu ia masih berstatus penyair pemula. Sastrawan senior pada zamannya bisa dibilang angker. Pada 1970-an ia pernah bertandang ke harian Analisa, bertemu sejumlah sastrawan senior. Di tangga gedung, saat mau ngopi, mereka berlalu begitu saja. Tak ada yang menawari ikut. Tapi ia mengaku tak sakit hati. Continue reading “Bersastra dari Rumah ke Rumah”

Jejak Langkah Damiri Mahmud

badanbahasa.kemdikbud.go.id

Salah seorang sastrawan yang terkenal dari Sumatera Utara adalah Damiri Mahmud. Damiri adalah putra asli Sumatera Utara. Damiri lahir di Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, tanggal 17 Januari 1945. Ia merupakan putra bungsu dari pasangan H. Mahmud Khatib dan Hj. Siti Rahmah. Pada usia 27 tahun, ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis yang bernama Mariani (lahir tanggal 31 Desember 1949). Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai enam orang anak, tetapi dua di antara anaknya telah meninggal dunia. Anaknya yang ada saat ini adalah Fahmi, Chairunnisa, Kurnia, dan Siti Hidayati. Dari anak-anaknya yang telah menikah, Damiri mendapat empat orang cucu. Continue reading “Jejak Langkah Damiri Mahmud”

Bahasa »