Pemakaian gambar dan tulisan sekaligus dalam sebuah tanda (sign) sebagai alat komunikasi antar-manusia merupakan sebuah kenyataan sejarah yang berumur panjang dan universal. Historisitasnya yang panjang bisa dilihat pada produk-produk budaya yang dihasilkan oleh peradaban yang telah mengenal baik gambar maupun tulisan, terutama yang terakhir ini, Continue reading “Puisi Rupa Made Wianta”
Binhad Nurrohmat Has Got No Balls, Or Brain!
Mikael Johani *
Saya geli sekaligus ngeri membaca Binhad Nurrohmat dalam “Menganiaya Puisi …” (Kompas, 21 Mei 2006) begitu marah pada “kritik gadungan” yang “menyatakan kesimpulan tanpa data yang komprehensif, tanpa fakta yang tepat, dan tanpa analisa maupun pembuktian yang meyakinkan,” (ini di alinea 2) tapi sampai alinea 6 waktu dia mengulangi lagi pidatonya, Continue reading “Binhad Nurrohmat Has Got No Balls, Or Brain!”
Merindukan Imajinasi Indonesia *
Jamal D. Rahman
Horison, Jan 2016
Kenapa tak ada lagi imajinasi Indonesia dalam puisi kita dewasa ini? Pertanyaan ini tidak bermaksud menutup mata terhadap adanya imajinasi tentang Indonesia dalam puisi. Sudah tentu ada banyak imajinasi Indonesia dalam puisi kita, sebab imajinasi merupakan salah satu alat penting puisi. Yang kita maksud di sini adalah imajinasi tentang Indonesia yang kita impikan. Yakni imajinasi yang bukan saja merekam atau merespon realitas dan fenomena aktual yang pada umumnya negatif, melainkan imajinasi yang memproyeksikan Indonesia yang diidamkan, Indonesia yang dicita-citakan, Indonesia yang bagai bunga mekar berseri-seri. Continue reading “Merindukan Imajinasi Indonesia *”
SASTRA JAMBI MISKIN KRITIK
Adi Suhara
adisuhara.blogspot.co.id
Kurangnya kualitas suatu karya sastra salah satunya disebabkan oleh kurangnya kritik atas karya sastra itu sendiri, dan kurangnya kritik sastra menyebabkan para kreator karya sastra menjadi monoton dengan gaya yang itu-itu saja. Sehingga perkembangan sastra tetap saja tidak mengalami kemajuan alias jalan di tempat. Continue reading “SASTRA JAMBI MISKIN KRITIK”
INTERTEKSTUALITAS, PENCIPTAAN, DAN SOAL JEMBUT SAUT SITUMORANG
Shiny.ane el’poesya
elpoesya.wordpress.com
“Saut hanya bermain libido (nafsu berahi yang bersifat naluri) untuk meresepsi (menekan) dunia khayalan belaka. Sampai-sampai tercetuslah kata-kata ‘jembut Tuhan’ yang melampaui batas itu… Perhatikan saja judul puisinya: ‘Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu.’ Ucapan yang aneh ini bukan termasuk hulul, tetapi semacam kecerobohan logika (akal sehat) Saut, Ucapan ini menderita ketidak relevanan pemikiran.” Narudin Pituin– Continue reading “INTERTEKSTUALITAS, PENCIPTAAN, DAN SOAL JEMBUT SAUT SITUMORANG”

