INTERTEKSTUALITAS, PENCIPTAAN, DAN SOAL JEMBUT SAUT SITUMORANG

Shiny.ane el’poesya
elpoesya.wordpress.com

“Saut hanya bermain libido (nafsu berahi yang bersifat naluri) untuk meresepsi (menekan) dunia khayalan belaka. Sampai-sampai tercetuslah kata-kata ‘jembut Tuhan’ yang melampaui batas itu… Perhatikan saja judul puisinya: ‘Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu.’ Ucapan yang aneh ini bukan termasuk hulul, tetapi semacam kecerobohan logika (akal sehat) Saut, Ucapan ini menderita ketidak relevanan pemikiran.” Narudin Pituin–

Sudah jelas ungkapan Saut bukanlah termasuk ungkapan hulul sebagaimana pernah diungkapkan oleh al Hallaj. Akan lebih mengherankan pula ketika kita menyatakan bahwa ungkapan tersebut merupakan sebuah ungkapan “libidinal”, melampaui batas, hingga “ketidakrelevanan pemikiran” tanpa menjelaskan akan pemikiran apa, dan kenapa tidak relevan dalam konteks yang seperti apa? Membaca (penggalan) ulasan puisi yang dibuat oleh Narudin atas sajak Jembut Saut–sebagaimana dikutipkan di atas, kembali membuat hati penulis tertegun miris. Hal tersebut dikarenakan, kembali hadir di hadapan kita sebuah bentuk arogansi seorang pembaca yang terlalu berkeinginan untuk mengoreksi sajak milik orang lain, tetapi tanpa ditopang oleh argumentasi analitik yang memuaskan, bahkan cenderung didasarkan pada pemahaman yang kurang baik–untuk tidak mengatakan buruk serta mengecewakan. Lebih jauh, upaya untuk mencoba mengkritisi sebuah tulisan, tanpa sama sekali diimbangi apresiasi yang cukup untuk bisa kita baca sebagai sebuah tradisi bersama.

Nah, tulisan ini adalah satu usaha kecil untuk memulai, mencoba mengapresiasi sajak yang baru-baru ini jadi bahan pembicaraan. (Di bawah, sajak yang dimaksud).

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu

ada jembut nyangkut
di sela gigiMu!
seruKu
sambil menjauhkan mulutKu
dari mulutMu
yang ingin mencium itu.

sehelai jembut
bangkit dari sela kata dan puisi
tersesat dalam mimpi
tercampak dalam igauan birahi semalaman
dan menyapa lembut
dari mulut
antara langit langit dan gusi merah mudaMu
yang selalu tersenyum padaKu itu.

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu
tapi bersihkan dulu gigiMu
sebelum Kau menciumku!

Jogja, 6 januari 2002

I. Intertekstualitas

Satu hal sbagai contoh yang amat mengecewakan dari ulasan yang dibuat oleh Narudin adalah, ia tengah mencoba membawa Sajak Jembut di atas ke dalam sebuah alam fikiran yang benar-benar amat naif dalam benaknya. Padahal, dalam narasi pengantar ulasannya, ia telah mengabarkan telah menonton video-pembacaan sajak tersebut oleh empunya yang dibacakan di Gedung teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Jakarta 2015 lalu.

Sebelum membacakan sajak tersebut, Saut mengatakan bahwa sajak Jembutnya diarahkan kepada Sapardi–seperti kita pernah mendengar pada sajak-sajak lainnya yang seringkali ia “bidikkan” secara langsung untuk si A, untuk si B dan untuk si Sutardji misalnya dalam “Sajak Perahu Mabuk”, yang menjelaskan betapa ada soal intertekstualitas di sana. Tetapi, betapa naifnya Narudin hampir penuh dalam ulasannya tak sedikit pun menyebut nama Sapardi. Alih-alih justru ia menyebut banyak nama-nama yang menurut penulis kurang penting dalam konteks sajak Jembut Saut: Siti Jenar, Al Hallaj dst.

Soal intertekstualitas ini menjadi penting dalam proses apresiasi puisi, terlebih ketika seorang penyair telah menyebutkan secara eksplisit kemana arah acuannya. Hal ini menjadi penting, agar usaha pen-takwil-an ( : mengembalikan teks pada makna awalnya) tidak memperolah jalan yang sesat; (noted: Ta’wil, bukan semiotik sebagaimana Narudin gunakan untuk mendekati sajak Jembut Saut. Apalagi pendekatan semiotika yang lagi-lagi digunakan dengan cara tidak jelas).

Bagi penulis, sajak Jembut yang di-kuar-kan Saut dalam pembacaannya untuk Sapardi itu, merujuk pada sajak “Aku ingin” yang telah dikenal banyak publik dari berbagai generasi. Hal tersebut bisa kita cerap secara langsung (sebenarnya) dari model stilistika “Aku ingin” yang Saut gunakan. Mari kita bandingkan.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.” (Sapardi DD)

“Aku mencintaimu dengan seluruh jembutKu.” (Saut St.)

Secara sintaksis, kalimat yang dibuat Saut maupun Sapardi, menunjukkan susunan fungsional yang sama, yaitu, S-P-O-K, dengan subjek “Aku”, kata kerja “mencintai”, dan “Mu” sebagai objeknya, yang diulang sebanyak dua kali (2 kali) samanya dalam keseluruhan sajak. Yang membedakannya adalah, hanya pada bentukan predikat dan keterangannya: Sapardi mengisi predikat dalam kalimat yang dibuatnya dengan verba non performatif berupa frasa “Aku ingin”, sedangkan Saut mempredikasikan subjeknya dengan verba prformatif “mencintaiMu”; Sapardi mengisi fungsi keterangan dengan kata keterangan adjektif, sedangkan Saut menggunakan keterangan frasa numerelia.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989)

II. Jarak interteks sajak Saut dan Sapardi

Sudah tentu, dari perbedaan yang kelihatannya sederhana itulah (dari sudut pandang sintaksis) justru terbentang penjarakan interteks yang signifikan (secara hermeneutis) yang telah dibuat oleh Saut dari sajak “pendahulunya.”

Sebagai contoh, perbedaan penggunaan verba performatif dan non-performatif di atas memberikan pada kita gambaran posisi eksistensial antara “I” dan “Thou” yang berbeda yang coba dibuat oleh Saut dari sajak Sapardi. Yang mana ketika kita membaca sajak Sapardi kita akan menemukan satu posisi eksistensial dari sang “Aku” yang retoris, tetapi kita menemukan dari sajak Saut posisi eksistensial yang … ya performatif ( : telah rampung dalam hal). Tentu, gaya yang demikian punya kekuatan, kelebihan dan tujuannya masing-masing dalam proses komunikasi baik antara penyairnya dan pembacanya, atau minimal antara “I” dan “Thou” nya.

Contoh lainnya adalah ketika Saut menggunakan penggunaan numerelia dengan pilihan kata “seluruh”, ketimbang kata lainnya seperti “sebagian”, “sejumlah” atau yang secara matematis mirip dengan kata “sederhana” yang digunakan oleh Sapardi, misal “secuil” atau “sehelai Jembut”, seakan secara performatif Saut ingin menunjukkan satu jarak hermenuetis lainnya akan satu hal; Terkait cara sang “I” ketika ia memperlakukan “Thou” dalam konteks perjamuan tertentu. Atau secara bebas kita bisa membacanya sebagai ungkapan metaforis, bahkan politik dari Saut yang secara tak langsung hendak mengabarkan kepada publik sastra bahwa ia benar-benar berada di posisi yang bersebrangan dari Sapardi; sebuah ungkapan politik kesusastraan.

Jarak lain yang sebenarnya amat mencolok adalah dari segi watak stilistik keseluruhan dua sajak tersebut, pertama, yang mana jika kita menemukan sajak milik Sapardi telah ditulis dalam stilistika puisi lirik yang berima. Sajak “Aku ingin” milik Sapardi adalah sebuah sajak, yang bisa saja kita sikapi sebagai sajak perumpamaan; Mengungkapkan satu maksud dengan cara, mengambil kalimat-kalimat ilustratif dari kalimat-kalimat langsung yang seharusnya ia ungkapkan. Sedangkan sajak Saut justru memiliki watak ekspresifnya yang kuat dengan penggalan-penggalan frasa dan klausa yang lebih tegas, sebagaimana sajak-sajak Chairil yang begitu menonjol aspek enjambemennya.

Jika sajak “Aku ingin” Sapardi mengambil bentuk … tapi pada kesempatan tulisan ini agaknya penulis tidak ingin menjelaskan lebih panjang mengenai Sapardi.

Namun, menjadi catatan lebih jauh di sini ketika Sapardi dalam puisi “Aku ingin” terlihat hanya tengah mencoba menggambarkan akan satu hal melalui perumpamaan yang dibuatnya, tanpa terlihat akan adanya pretensi “Ide”, dalam sajak “Jembut”–setelah kita menganalisanya secara stilistik, dari situ justru Saut tengah mencoba menulis sesuatu yang benar-benar berbeda dari sajak (sekali lagi dalam tanda kutip) “pendahulunya” itu.

Dalam sajak Jembut, penulis mengalami pengalaman pembacaan di mana betapa kuatnya “Ide” yang coba dieksplorasi Saut ketimbang Sapardi. Pengalaman pembacaan demikian pernah penulis rasakan persis ketika membaca sajak Saut lainnya, “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan.”

III. Ide, penciptaan

Sampai pada mengganti promina “Ku” dan “Mu” dalam sajak Saut dengan kata “Tuhan” dan “Tuhan” (sic!), Narudin sebenarnya sudah betul dan patut kita acungi jempol. Namun bagaimana mendudukkan relasi antara sang “I” dan sang “Thou” tersebut, kita melihat betapa kesesatan Narudin memang amat begitu nyata dan tak tertolong; Ketika Narudin menganggap bahwa ungkapan Saut adalah ungkapan “hulul yang gagal”, dan ketika sekaligus secara bersamaan Narudin menganggap bahwa komposisi “Ku-Tuhan” dan “Mu-Tuhan” sebagai sebuah ungkapan kekacauan akal sehat, kita sebenarnya patut bertanya, mengapa Narudin punya asumsi dengan begitu yakin bahwa Saut tengah mencoba menulis tentang hulul? Padahal ia sendiri tidak membuktikan sama sekali asumsinya itu, barang satu paragraf!

Sedang dalam pengalaman membaca sajak Saut (terutama jika dibandingkan dengan sajak Saut Kecil Bicara dengan Tuhan), sajak Jembut tersebut jelas bukanlah sajak yang mengindikasikan secara verbal sebagai sajak yang tengah bicara mengenai rumpun paham “wahdatul wujud. Di sini justru penulis menemukan kembali satu Ide metaforik yang cukup unik dalam sajak Saut tersebut mengenai (meminjam istilah Heidegger) akan adanya satu Rede (pembicaraan gelap) yang terjadi dalam diri Tuhan ketika berlangsungnya satu peristiwa penciptaan.

sehelai jembut
bangkit dari sela kata dan puisi
tersesat dalam mimpi
tercampak dalam igauan birahi semalaman
dan menyapa lembut
dari mulut
antara langit langit dan gusi merah mudaMu
yang selalu tersenyum padaKu itu.

Dalam bait tersebut, di sana digambarkan betapa sebuah proses penciptaan terjadi dalam perantara kata dan puisi (perumpamaan yang sebenarnya sudah begitu dekat bagi mereka yang memang akrab dengan teks-teks agama monotheis). Peristiwa tersebut yang digambarkan terjadi dalam sebuah “mimpi” dan “igauan semalaman” sebagaimana kerap digambarkan oleh para filsuf muslim mengenai proses munculnya alam semesta dalam sebuah periode sebab kerja kreatif Tuhan ketika memikirkan mengenai dirinya sendiri; self mirroring. Satu proses pentakwilan lain ketika kita ingin mengejar lebih dalam mengapa digunakan term “langit-langit”, “gusi merah muda” yang “selalu tersenyum padaKu” agar tidak terjebak pada kesesatan sepertimana pernah dilakukan oleh kelompok Musyabbihah dan Mujassimah–sebagaimana di era (sejarah perkembangan islam) modern gemar dianut oleh berbagai kelompok neo-khawarij serta anak-anak ideologisnya, dan kini dipraktikkan oleh Narudin. Duh. Kasihan! Apalagi hingga ia membayangkan dalam benaknya akan adanya indikasi “oral seks” dalam sajak Saut!

“Bagaimana jembut bisa tersangkut di sela gigi Tuhan? Tentu ada proses jembut itu sampai di sana. Pakah itu semacam oral seks? Sampai jembut itu luruh dan tersangkut di sela gigi? …” Narudin Pituin

Menyedihkan sekali pengembaraan imajinasinya. Sekaligus memprihatinkan membaca kemampuan reflektifnya yang dangkal seperti itu.

IV. dan Soal Jembut Saut

Dan soal Jembut Saut, penulis ingin coba mengatakan justru bahwa melalui metafor Jembut yang digunakan oleh Saut inilah, kita bisa melihat bagimana rentang horizon pemahaman Saut itu demikian lebar dan signifikan pentingnya dalam konteks penciptaan puisi saat-saat ini. Mengapa? Paling tidak, pertama, melalui penggunaan kata Jembut inilah, ia kembali menegaskan bahwa ia memang konsisten tengah menempuh jalur sastra “liar”nya sebagai media perlawanan; kedua, ia menggunakan term yang, secara semiotik dekat dengan medan makna “perut dan selangkangan” dan segala nilai-nilai yang berhubungan dengannya, dalam setting wacana “filsafat ketuhanan”, dan mungkin yang paling penting bagi penulis adalah, ketika Saut pentempatkan Jembut sebagai terma yang justru menjadi sumber kegelisahan yang bisa jadi muncul dan “mengganggu” dari segala proses penciptaan (kali ini penulis hendak membebaskan pembaca apakah ingin menafsirkan kata penciptaan dalam sajak Jembut Satu secara teologis–filosofis, semiotis, maupun secara leksikal sebagai penciptaan puisi) yang pada hakikatnya adalah sebuah proses yang (mungkin untuk) transendental. Ini amat unik.

Ya, penulis mengatakan Ide seperti ini unik sebagaimana Ide yang pernah ia tuangkan dalam Saut Kecil Bicara Dengan Tuhan sebab keluar secara kreatif dari orang yang sebenarnya lebih dikenal sebagai penganjur filsafat kritis ketimbang isu-isu filsafat “tradisional”.

Taman Barito, 11:17 PM, Jakarta, 28 November, 2017. –selesai.
https://elpoesya.wordpress.com/2017/11/28/intertekstualitas-penciptaan-dan-soal-jembut-saut-situmorang/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *