BUKAN POLITIK SASTRA, TAPI KRISIS KEMANUSIAAN

Jones Gultom
Harian Analisa, 25 Sep 2011

Terlalu jauh tafsiran T. Agus Khaidir menanggapi polemik politik sastra yang digulirkan Yulhasni di ruang Rebana, Harian Analisa, beberapa minggu lalu. Meski membubuhkan tanda tanya dalam judul tulisannya, saya kira Agus Khaidir terjebak asumsinya sendiri. Politik sastra yang dimaksudkan Yulhasni, sebenarnya lebih kepada pernyataan retoris, jadi tak menentu arahnya. Mengait-ngaitkan konstelasi Lekra vs Manikebu dengan isu politik sastra, membuktikan dunia sastra kita (Medan) masih arogan. Continue reading “BUKAN POLITIK SASTRA, TAPI KRISIS KEMANUSIAAN”

SEJARAH LEKRA Vs MANIKEBU: HANYA INTERPRETASI TUNGGAL

Catatan buat Ikranagara

Aguk Irawan MN
duaduka.blogspot.com

Bung Ikra yang saya Hormati.
Bertanya pada ahli? Saya kira memang “solusi” yang benar, agar kita bisa menarik kesimpulan secara proposional. Tetapi pertanyaan saya adalah, siapa yang ahli dalam sejarah Kebudayaan kita, dan siapa yang bukan ahli? Pertanyaan ini entah kenapa dalam benak saya menjadi seperti “misterius”. Continue reading “SEJARAH LEKRA Vs MANIKEBU: HANYA INTERPRETASI TUNGGAL”

Kampus dan Tradisi Sastra di Bandung

Beni R. Budiman *
penganyamkata.net

Pertumbuhan sastra Indonesia, terutama setelah era 50-an, hampir tak bisa dilepaskan dari dunia kampus. Sungguhpun kampus tak memberi andil secara langsung dalam perkembangan sastra tersebut, tapi paling tidak ada beberapa hal yang membuat mengapa kesusastraan dan sastrawan lebih banyak hidup dalam kampus, antara lain: pertama, kampus yang sering disebut sebagai center of exelence telah memungkinkan munculnya penghargaan atas intelektualisme. Lebih jauh lagi dengan itu, kampus memungkinkan munculnya tradisi kritis yang erat hubungannya dengan tradisi literat. Atau meminjam istilah A Teeuw sebagai keberaksaraan. Continue reading “Kampus dan Tradisi Sastra di Bandung”

Bahasa ยป