Sastrawan dan Profesionalismenya

Budiawan Dwi Santoso *
Bali Post, 17 Feb 2013

“PROFESIONALISME sastra apa yang ada dalam benak Anda?” itulah yang ditanyakan seorang pewawancara kepada Marriane Moore, penyair wanita berkebangsaan Amerika.

Marriane Moore pun secara eksplisit menjawab bahwa keprofesionalan seorang sastrawan, yakni ditandai dengan menghabiskan seluruh waktunya untuk menulis. Paparan tersebut sebuah representasi yang menegaskan bahwa menulislah yang menjadi tolok ukur bagi sastrawan, apakah dia dapat ditahbiskan sebagai sastrawan yang profesional atau tidak. Continue reading “Sastrawan dan Profesionalismenya”

Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan

Bandung Mawardi *
Bali Post, 5 Mei 2013

SEJARAH Indonesia dalam pengertian negara telah melimpah. Pembacaan untuk mengenangkan atau mengimpikan Indonesia menjadi kelumrahan karena zaman modern menghendaki kesadaran negara tumbuh sebagai takdir perubahan. Penjelmaan negara itu diresmikan dengan paket nasionalisme saat masa kolonialisme. R E Elson (2009) dalam The Idea of Indonesia pun mengisahkan Indonesia dalam utopia negara dan mengabsenkan bahasa. Continue reading “Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan”

Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa

David ZA *
Bali Post, 12 Mei 2013

MENYIKAPI tulisan saudara Arif Bagus Prasetyo (Bali Post, 17 Maret 2013) nampak bahwa kecenderungan saudara Arif Bagus Parsetyo akan kesangsian dari sastra untuk pembangunan karakter bangsa. Terlebih ketika di paragraf akhir ketika saudara Arif Bagus menulis “Saya sulit membayangkan sastra dapat dimanfaatkan perannya secara sehat dan wajar dalam proyek pembangunan karakter bangsa. Ada banyak masalah di sana. Jika sastra terus menerus memulihkan kesadaran saya, bagi saya itu sudah lebih dari cukup”. Continue reading “Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa”

Bahasa »