Sastrawan dan Profesionalismenya

Budiawan Dwi Santoso *
Bali Post, 17 Feb 2013

“PROFESIONALISME sastra apa yang ada dalam benak Anda?” itulah yang ditanyakan seorang pewawancara kepada Marriane Moore, penyair wanita berkebangsaan Amerika.

Marriane Moore pun secara eksplisit menjawab bahwa keprofesionalan seorang sastrawan, yakni ditandai dengan menghabiskan seluruh waktunya untuk menulis. Paparan tersebut sebuah representasi yang menegaskan bahwa menulislah yang menjadi tolok ukur bagi sastrawan, apakah dia dapat ditahbiskan sebagai sastrawan yang profesional atau tidak.

Kata ‘menulis’ merupakan pertaruhan hidup-mati bagi keeksistensian sastrawan. Eksistensi sastrawan dapat dikatakan ‘hidup’ karena menulis. Begitu sebaliknya, keeksistensian sastrawan dapat dikatakan ‘mati’, juga karena faktor menulis. Inilah yang menjadikan aktivitas menulis begitu vital dalam kehidupannya.

Menulis menjadi jaminan eksisnya sastrawan. Dalam asumsi sederhana ini dapat dikatakan bahwa eksisnya sastrawan berarti tergantung keeksisan karyanya. Merujuk keproduktifan menulis bagi sastrawan, maka secara tidak langsung berhubungan dengan waktu yang dipakai dalam menulis.

Hal itu juga telah diungkapkan Moore, bahwa keprofesionalan sastrawan dipengaruhi oleh waktu. Waktu, merupakan kesempatan bagi seorang sastrawan untuk dapat berkarya atau menulis. ‘Waktu’ merupakan suatu kesempatan yang dimiliki sastrawan untuk menabung pengalaman-pengalaman menulis demi menuju keprofesionalannya.

Di masa sekarang, telah banyak diterbitkan buku-buku yang berisi tentang sastrawan dalam menggapai keprofesionalannya. Tentunya dalam buku-buku itu menyajikan juga tentang waktu yang digunakan para sastrawan untuk berkarya, seperti halnya berikut ini.

Katherine Anne Porter, seorang sastrawan perempuan dari Texas, Amerika Serikat. Keprofesionalan dia dalam berkarya tidak diragukan. Hal ini dibuktikan dengan mendapatkan penghargaan dan memenangkan Pulitzer Prize dan National Book Award sekitar tahun 50-an. Dalam keseharian, dia menulis karyanya tiap hari, dimana saja dan dimulai dari pukul tiga sampai pukul lima pagi.

Kemudian, Simone de Beauvoir, sastrawan perempuan dari Perancis. Sastrawan terkenal ini merupakan salah satu teman dari Jean Paul Sartre. Dalam kesehariannya, dia dikatakan orang-orang yang memiliki disiplin diri yang tinggi dalam hal menulis. Hal itu dapat dibuktikan melalui pengakuan de Beauvoir, bahwa dia selalu merasa tergesa-gesa untuk terus menulis. Mulai pukul sepuluh sampai pukul satu siang, dia mulai menulis. Kemudian dia melanjutkan lagi, pada pukul lima sampai pukul sembilan. Sedangkan, waktu luangnya digunakan untuk membaca, berkunjung ke rumah teman, dan pergi berbelanja. Dia melakukan kegiatan menulis disertai rasa senang.

Setelah itu, masih ada salah satu contoh sastrawan lagi yang berasal dari luar negeri, yakni Tom Clancy. Tom Clancy dalam menulis, terutama novel, menargetkan 10 halaman per hari. Dia mulai menulis juga dari subuh. Dalam jedanya, dia gunakan waktunya untuk istirahat, makan, menghibur diri, dan tentunya membaca. Disiplin waktu yang diterapkan oleh beberapa sastrawan dari luar negeri itu merupakan sebuah representasi kecil untuk melegimitasi keprofesionalan mereka.

Sastrawan

Pemahaman sastrawan luar negeri, bahwa disiplin waktu mempengaruhi keprofesionalannya, juga dianut pula oleh sastrawan dari negeri kita ini. Dewi Lestari, sastrawan kelahiran tahun 1976 ini merupakan contoh yang menganut paham tersebut. Dewi Lestari atau “Dee” merupakan sastrawan yang cukup produktif dalam berkarya. Dalam pengakuannya, dia sehari penuh berada di rumah. Waktunya digunakan untuk membaca buku dan mengetik. Berbulan-bulan ia tidur tak teratur. Tidur jam delapan pagi, bangun jam dua siang, lalu menulis lagi sampai pagi. Waktu efektif bagi Dee untuk menulis, yakni pada pukul sepuluh malam hingga jam enam pagi. Dengan perjuangannya itu, dia dapat memperoleh penghargaan-penghargaan. Dee pernah menjuarai lomba menulis cerpen di majalah Gadis, dengan judul “Ekspresi”. Selain itu, dia juga masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2003. Pada tahun yang sama pula, Dee meraih A Playful Mind Award (Latifah, 2007: 36).

Selain itu, masih ada satu sastrawan yang berasal dari Indonesia, yakni, Kuntowijoyo. Sastrawan satu ini pernah berhasil mendapatkan Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa di tahun 1994. Kuntowijoyo juga pernah mendapatkan penghargaan dari Kompas tentang cerpen yang dibuatnya. Kuntowijoyo juga ditetapkan sebagai satu di antara tiga pemenang Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara.

Latifah (2007) mengimbuhkan bahwa dalam kesehariannya, Kuntowijoyo melakukan aktivitas menulisnya secara rutin. Ia sudah terbiasa bangun dari jam 03.30 sampai waktu subuh. Waktu tersebut, selain digunakan untuk sembahyang, digunakan untuk kegiatan menulis. Kadang, setelah salat subuh, ia tak menulis melainkan melakukan jalan pagi sepanjang lima kilometer. Setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya menulis sampai siang hari. Saat siang menjelang, ia tidur hingga sore. Setelah sore, ia pun kembali menulis sampai tengah malam tiba. Itu dilakukan secara konsisten.

Semua itu dapat dijadikan sebagai catatan kecil bahwa keprofesionalan sastrawan selalu tidak terlepas dengan waktu yang mereka gunakan. Selanjutnya, disiplin diri terhadap waktu menulislah yang dapat memberikan suatu karya sastra memiliki vitalitas, realitas, dan substansi.

*) Budiawan Dwi Santoso, Penyair dan esais
Dijumput dari: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=18&id=73986