Mengenang Penyair Afrizal

Ribut Wijoto

Sulit dipungkiri, perayaan eksplorasi bahasa puitik pada dekade 1990-an terimbas dari puisi-puisi Afrizal Malna. Selagi para penyair sibuk dengan puisi religius, puisi terlibat (baca: sastra kontekstual), puisi imaji-simbolis, atau puisi kontemplatif; Afrizal mencuat dengan puisi hiperealis. Sebuah puisi yang simpang siur dengan ikon-ikon teknologi, budaya massa, pop, juga kebiasaan masyarakat menghabiskan waktu di super market. Continue reading “Mengenang Penyair Afrizal”

Leopardi

Hasif Amini
Kompas, 07 Mei 2006

TUBUHNYA yang ringkih dan sakit-sakitan sejak kecil membuat ia jauh dari pergaulan orang ramai. Wajah yang buruk (atau tak sebagus yang tampak dalam sejumlah lukisan potretnya) dan rasa percaya diri yang tipis rupanya membuat riwayat hatinya sering ditoreh kegundahan. Ia pun lebih banyak menenggelamkan diri ke dalam lautan buku di perpustakaan milik ayahnya—seorang bangsawan cendekia di kota kecil Recanati, Italia, yang tak cakap mengelola kekayaan keluarga dan telah menyerahkan semua urusan pencaharian kepada sang istri. Continue reading “Leopardi”

Novel telah Mendoktorkan Aprinus Salam

Kuss Indarto

SEPULUH buah novel telah mengantarkan Aprinus Salam meraih gelar doktor. Ya, ada novel-novel karya sastrawan asal Jatilawang, Banyumas, Ahmad Tohari yang jadi bahan rujukan utama, yakni Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera Bianglala, Trilogi Dukuh Paruk, dan Bekisar Merah. Lalu dua novel sejarawan Kuntowijoyo: Pasar dan Mantra Pejinak Ular, Canting-nya Arswendo Atmowiloto, dan novel karya Umar Kayam: Para Priyayi, dan Jalan Menikung (Para Priyayi 2). Continue reading “Novel telah Mendoktorkan Aprinus Salam”

Haruskah “Menunggu Godot”

Sebuah Catatan tentang Geliat Teater Riau
Fedli Azis

Home

Ada pernyataan menarik di kalangan pelaku seni pertunjukan, “semakin miskin senimannya semakin kreatif-lah ia”. Pernyataan ini cukup populer, terutama bagi pelaku seni teater akibat sulitnya mendapatkan sponsor, baik pemerintah maupun pihak swasta. Bahkan seniman teater Riau, sambil bersoloroh mengatakan, ”bagi seniman, mengharapkan sponsor sama dengan Menunggu Godot”. Continue reading “Haruskah “Menunggu Godot””

Bahasa »