PENGAJARAN SASTRA DAN POLITIK KEBUDAYAAN

Aprinus Salam [1]

Abstrak

Buku-buku pengajaran (pelajaran) sastra (SMP dan SMA) menghadapi masalah serius, yakni ketika kurikulumnya tidak memiliki paradigma dan basis politik kebudayaan yang cukup jelas. Materinya bahkan terlihat sangat subjektif berdasarkan selera pengarang dan masih berkutat pada persoalan teknis yang menyebabkan sastra seolah berupa hapalan struktural dan kognitif. Hal itu menyebabkan asumsi lama bahwa sastra merupakan persoalan “seni estetis” yang tidak berhubungan dengan realitas kehidupan masih cukup dominan. Continue reading “PENGAJARAN SASTRA DAN POLITIK KEBUDAYAAN”

Parfum

Sunlie Thomas Alexander
Koran Tempo, 18 Maret 2012

RASANYA ia berharap waktu membeku di dalam tenda kecil yang sedikit gerah itu. Sekali saja, agar ia bisa menikmati aroma parfum itu sepuas-puasnya.

Tidak. Kamu sama sekali bukanlah orang yang suka memakai parfum. Kecuali sesekali. Itu pun cuma parfum murahan yang kamu semprotkan sekenanya pada selembar kaos atau kemeja yang sudah tergantung berhari-hari di balik pintu kamar. Continue reading “Parfum”

Superhero

Muhammad Azka Fahriza
Jawa Pos, 18 Maret 2012

DI suatu pagi pada hari, bulan, dan tahun yang tak perlu kusebutkan. Ketika pagi masih perawan dan mentari belum kelihatan sekalipun langit tiada berawan. Aku bertemu dengannya di sebuah perempatan jalan yang salah satu ujungnya mengarah ke salah satu universitas terbesar di kota ini—tak sampai satu kilometer. Pertemuan yang mengejutkan sekaligus menarik perhatianku. Karena, aku melihatnya dalam gerak-gerik dan dandanan yang begitu ganjil; serupa martir anak-anak dalam perang-perang kemerdekaan. Continue reading “Superhero”

Lengtu Lengmua

Triyanto Triwikromo
Kompas, 18 Maret 2012

TEPAT tengah malam celeng-celeng yang telah kerasukan ratusan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan mereka untuk mendengarkan lagi keributan bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau…. Continue reading “Lengtu Lengmua”

Ranjang Sukar

A.G. Pramono
Jawa Pos, 25 Maret 2012

DI tengah-tengah masyarakat sedang membutuhkannya, Sukar malah memilih tidur di pos kamling. Kebiasaannya tidur di pos kamling mulai sering dilakukan sejak pisah ranjang dengan istrinya. Istrinya tak kuat lagi dengan prinsip hidupnya. Kebiasaannya banyak membantu masyarakat kecil dan miskin sampai ke pelosok desa ternyata tidak sejalan dengan pola pikir istrinya. Continue reading “Ranjang Sukar”

Bahasa »