Acep Zamzam Noor Raih Hadiah Rancage 2012

Kurniawan
tempo.co

Kumpulan sajak Paguneman karya Acep Zamzam Noor yang diterbitkan Terbitan Nuansa Cendekia Bandung terpilih sebagai karya yang pantas mendapat Hadiah Sastra Rancage 2012 untuk bahasa Sunda dan berhak mendapat piagam dan uang Rp 5 juta. Demikian keputusan yang disiarkan Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, pada Selasa, 31 Januari 2012. Continue reading “Acep Zamzam Noor Raih Hadiah Rancage 2012”

Jaro X Yus, Seniman Teater Ciamis yang Bertahan

Kikin Kuswandi
kabar-priangan.com

Dalam geliat berkesenian di Ciamis, Teater masih mendapat hati di masyarakatnya. Karena kesenian ini merangkul semua bidang seni, mulai dari musik, drama, sastra, fashion, dan lainnya.

Banyak karya telah dipentaskan di berbagai tempat, kampus, dan sekolah, yang mengundang kekaguman para apresiatornya. Namun demikian sedikit kiranya seniman teater Ciamis yang masih bertahan dalam berkarya. Sebut saja nama-nama ini: Godi Suwarna, Nur J.M, Didon Nurdani, dan Jaro X. Yus. Continue reading “Jaro X Yus, Seniman Teater Ciamis yang Bertahan”

Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden?

(bagian XIX kupasan kelima dari paragraf tiga dan empat)
Nurel Javissyarqi

Bismillahi-rahmani-rahim…
“Dunia pelajaran, ilmu pengetahuan, tidak mengenal perbedaan golongan-golongan tinggi-rendah, atau kaya-miskin.” (Confucius)

Bagian ini dan seterusnya, dapat dibilang mengalami pergeseran besar-besaran dari bebagian lalu. Meski tetap mendedah paragraf IK, namun porsinya hanya sampiran. Continue reading “Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden?”

Saat Nabi Darurat Muncul

Nofanolo Zagoto
Sinar Harapan, 10 Maret 2012

RUWAT Sengkolo (Joko Kamto) keluar dari kurungan putih. Ia tampil nyentrik, mengenakan ikat kepala, kacamata, seabrek kalung di lehernya, serta membawa terompet. Tiap langkah membunyikan lonceng-lonceng kecil di kakinya.

Tetapi lantaran gurunya, Ki Janggan (Bambang Susiawan) datang, bertelutlah ia di lantai panggung. “Otakku buntu, yang begini ini bukan manusia…bukan negara…yang begini ini bukan agama, bukan guru,” begitu katanya dengan wajah tertunduk. Continue reading “Saat Nabi Darurat Muncul”

Sumpah Menulis!

: Aku telah, tetap, dan akan terus menjadi pengarang! (Pramoedya Ananta Toer)
Arif Saifudin Yudistira *
lampungpost.com

Sumpah adalah pernyataan dan hakikat pergumulan tekad, perwujudan hasrat hingga pada kebulatan niat untuk melakukan sesuatu. Sumpah adalah konsekuensi dan menuntut tanggung jawab para pengucap sumpah. Dalam kehidupan kita sumpah erat dan intim dengan persoalan religiositas manusia yang berhadapan dengan Tuhannya. Sumpah sebagai tanda perwujudan kepasrahan sekaligus tantangan manusia menjadi manusia tangguh. Dengan sumpah itu pula manusia menghilangkan dirinya dan meleburkan dirinya kepada tekad, usaha hingga keputusan Tuhan. Continue reading “Sumpah Menulis!”

Bahasa »