Abdurrahman Wahid: Ketegaran Pluralisme Akar Rumput

Mohammad Bakir, M Zaid Wahyudi
Kompas, 23 Mei 2008

BAGI sebagian kalangan, kiprah tokoh Nahdlatul Ulama ini sering kali mengundang kontroversi, bahkan rasa tidak simpatik. Namun, di kalangan umatnya warga nahdliyyin, kelompok minoritas, dan mereka yang gigih mendorong pluralisme, Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur ini adalah simbol kebebasan dan kesetaraan. Continue reading “Abdurrahman Wahid: Ketegaran Pluralisme Akar Rumput”

Antara Sejarah dan Nilai Sakral

Her Suganda*
Kompas, 24 Mei 2008

MASYARAKAT Sunda sudah lama menghadapi persoalan dengan sejarahnya. Di satu pihak mereka menginginkan keberadaan sejarah masa lalunya diakui sebagaimana halnya daerah-daerah lain.

Namun, di sisi lain perjalanan ruang dan waktu sejarah kebudayaan masyarakat Sunda kuno masih banyak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dua kerajaan besar yang pernah terdapat di wilayah ini, yakni Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Sunda Pajajaran, tidak banyak meninggalkan jejak budaya. Continue reading “Antara Sejarah dan Nilai Sakral”

100 Tahun Kebangkitan Nasional: Menemukan Kembali Boedi Oetomo

Daniel Dhakidae *
Kompas, 26 Mei 2008

APA pun bisa diberikan kepada, dan dikatakan tentang, nasionalisme kecuali suatu tanggal lahir. Nasionalisme tidak pernah lahir, tetapi ”menjadi”. Nasionalisme adalah proses panjang hasil dialektika antara ruang, waktu, dan kelompok sosial dan politik yang mengolahnya. Kalaupun ada urusannya dengan ”kelahiran”, nasionalisme selalu berada dalam ”proses lahir”, semper in statu nascendi. Continue reading “100 Tahun Kebangkitan Nasional: Menemukan Kembali Boedi Oetomo”

“Zero” Teater Mandiri

Rachman Sabur*
Pikiran Rakyat, 31 Mei 2008

UNTUK kesekian kalinya Putu Wijaya diundang ke mancanegara untuk menampilkan hasil proses kreatif teaternya. Teater Mandiri, teater modern Indonesia.

Selama ini Putu Wijaya tetap konsisten membawakan teks teaternya sendiri yang idenya bermuara dari latar belakang dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia. Continue reading ““Zero” Teater Mandiri”

Bahasa »