Mengenang Eskoda

Olanama *
http://olanama.blogspot.com/

Tak ada yang ingat persis, kapan ia melenceng dari jalan dan membentur pagar tembok di jalan Eltari. Isi kepalanya terburai. Rekan-rekannya di Flores Pos, harus membolak-balik koran lama, untuk mengingat tanggal kematiannya. Dia hanyalah lelaki dekil yang tidak sempat menikah. Hidup di kamar darurat. Merokok. Melukis. Sesudah itu mati. Dan tentang kematian, ia menulis: Continue reading “Mengenang Eskoda”

Mimpi-mimpi

Jakob Sumardjo *
Kompas, 09/14/2003

Inilah pengakuan dosa paling aneh yang dialami Romo Wijoyo selama hidupnya.

Pada Suatu hari Sabtu sore, seperti biasa, Romo Wijoyo telah menunggu para pengaku dosa pengakuan. Di depan masih sepi. Baru ada sekitar sepuluh orang yang duduk atau berlutut di bangku-bangku gereja. Suasana gereja amat sunyi. Tidak lama kemudian pintu kamar pengakuan dibuka orang, dan seorang lelaki muda masuk ruangan itu. Continue reading “Mimpi-mimpi”

Kerohaniaan Masyarakat Indonesia Pada Zaman Pra Sejarah

Zaenal Abidin
http://www.kompasiana.com/zaenalabidin

Seperti yang diketahui oleh banyak orang, masyarakat Indonesia di jaman pra sejarah adalah masyarakat yang masih primitive dan kerpercayaan atau kerohanian masyarakat nusantara masih sangat mistis, doktrin dan pengetahuan seperti ini tumbuh dan mengakar kuat di kalangan anak bangsa. Para ahli sejarah umumnya berpendapat bahwa Asia Tenggara dalam hal ini Indonesia adalah kawasan ‘pinggir’ dalam sejarah peradaban manusia. Continue reading “Kerohaniaan Masyarakat Indonesia Pada Zaman Pra Sejarah”

Totalitas pada Proses Kreatif

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

POPO Iskandar bukanlah sekadar aset Bandung atau Jawa Barat. Ia adalah aset Indonesia. Popo Iskandar bukan hanya pelukis besar, tetapi juga figur penting yang pergumulannya dalam perubahan budaya negeri ini mengandung kedalaman dan bersifat paradig-matik. Tidak banyak pelukis yang selain produktif melahirkan adikarya, mampu pula mengartikulasikan renungan-renungan intelektualnya secara verbal dan tajam. Mestinya, menghormati Popo Iskandar memang tidak cukup hanya dengan mengoleksi luk-isan-lukisannya. Diperlukan pula kajian yang lebih mendalam atas khazanah pemikiran dan pergumulan kultural-nya. Continue reading “Totalitas pada Proses Kreatif”

Bahasa »