Monolog: Energi Putu Wijaya

Ilham Khoiri
Kompas, 01 Juli 2007

DALAM usia 64 tahun, gelora Putu Wijaya seperti tak habis-habisnya. Pentas Seratus Menit—yang ternyata molor hingga lebih dari 140 menit—di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu dan Kamis (27-28/6) malam, menjadi ajang pemendaran energinya.

Monolog itu tampil kuat sebagai karya baru yang lebih “provokatif”, yang menerabas kungkungan teks cerita. Continue reading “Monolog: Energi Putu Wijaya”

Hujan Bulan Juni

Adi Marsiela
Suara Pembaruan, 3 Juli 2007

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu- ragu di jalan itu.

Penggalan musikalisasi puisi Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang dinyanyikan Dua Ibu (Reda dan Tatyana) terdengar sayup-sayup di amphitheater Selasar Sunaryo Art Space, Continue reading “Hujan Bulan Juni”

Novelis “Pemberontak” yang Cinta Tanah Leluhur

Elly Burhaini Faizal
Suara Pembaruan, 24 Juli 2007

SUNGGUH, malang nian nasib manusia Indonesia! Sebagai manusia, ia nilainya nol di mata manusia Indonesia yang lain. Manusia Indonesia tidak berharga, kecuali jika ia punya definisi hubungan dengan sesama manusia Indonesia yang lain atau masyarakat secara lebih luas. Ismet Fanany, sastrawan asal ranah Minang yang kini bermukim di Australia, barangkali satu dari segelintir orang yang sadar betapa rendahnya nilai manusia Indonesia. Keprihatinan itulah yang tertuang pada Bulan Susut, novel terbaru Ismet yang diterbitkan belum lama ini. Continue reading “Novelis “Pemberontak” yang Cinta Tanah Leluhur”

Bahasa »