Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi

Putu Fajar Arcana, Aryo Wisanggeni G
Kompas, 24 April 2011

PANGGUNG berupa balkon yang dibangun dari kayu, cerobong asap, dan sebuah sel sempit dilumuri warna merah. Seseorang berlari lalu mengibaskan bendera di ketinggian. Musik yang juga sayup-sayup berasa merah mengalir….

Itulah adegan pembuka Tan Malaka, Opera 3 Babak yang dipentaskan Sabtu (23/4) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Opera karya Goenawan Mohamad dalam rangka 40 tahun majalah berita mingguan Tempo, itu akan dipentaskan kembali Minggu (24/4) malam. Continue reading “Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi”

Selamat Datang, Jurnal Sajak!

Jay Am
Seputar Indonesia, 8 Mei 2011

PADA sebuah siang yang hangat di awal Mei ini,perhelatan sederhana dilangsungkan di tempat yang sederhana: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin,Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di perpustakaan penting yang tengah mendapat sorotan lantaran mau ditutup karena pemerintah daerah tidak lagi menganggarkan dana pantas untuk pengelolaannya ini,Jurnal Sajakdan Jurnal Kritikdikenalkan kepada publik luas—istilah teknisnya diluncurkan atau launched dalam Inggris. Continue reading “Selamat Datang, Jurnal Sajak!”

Revitalisasi Hukum Adat, Mungkinkah?

Wahyu Sasongko *
Lampung Post, 14 Okt 2006

Hukum Adat dalam Tebaran Pemikiran. Penulis: H. Rizani Puspawidjaja, S.H. Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2006. 175 halaman

MESKIPUN Indonesia telah merdeka, masih terasa belum sungguh-sungguh merdeka. Setidaknya, dalam bidang hukum. Betapa tidak, sebagai negara merdeka, Indonesia seharusnya memiliki sistem dan tata hukum nasional yang berwatak kebangsaan. Continue reading “Revitalisasi Hukum Adat, Mungkinkah?”

Selamat Jalan Sastrawan Sunda!

Budi Setiyono*
Pikiran Rakyat, 10 Maret 2007

BELUM genap 40 hari berjalan. Timbunan tanah di pemakaman masih juga belum kering; menyisakan bunga-bunga bertaburan, juga karangan bunga dari “seorang lawan” Goenawan Mohamad.

Belum ada “rumah” permanen bagi yang pergi, juga papan nama. Masih ada sisa duka dan kesedihan, serta kenangan yang memang tak sepenuhnya utuh. Sastrawan itu, A.S. Dharta sudah berpulang sejak 7 Februari 2007, sekitar pukul 05.30 di rumahnya di Cibeber, Cianjur, setelah dua minggu terbaring karena sakit paru-paru dan komplikasi jantung. Dia dimakamkan di pemakaman keluarga, tak jauh dari rumahnya. Continue reading “Selamat Jalan Sastrawan Sunda!”

In memoriam, Ratna Indraswari Ibrahim

Yesi Devisa*

Ketika masih duduk di bangku sekolah, baik sekolah dasar hingga sekolah menengah, belum saya temukan nama pengarang asal malang tersebut. Saya baru diperkenalkan dengan tulisannya ketika Saya duduk di bangku kuliah. Tepatnya pada semester 4. Saya bertanya pada teman, apa mereka pernah membaca karya Ratna Indraswari sebelumnya? Jawaban mereka senada dengan Saya. Belum. Seiring berjalannya waktu hingga saat ini, baru saya sadari bahwa betapa pengarang yang begitu gigih menyuarakan kaumnya itu masih tidak dikenali oleh generasi muda. Continue reading “In memoriam, Ratna Indraswari Ibrahim”

Bahasa »