Heboh Karya Sastra Terbaik

Benny Benke
suaramerdeka.com

GOENAWAN Mohamad, usai menghadiri peluncuran buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 dan 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 di toko buku Gramedia, Mataram, Jakarta, Rabu (5/3), mengatakan, “Kini telah muncul dua buku yang memudahkan orang mendapatkan karya sastra terbaik Indonesia.”

Dengan alasan berbeda, kritikus Radhar Panca Dahana dalam diskusi buku yang dipersembahkan Anugerah Sastra Pena Kencana dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama itu berkata senada. Continue reading “Heboh Karya Sastra Terbaik”

Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca

F Dewi Ria Utari
http://majalah.tempointeraktif.com/

Chicklit dan teenlit adalah cerita tentang keajaiban di pasar buku. Tentang sebuah novel dengan judul berbahasa Inggris, Nothing But Love?diindonesiakan menjadi Semata Cinta?yang meledak. Novel yang langsung ludes dalam dua minggu setelah dicetak 3000 eksemplar.

Itulah yang terjadi pada Juli 2004. Penyair Sitok Srengenge, pendiri penerbitan KataKita, tertegun, lebih-lebih penulis novel itu adalah putrinya sendiri. Namun, sukses Nothing But Love memantapkan hatinya untuk menerbitkan buku selanjutnya. Teenlit kedua berjudul Conchita, Pembajak Cinta. Bukan karya Laire, putri tunggalnya. Continue reading “Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca”

Kepengurusan Kebudayaan

Nunus Supardi
suaramerdeka.com

Tidak tepat jika lembaga kebudayaan di pemerintahan diusulkan untuk dihapus. Juga tidak tepat apabila keberadaan lembaga kebudayaan di masyarakat dibiarkan atau malahan dimusuhi. Lembaga ini diperlukan karena menjadi wadah aktivitas pemilik kebudayaan. Lembaga itu menjadi kantong yang potensial dan sumber kekuatan dalam memajukan kebudayaan bangsa. Lembaga semi pemerintah juga perlu dipertahankan keberadaannya karena tidak semua lembaga kebudayaan memiliki kemampuan untuk mandiri. Continue reading “Kepengurusan Kebudayaan”

Membicarakan Plus Minus Pramoedya

(Pramoedya Ananta Toer, Perahu yang Setia dalam Badai)
Arwan Tuti Artha
http://www.kr.co.id/

BUKU ini rasanya tidak terlalu istimewa, jika hanya membicarakan soal Pramoedya Ananta Toer. Apalagi, isinya berbagai kumpulan tulisan yang sebelumnya sudah dimuat media massa dan nyaris tak ada yang baru. Judulnya pun tidak simpel. Panjang dan penuh penjelasan. Pram misalnya diibaratkan sebagai perahu yang setia dalam badai. Toh, masih harus dijelaskan lagi sebagai serba-serbi tentang Pram. Tetapi, sebagai buku referensi yang membicarakan plus dan minusnya Pram, tak bisa dianggap enteng upaya yang dilakukan Penerbit Bukulaela ini. Continue reading “Membicarakan Plus Minus Pramoedya”

Bahasa ยป