Tujuh Sastrawan Sumut ke TSI III Tanjungpinang

http://www.hariansumutpos.com/

Sebanyak 200 sastrawan Indonesia dari berbagai daerah akan berkumpul di Kota Tanjungpinang dalam acara Temu Sastra Indonesia (TSI) Ke-III 2010 untuk mengikuti seminar Sastra Indonesia Mutakhir, 6-10 Oktober mendatang.

Dari Medan atau Sumatera Utara, panitia mengundang tujuh sastrawan untuk mengikuti perhelatan akbar tersebut. Mereka adalah Idris Pasaribu, Thompson HS, Hasan Al Banna, Suyadi San, M Raudah Jambak, Panda MT Siallagan, dan Zulkarnain Siregar. Continue reading “Tujuh Sastrawan Sumut ke TSI III Tanjungpinang”

Temu Sastrawan Bahas Sastra Indonesia Mutakhir

Yurnaldi
http://oase.kompas.com/

Ratusan sastrawan Indonesia, Kamis sampai Minggu (28-31/10/2010) di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, membahas sastra mutakhir Indonesia dalam acara bertajuk Temu Sastrawan Indonesia III.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang selaku Kurator dan Panitia Pelaksana, Abdul Kadir Ibrahim mengatakan, selain ceramah umum dan seminar, juga digelar malam apresiasi pentas sas tra, forum dan bazar buku, penerbitan buku antologi sastra, bengkel sastra, dan wisata budaya. Continue reading “Temu Sastrawan Bahas Sastra Indonesia Mutakhir”

Pengantar PuJa: Wanita Yang Kencing Di Semak :)

(Kumpulan Esay & Puisi H.U. Mardiluhung, terbitan PUstaka puJAngga, Cetakan ke II, 2006)
Nurel Javissyarqi *

Ketika realitas masuk dalam angan ke depan (harapan), lalu terjadilah pergumulan, lantas kabut mitos menyempurnakan gagasan awal, saat bergerak maju terlahirlah puisi. Puisi, salah satu cabang ilmu pengetahuan, sebab ia memiliki logika, meski tersendiri. Ia lebih sempurna daripada ilmu lain, lantaran di kedalamannya bersimpan logika rasa, itulah sebagian jalan terciptanya puisi, meski juga bisa berbalik arah. Continue reading “Pengantar PuJa: Wanita Yang Kencing Di Semak :)”

Seabad Bung Hatta

Sabam Siagian
http://www.balipost.co.id/

Amat mencolok pada periode kepemimpinan Habibie betapa uang menjadi instrumen politik yang aktif. Ternyata ”mumpung-isme” sebagai penyakit sosial terus menjalar ke tahap pemerintahan Abdurrahman Wahid. Mungkin caranya tidak secanggih seperti yang diterapkan pada tahap kepresidenan Habibie, tapi dalil ”memanfaatkan kesempatan” masih tetap berlaku. Skarang ini, pada tahap kepemimpinan Megawati – Hamzah Haz sulit dikatakan bahwa ”mumpungisme” menciut. Sebaliknya, tambah dekat kita ke pemilu 2004 akan tambah ganas nafsu mengumpulkan dana. Continue reading “Seabad Bung Hatta”

Bahasa ยป