Komunitas Pawon Berupaya Memasyarakatkan Sastra

Rani Setianingrum

Home

Apakah yang akan terpikirkan di benak Anda jika mendengar kata pawon? Dalam bahasa Jawa, pawon memiliki arti dapur. Dan umumnya pawon dimiliki warga yang tinggal di pedesaan. Namun, kebanyakan rumah zaman sekarang jarang yang memiliki pawon karena rumah sekarang sudah ngetren bergaya minimalis.

Namun, Pawon di sini memang memiliki fungsi yang sama dengan pawon pada rumah zaman dahulu, yakni untuk mengolah ataupun menghasilkan sesuatu. ?Kami memberikan nama komunitas sastra Pawon karena memang saya melihat fungsi pawon itu sendiri,? ungkap Bandung Mawardi, salah satu pendiri Pawon kepada Joglosemar ketika ditemui TBS, Kamis (29/4). Continue reading “Komunitas Pawon Berupaya Memasyarakatkan Sastra”

Semsar Siahaan Kembali dari Pengasingan

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Suatu siang, bertahun-tahun lalu, sebuah mural karya Semsar Siahaan di tembok Teater Arena, Taman Ismail Marzuki, diruntuhkan. Lukisan dinding yang dibuat tanpa izin ini hilang bersama bangunan fisik Teater.

Semsar Siahaan adalah salah satu nama seniman yang selalu berontak atas tindakan represif penguasa di masa itu. Ia mengekspresikan sikapnya itu lewat karya-karya poster, ilustrasi, dan lukisan-lukisannya. Karya mural di tembok Teater Arena pada masa itu pun melukiskan kejengahannya pada militer yang berkuasa. Ia menggambar seorang aparat?tampak belakang?lengkap dengan sepatu lars dan seragam loreng. Continue reading “Semsar Siahaan Kembali dari Pengasingan”

Ketika Buku Sastra Diseling Lagu Pop Bali

Nuryana Asmaudi SA
http://www.balipost.co.id/

Bagaimana jadinya jika acara peluncuran sejumlah buku sastra diseling dengan peluncuran kaset rekaman lagu? Yang jelas, tentu jadi menarik, segar, dan menghibur. Inilah yang terjadi pada acara “peluncuran bersama” sejumlah buku karya sastra yakni “Obituari bagi yang tak Mati” (10 Cerpen Terbaik Bali Post 2001) terbitan Bali Post, “Ning Brahman” (kumpulan puisi berbahasa Bali) karya Nyoman Tusthi Eddy terbitan Balai Bahasa Denpasar, dan “Manik” (kumpulan Puisi Pemenang Lomba Cipta Puisi Anak-Anak se-Bali 2001) terbitan Balai Bahasa Denpasar dan tabloid Lintang, serta kaset rekaman lagu-lagu pop Bali bertajuk “Bunga Setaman” produksi Graha Nadha yang merupakan album tunggal penyanyi Liana. Continue reading “Ketika Buku Sastra Diseling Lagu Pop Bali”

Disinterprestasi Pendendang dan Klaim Poliandri

Sebagai Adat Minangkabau dalam Pertunjukan Teater ?3 Perempuan?
Y. Thendra BP

Pementasan Teater Sakata, ?3 Perempuan? di Yogyakarta, Sabtu, 2 Mei 2009 lalu, menuai protes keras dari Forum Budaya Peduli Budaya Alam Minangkabau (F-PBAM) yang terdiri dari mahasiswa dan seniman asal Sumbar.

Hal ini dipicu oleh laporan di Harian Jogja (Senin, 4 Mei 2009), halaman 12 berjudul ?Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang? yang menyatakan bahwa adat Minangkabau memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki. Continue reading “Disinterprestasi Pendendang dan Klaim Poliandri”

Perihal Kualitas

Salman Rusydie Anwar

Dalam sebuah pertemuan yang tak terduga, saya berjumpa dengan seseorang yang diam-diam sudah lama saya mengaguminya. Orang yang satu ini super sederhana dalam penampilan namun ia open (telaten) terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Tak hanya itu, ia juga memiliki sifat ngemong, penuh perhatian, suka menghibur orang lain dengan tindakan dan kata-katanya, meski yang terakhir ini kerap disalahartikan sebagai kekonyolan dan karena itu membuat orang lain berani meremehkannya. Continue reading “Perihal Kualitas”

Bahasa ยป