Soe Hok Gie: Kegelisahan tanpa Ujung

Seno Joko Suyono, Nurdin Kalim, L.N. Idayanie, Evieta Fajar, Suseno
http://majalah.tempointeraktif.com/

Peristiwa itu masih melekat di benak Herman Lantang, 65 tahun. “Man, entar turunnya bareng gue. Lu, gue tunggu di sini,” kata Soe Hok Gie.

Soe Hok Gie beristirahat di sebuah ceruk. Ia menggigil kedinginan. Udara Gunung Semeru sangat menusuk waktu itu,16 Desember 1969. Dari Ranu Kumbolo, sebuah danau di Gunung Semeru, Herman Lantang, Aristides Katoppo, Soe Hok Gie, Idhan Lubis, Freddy Lasut, Rudi Badil, Abdurachman, dan Wiyana bergerak menuju Arcopodo yang terletak pada ketinggian 3.200 meter di atas permukaan laut?pos terakhir sebelum puncak. Continue reading “Soe Hok Gie: Kegelisahan tanpa Ujung”

Berdirinya TIM, Keinginan Bang Ali Mewadahi Kreativitas Seniman

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Tanggal 10 November, 33 tahun lalu, di sebuah tempat seluas kurang lebih 8 hektare, dulu masih bernama Jalan Raden Saleh dan kemudian dijadikan kebun Binatang Cikini (sebelum pindah ke Ragunan) akhirnya menjadi sejarah sebuah gedung pusat kesenian. Inilah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Pasalnya, tempat nongkrongnya seniman di Pasar Senen atau Balai Budaya tak bisa dipakai lagi, karena perpecahan ideologi politik. Sejak itu, seniman pun kehilangan tempat ?pertemuan?. Continue reading “Berdirinya TIM, Keinginan Bang Ali Mewadahi Kreativitas Seniman”

Ayu Utami: Madonna dalam Sastra Indonesia

Seno Joko Suyono
majalah.tempointeraktif.com

AYU Utami melesat membelah langit sastra Indonesia bak sebuah meteor. Ketika novel Saman diumumkan sebagai pemenang roman sastra Dewan Kesenian Jakarta, hidup Ayu dilanda gunjingan yang mempertanyakan benarkah novel ini lahir dari tangannya. Namun, novel keduanya, Larung, tampaknya mengakhiri gunjingan itu sekaligus “mengukuhkan otoritas kepengarangan Ayu,” demikitan tulis kritikus sastra Melani Budianta. Continue reading “Ayu Utami: Madonna dalam Sastra Indonesia”

Studi (Negara) Postkolonial

RISET PENERBITAN BUKU Akan diterbitkan oleh: KalamNusantara@2010
Adi Prasetyo
http://politik.kompasiana.com/

Prolog

Kemerdekaan menggerakan kita dengan janji yang kurang jelas. Negara (Indonesia) membimbing kita pada ujung yang kabur. Tetapi, kemerdekaan dan negara Indonesia telah menjadi candu. Sebuah candu yang menghasilkan revolusi. Padahal, revolusi tak pernah sama dengan dongeng yang sempurna, demikian tulis Goenawan Mohamad [2008]. Continue reading “Studi (Negara) Postkolonial”

Konflik Etnis atau Konflik Politik?

Ignas Kleden *
majalah.tempointeraktif.com

SEBAGAI konsep ilmu sosial, etnisitas baru berusia 30 tahun, setelah Fredrik Barth menerbitkan bukunya, Ethnic Groups and Boundaries, 1969. Kata ethnic dalam bahasa Inggris diturunkan dari kata Yunani, ethnos, yang dalam masa Yunani Antik digunakan untuk menunjuk kelompok-kelompok bukan-Yunani, yang dianggap berada di pinggiran, asing, dan sedikit barbar. Continue reading “Konflik Etnis atau Konflik Politik?”

Bahasa ยป