Citra Wanita dalam Pamflet

M Abdul Rohim
http://suaramerdeka.com/

PERBINCANGAN soal perempuan acap meninggalkan kesan manis sekaligus tragis. Manis karena perempuan penuh daya tarik. Tragis karena perempuan sering dilingkupi peristiwa mengenaskan; pemerkosaan, pengerdilan, kekerasan, penganiayaan, hingga komodifikasi.

Perempuan dijadikan komoditas, tubuh perempuan diperebutkan. Beberapa figur perempuan diboyong politikus untuk mengikuti pemilihan kepala daerah. Sebagian besar di antara mereka adalah artis. Itu menimbulkan tanda tanya dan tanda seru. Pujian, cercaan, dan kecurigaan menggenang dalam ?kubangan? masyarakat. Itu dianggap wajar, karena publik telah mengetahui sepak terjang sang artis. Publik merasa punya kedekatan dengan sang artis. Continue reading “Citra Wanita dalam Pamflet”

Sang Aktor

Gerson Poyk
http://www.sinarharapan.co.id/

Tidak disangka, ada juga sebuah teater nasional di ibu kota Afghanistan. Sangat prihatin melihat puing gedung teater nasional itu lewat televisi. Setelah batara perang lenyap, para aktor dan aktris, para penyanyi dan pemusik mulai manggung. Terharu melihat mereka manggung di puing gedung teater itu. Di masa batara perang berkuasa kesenian tidak mati, kecuali menyelam, menyembunyikan diri dan ketika badai berlalu, kesenian timbul dari dasar persembunyiannya. Continue reading “Sang Aktor”

Sastra Melayu Singapura Pasca-Masuri

Viddy AD Daery
http://www.infoanda.com/Republika

Baru-baru ini DKJ bekerjasama dengan Dewan Kesenian Sumsel menyelenggarakan Festival Puisi Internasional 2006 di Palembang dan Jakarta. Konon acara besar itu kurang mendapat sambutan penonton. Tapi itu tentu masalah publikasi dan hal-hal di luar sastra.

Dalam hal sastra, yang banyak dituju oleh Agus R Sarjono –sebagai Ketua Panitia– justru lebih kepada pengenalan lebih lanjut sikon sastra dunia, terutama sastra negeri tetangga. Continue reading “Sastra Melayu Singapura Pasca-Masuri”

Pertanyaan untuk Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia

Maman S. Mahayana
Pewawancara: Dony P. Herwanto

Kembali ke Akar Tradisi

Di sini (Korea.red) sudah jam sembilan malam Don. Begitu jawab Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia ketika wartawan Jurnal Bogor, Dony P. Herwanto menyapanya lewat jaringan pertemanan Facebook (FB). Maman yang tercatat sebagai warga Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor itu, kini tinggal di Korea. Continue reading “Pertanyaan untuk Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia”

?50% Merdeka? Heri Latief

Gita Pratama
http://sastrapembebasan.wordpress.com/

Puisi bagi Heri Latief adalah alat anti penindasan, di dalam dunia sastra internet selalu ada karya yang memuat isu-isu sosial. Pembaca sastra tidak melulu orang-orang yang ahli terhadap sastra, tetapi juga orang yang mengalami penindasan sosial. Untuk itu puisi seharusnya memuat hal-hal yang mampu mewakili suara hati orang lain (rakyat) bukan melulu suara hati sendiri (ego). Dengan demikian puisi akan dapat menjadi milik umum dan bisa berkeliaran bebas menentukan sasaran. Karya Heri Latief tidak sekedar puisi dengan rangkaian kata-kata indah yang menjual mimpi. Continue reading “?50% Merdeka? Heri Latief”

Bahasa ยป