Sastra Melayu Singapura Pasca-Masuri

Viddy AD Daery
http://www.infoanda.com/Republika

Baru-baru ini DKJ bekerjasama dengan Dewan Kesenian Sumsel menyelenggarakan Festival Puisi Internasional 2006 di Palembang dan Jakarta. Konon acara besar itu kurang mendapat sambutan penonton. Tapi itu tentu masalah publikasi dan hal-hal di luar sastra.

Dalam hal sastra, yang banyak dituju oleh Agus R Sarjono –sebagai Ketua Panitia– justru lebih kepada pengenalan lebih lanjut sikon sastra dunia, terutama sastra negeri tetangga.

Jika kita mencoba mengenali profil sastra tetangga dekat, yakni Singapura, kita akan menemui keunikan, karena meski Singapura pada awalnya sebuah Negeri Kesultanan Melayu, kini posisi etnis Melayu terdesak oleh populasi etnis Cina dan India yang meledak secara tak terkendali, karena pernah ada politik pemerintah ‘banyak anak akan banyak disubsidi’. Juga karena ada politik rasialisme peninggalan penjajah Inggris. DKJ mengundang penyair Madelaine Lee, mungkin karena persoalan komposisi tadi.

Sesungguhnya, membicarakan sastra negara-kota Singapura, kita tidak boleh gegabah, karena meskipun secara resmi Singapura mengakui Melayu sebagai bahasa negara, dan adat Melayu sebagai jiwa bangsa, namun dalam prakteknya, bahasa Inggris menjadi bahasa sehari-hari, sedang budayanya yang multikultur lebih banyak didominasi kultur Cina ketimbang kultur lainnya, karena memang etnis Cina menjadi puak yang mayoritas, yakni 75 persen. Sedangkan India 10 persen, Melayu 14 persen, dan sisanya 1 persen terdiri dari berbagai etnis, misalnya Yahudi, Eropa, Arab, serta Eurasia.

Hanya saja, kini ada perkembangan yang lucu. Manakala Malaysia terkena demam mewajibkan bahasa Inggris (dan Cina mandarin ) untuk dipelajari oleh warga Malaysia, Singapura justru melompat cerdik dengan menganjurkan remaja-remaja Cina yang cantik jelita agar mempelajari bahasa Melayu dan berpakaian cara Melayu, untuk kepentingan membina ‘citra baru’ turisme yang kini agak merosot karena direbut oleh keindahan dan kelengkapan Kuala Lumpur.

Dalam buku The Poetry of Singapore terbitan ASEAN Committee on Culture and Information, terlihat bahwa karya-karya sastra Singapura ditulis dalam berbagai bahasa oleh berbagai sastrawan yang terikat kecenderungan dan pilihannya.

Misalnya, yang menulis dalam bahasa Inggris, yang menonjol adalah Gerald De Cruz, Edwin Thumboo, Goh Poh Seng, Oliver Seet, Robert Yeo, Chandran Nair, Angeline Yap dan Simon Tay. Sedang yang menulis dalam bahasa Cina adalah Lin Dubu, Chew Kok Chang, Loo Ke Paw, Quek Yong Siu, dan Toh Lam Huat.

Ada juga yang menulis dalam bahasa Tamil, yakni CN Sadasiva Panditar, N Palanivelu, NA Rahman, M Iqbal, C Veloo, dan K Elangovan. Sedang yang menulis dalam bahasa Melayu adalah A Salam, MAS (Muhammad Ariff Ahmad), Masuri SN, Suratman Markasan, A Ghani Hamid, Jamal Tukimin, Mohamed Latiff Mohamed, Rasiah Halil, Pitchey Ghani, dan Lina Malaynia.

Nama-nama sastrawan Melayu Singapura tersebut adalah yang paling dikenal oleh publik sastra Indonesia, karena mereka sering ikut menghadiri pertemuan-pertemuan sastra Nusantara yang diselenggarakan secara bergiliran di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand selatan.

Suratman Markasan adalah yang paling dikenal karena mutu sastranya yang tinggi, sehingga sejak tahun 1980-an, majalah Horison sudah sering mempublikasikan karya-karya sastra Suratman, terutama dalam cerpen dan puisi.

Menarik untuk dicatat, bahwa ada beberapa orang etnis Cina Singapura yang sangat getol menjadi pengamat sastra dan budaya Melayu, yakni budayawan Chan Maw Woh dan profesor doktor Liaw Yock Fang.

Selain Suratman, Masuri SN juga sangat dikenal oleh dunia sastra Nusantara, karena dedikasinya yang luar biasa kepada sastra dan organisasi sastra dengan mendirikan ASAS 50 pada 6 Agustus 1950 bersama penulis-penulis muda saat itu, yakni MAS, Usman Awang dan Keris Mas. Apalagi kemudian Masuri SN berkali-kali terpilih menjadi Ketua Umum ASAS 50, yang kemudian banyak menjalin hubungan dengan organisasi-organisasi sastra nusantara semacam GAPENA Malaysia, ASTERAWANI Brunei, dan beberapa dewan kesenian Indonesia.

ASAS 50 merupakan lompatan bersejarah bagi sastra Melayu Singapura, karena lembaga yang didirikan pada zaman penjajahan Jepang itu mendobrak kejayaan pantun-pantun Melayu, (meskipun ada pula catatan sejarah pendobrakan sastra hikayat oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi di Singapura di zaman penjajahan Inggris di masa lalu ), lalu memodernkan sastra Melayu dengan berkiblat ke angkatan Chairil Anwar dan generasi sastrawan perang tahun 50-an di Indonesia.

Sayangnya, kemudian perkembangan sastra Melayu Singapura mandeg di situ. Sementara itu, tokoh-tokoh ASAS 50 yang cemerlang justru hijrah ke Kuala Lumpur ketika Malaysia merdeka pada 1957 dan ada tanda-tanda kuat Singapura memisahkan diri dari Malaysia.

Mereka yang hijrah ke Kuala Lumpur semakin maju, karena pemerintah Malaysia memberi fasilitas luar biasa kepada perkembangan sastra dan penerbitan. Sedangkan pemerintah Singapura hanya lebih banyak menekankan kemajuan di bidang perdagangan, ekonomi dan perindustrian, yang lebih banyak dikuasai oleh golongan Cina dan elit Eropa serta Yahudi.

Kaum India Tamil kebanyakan menjadi pengacara dan politikus, sedang etnis Melayu hanya menjadi sopir taksi, pedagang kecil atau budayawan.

Pendidikan yang maju akhirnya agak menyeimbangkan kedudukan itu, karena para dosen dari etnis Melayu mulai berpolitik, dan akhirnya perhatian terhadap etnis Melayu mulai diseriusi oleh pemerintah Singapura mulai tahun 2000-an ini.

Perkembangan sastra Melayu Singapura yang mandeg akhirnya hanya mencuatkan nama Suratman Markasan dan Masuri SN, dan dengan demikian generasi-generasi baru lahir secara sangat lambat.

Memang ada beberapa nama lain yang cukup dikenal, misalnya Mohamed Latiff Mohamed, Rasiah Halil, A Ghani Hamid, dan Jamal Tukimin. Tetapi, gaya ucap mereka hanya berkutat kepada gaya yang sudah lama dipakai oleh generasi ASAS 50 tanpa upaya eksplorasi lebih lanjut.

Dua nama generasi muda yang pantas dicatat ialah Pitchey Gani, kolumnis bahasa dan budaya Melayu di koran Melayu satu-satunya, Berita Harian, dan cerpenis wanita Lina Malaynia.

Tantangan yang berat pada dunia sastra Melayu Singapura adalah perhatian dan minat remaja serta publik pembaca yang minim, di tengah kekayaan yang melimpah dan kebanyakan mereka manfaatkan hanya untuk belanja, berwisata keliling dunia atau hanya sekadar menonton tayangan televisi dari rembesan channel-channel Indonesia.

Maka, aktivitas sastra Melayu lebih banyak diramaikan di koran Berita Harian (terkenal sebagai BH), atau dalam acara sastra yang terbatas, atau kalau lebih meriah ya di acara sastra internasional, dan juga dalam kajian-kajian ilmiah di perguruan tinggi.

Lucunya, pengamat dan ahli sastra Melayu Singapura justru Mawar Shafei yang warga Malaysia dan dosen di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di Serdang, pinggiran Kuala Lumpur.

Di tengah situasi adem ayem nina bobo itu, sastra Melayu Singapura kehilangan gairahnya lagi dengan wafatnya Masuri SN, yang selama ini dianggap simbol pembangkit gairah sastra Melayu Malaysia.

Ketika hadir di PSN (Pertemuan Sastrawan Nusantara) XIII di Surabaya, Masuri shock berat karena disembur oleh sastrawan muda Indonesia, Binhad Nurrohmat, bahwa PSN hanya menjadi ajang reuni para sastrawan tua bangka yang tidak relevan lagi dalam percaturan sastra Nusantara.

Masuri meradang dan mengatakan bahwa dirinya adalah sastrawan tua, namun masih lebih produktif ketimbang sastrawan muda Singapura. Masuri lantas mengatakan bahwa acara sastra di Indonesia sering disusupi oleh orang-orang biadab.

Sepulangnya dari PSN XIII, penyakit jantung Masuri kumat, lantas kepemimpinan ASAS 50 diserahkannya kepada A Ghani Hamid yang bekerja sebagai redaktur senior koran BH. Akhir tahun 2005, Masuri wafat di usia 79 tahun — semoga Allah SWT memberi tempat layak di surga, setelah di dunia sastra Melayu Nusantara Masuri juga mendapat tempat yang terhormat.

Tetapi, dengan wafatnya Masuri SN, kelahiran Gilang Seray Kampung Melayu Singapura, yang nenek moyangnya lahir di Jawa Tengah (Indonesia), peta sastra Melayu Singapura kini agak kurang jelas.

Pitchey Gani dan Lina Malaynia memerlukan dorongan semangat dari rekan-rekan sastrawan Nusantara agar mereka bekerja dan berkreasi lebih cemerlang dan lebih cergas lagi!

Viddy AD Daery, Musafir sastra-budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *