Sang Aktor

Gerson Poyk
http://www.sinarharapan.co.id/

Tidak disangka, ada juga sebuah teater nasional di ibu kota Afghanistan. Sangat prihatin melihat puing gedung teater nasional itu lewat televisi. Setelah batara perang lenyap, para aktor dan aktris, para penyanyi dan pemusik mulai manggung. Terharu melihat mereka manggung di puing gedung teater itu. Di masa batara perang berkuasa kesenian tidak mati, kecuali menyelam, menyembunyikan diri dan ketika badai berlalu, kesenian timbul dari dasar persembunyiannya.

Entah ke mana ia berlari bersama Chairil Anwar untuk menghilangkan pedih peri. Akan tetapi yang jelas sang aktor masih memiliki pribadi yang utuh, lentur, luwes, bebas dan tangguh seperti rekannya pendaki puncak-puncak gunung di negerinya, maupun di Himalaya.

Di atas segalanya tubuhnya sangat sehat walaupun batinnya hancur karena negerinya dilanda perang selama dua puluh tahun. Walaupun ketika gedung teater itu masih bagus ia pernah memerankan tokoh Polpot di Kamboja, Hiler dan Stalin, walaupun ia pernah berteriak di atas panggung, ?all or nothing? (merdeka atau mati, ayat atau mayat) sehingga seluruh dunia terkejut, penonton yang beradab berbudaya sadar bahwa itu cuma bahasa verbal yang dibantu bahasa tubuh protagonis terhadap antagonis dalam tragedi Afghanistan.

Setelah sang aktor menyelesaikan tugasnya memadatkan abad-abad tragik dan komik kehidupan manusia di atas waktu panggung yang hanya memakan satu atau dua jam, ia pulang ke rumahnya yang terbuat dari tanah liat, tanpa atap karena sudah ditempiaskan oleh pertempuran antar faksi sebelum bom Amerika dihamburkan.

Bangun pagi-pagi, setelah mencuci mukanya dengan debu, ia menuju rumah kahwa (kopi) lalu minum tenang-tenang. la bukan Iagi menjadi tiran tetapi ketika ada orang yang melihat ia tenang menghirup kahwa dan menyangka ia murung tersedu karena negerinya terkoyak-koyak, kepadanya ditawarkan candu.

Ia menolak, membuat orang yang yang menawarkan itu heran, kenapa aktor yang pernah memegang peranan sebagai pemadat itu begitu alim terbebas dari bahaya narkoba. Keduanya berpisah. Sang Aktor mengundang orang itu untuk menonton permainannya sebagai Dalai Lama di bulan depan kemudian tahun berikutnya sebagai sebagai Paus dan Gandhi. Temannya berkata. ?Engkau adalah kolektor para tokoh dunia.?

Setelah teater, musik, tari, lukisan dan patung dilarang ia hanya terlibat dengan poetry (yaitu nyanyian batin) yang tidak bisa dilarang, dilacak oleh intel macam apa pun. Ketika poetry (nyanyian batin) mendorongnya menulis poem (sajak) di atas kertas di suatu hari, muncullah intelkebu (intel kebudayaan). Ia mengunyah kertas itu lalu menelannya. Waktu intelkebu pergi, ia menulis sajak di kulit kambing yang selalu dipakainya sebagai tikar yang digelar di lantai pasir di rumahnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *