Kesadaran Ruang dari Tubuh dan Bau Tanah

Menuju Apresiasi Ibu Bumi Pertiwi
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

SEUSAI nuwasen karya dan ngunggahang sunari dalam gelar ritus besar terkait dengan unsur-unsur utama kemestaan di Bali, biasanya akan dilanjutkan dengan tahapan nyukat, lalu bhumi suddha. Kedua tahapan ini begitu penting, karena pada tahap inilah ruang untuk digelarnya ritus itu dipilih, ditentukan, setelah didahului dengan pemilihan dan penentuan waktu lewat tahapan pertama, nuwasen karya. Itu berarti, suatu gelar ritus keagamaan berkait dengan kesemestaan di Bali senantiasa mengikuti ”standar produser” berupa pemilihan dan penentuan waktu, lalu dilanjutkan dengan pemilihan dan penentuan ruang. Continue reading “Kesadaran Ruang dari Tubuh dan Bau Tanah”

Ratna Indraswari Ibrahim, Penggembala Kunang-kunang

Abdi Purnomo
http://www.korantempo.com/

Kunang-kunang begitu memesonakan hati Bonet. Rasa ingin tahu bocah perempuan sebelas tahun ini membesar karena ibunya, Gita, rajin mendongengkan keindahan kelap-kelip kunang-kunang yang gampang dijumpai di sekitar rumah kakeknya pada malam gulita. Bonet pun merengek ingin melihat binatang renik yang mengeluarkan cahaya unik itu. Continue reading “Ratna Indraswari Ibrahim, Penggembala Kunang-kunang”

Saut Di Persimpangan Teks Perlawanan*

Matdon
http://beritaseni.wordpress.com/

Saut, memperhatikan ekspedisi sastramu ke pelosok desa dan kota, membaca orasimu di website dan millis-millis serta kutukanmu pada TUK, mengingatkan saya pada prajurit perang Salman Al-Farisi di abad ke 7 Masehi. Dengan gagah ia menyerang musuh meskipun musuhnya terlalu banyak sedangkan kekuatan tentara Salman sangat sedikit, untuk mundur tentu tak mungkin karena harus membela kebenaran yang diyakininya, iapun membuat parit-parit di sekitar jalan yang akan dilalui musuhnya, sehingga dengan leluasa ia bisa melihat musuhnya terjebak dan ia pun leluasa menembaki musuh dengan panah. Continue reading “Saut Di Persimpangan Teks Perlawanan*”

Geliat Menulis Esai Kritik Sastra dan Eksistensi SST (Sanggar Sastra Tasik) di Tasikmalaya

D. Dudu AR
http://oase.kompas.com/

AJAKAN workshop menulis kritik sastra dan laporan budaya dari Jodhi Yudono (pemangku rubrik oase-kompas.com) kepada saya (Pondok Media) beberapa waktu lalu, merupakan salah satu indikasi produktivitas masyarakat Tasikmalaya–menulis essay kritik sastra–jarang geliatnya. Beliau menyatakan ingin sekali masyarakat Tasikmalaya intens menulis kritik sastra dalam rangka memasyarakatkan sastra. Continue reading “Geliat Menulis Esai Kritik Sastra dan Eksistensi SST (Sanggar Sastra Tasik) di Tasikmalaya”

Surat Bunga dari Ubud: Putu dan “Sejarah yang Terserpih”

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Persimpangan sejarah yang membuat generasi itu mampu membuat kisah lebih bermakna, energi yang memadai bila diangkat ke dalam karya. Demikian lontaran pendapat sastrawan Martin Aleida. Pendapat yang boleh diragukan oleh generasi masa kini. Kendati, pendapat Martin itu penting untuk dipertimbangkan saat membaca karya Putu Oka Sukanta. Continue reading “Surat Bunga dari Ubud: Putu dan “Sejarah yang Terserpih””

Bahasa ยป