Buku Sastra Etnis Hanya Bermodal Cinta

Eriyanti Nurmala Dewi, Vebertina Manihuruk
http://pr.qiandra.net.id/

PROFESIONALITAS ternyata masih jauh dari perkembangan kesusastraan daerah. Buku-buku dalam bahasa ibu atau bahasa etnis, ternyata masih diproduksi sebagai kegiatan rumahan. Para penulis sastra etnis pun melaksanakan kegiatannya lebih karena alasan cinta.

Hasil karya sastra berbahasa etnis memang banyak mengalami kondisi rumit dan terseok-seok. Sementara bahasa ibu semakin jarang digunakan sehingga belum tentu bukunya diminati khalayak luas. Penerbit pun seperti ogah-ogahan karena penerbitan itu jauh dari unsur laba. Continue reading “Buku Sastra Etnis Hanya Bermodal Cinta”

9 Pertanyaan untuk Zara Zettira ZR: Menulis adalah Kebutuhan

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

SATU dekade menghilang dari dunia kepenulisan di Tanah Air, kini Zara Zettira ZR kembali hadir bagi para pembacanya. Roda waktu yang berputar selama 10 tahun tak mampu menggerus pesona ibu dua anak ini. Zara masih seperti dulu: cantik, langsing, dan penuh kelembutan.

Zara yang sore itu terlihat anggun dibalut kebaya putih bertutur bahwa dirinya tidak absen 100 persen dari dunia kepenulisan. Waktu satu dekade itu ia habiskan untuk membuat karya dalam bentuk skenario. Continue reading “9 Pertanyaan untuk Zara Zettira ZR: Menulis adalah Kebutuhan”

Visi Kebudayaan Capres

Indra Tranggono *
kr.co.id

MESKIPUN sering mengaku menjunjung tinggi kebudayaan, bangsa kita belum menjadikan kebudayaan sebagai basis pembangunan. Pendekatan yang dipakai cenderung parsial: politik dan ekonomi yang kurang mempertimbangkan asas demokrasi, keadilan dan pemerataan.

Politik menjadi primadona pada era kekuasaan Orde Lama Soekarno. Atas nama “revolusi belum selesai” dan character building, Soekarno menggunakan politik sebagai panglima. Continue reading “Visi Kebudayaan Capres”

Langkah Sastra Banyumas

Sigit Emwe*
http://www.kr.co.id/

Tulisan ini adalah kegelisahanku dalam merindukan kekasih kerinduan untuk bercengkerama membicarakan kegetiran jiwa yang membuat ku tercabik dan berdarah aku mencoba menuangkan kegelisahan ini pada kanvas batinmu yang menganggapku sebagai kekasih semoga kegelisahan ini menumbuhkan rindu di hatimu agar kau-aku selalu terkenang oleh waktu (Diambil dari coretan harian dari seorang suami kepada istrinya) *** Continue reading “Langkah Sastra Banyumas”

Temu Sastrawan Indonesia 2 – Membangun Karakter Lokalitas

Rakhmat Giryadi
surabayapost.co.id

Sastra Indonesia dibangun dari sub kultur yang menyebar di seluruh Indonesia. Sastrawan lokal memiliki andil besar dalam khasanah sastra Indonesia.

Mencermati perkembangan kesusastraan Indonesia belakangan ini, kiranya jelas bahwa poros-poros kesusastraan Indonesia di berbagai daerah makin mengukuhkan keberadaannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika kesusastraan Indonesia secara keseluruhan. Continue reading “Temu Sastrawan Indonesia 2 – Membangun Karakter Lokalitas”

Bahasa ยป