Menangisi Rancage yang Lepas

Agus Sri Danardana *
lampungpost.com

Kita memang pantas menangisi Rancage yang lepas. Namun, kita akan lebih tersedu jika sastra Lampung tidak memiliki pembaca.

Berita tentang tidak diberikannya hadiah sastra Rancage kepada sastrawan Lampung tahun 2009 telah menimbulkan keprihatinan mendalam banyak pihak. Tidak terkecuali Udo Z. Karzi dan Y. Wibowo (masing-masing penulis dan direktur penerbit Mak Dawah Mak Dibingi, kumpulan puisi berbahasa Lampung penerima hadiah sastra Rancage tahun 2008) serta Panji Utama dan Christian Heru Cahyo pun melontarkan keprihatinannya. Continue reading “Menangisi Rancage yang Lepas”

Rancage, Sastra, dan Budaya Lampung

Udo Z. Karzi *
lampungpost.com

TAHUN yang lalu, Hadiah Sastra Rancage juga diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami khawatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Dalam 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastra Rancage 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan. Continue reading “Rancage, Sastra, dan Budaya Lampung”

Membangun Gerakan Politik lewat Musik

Wakos R. Gautama*
http://www.lampungpost.com/

Musik mempunyai peran begitu besar dalam kehidupan manusia. Lewat musik, manusia bisa mengaktualisasikan diri. Kita bisa tahu apa yang sedang dialami seseorang hanya lewat musik yang didengarnya; apakah ia sedang sedih, gembira, jatuh cinta atau sedang patah hati.

Ketika sedang patah hati, misalnya, seorang Slankers tidak akan bosan-bosannya mendengarkan lagu Anyer 10 Maret. Atau jika Anda seorang Baladewa yang sedang rindu dengan kekasih, maka lagu Kangen bisa Anda putar berulang-ulang di MP3 player Anda. Saat terjadi bencana tsunami di Aceh, Untuk Kita Renungkan atau Berita Kepada Kawan milik Ebiet G. Ade menjadi lagu wajib di televisi. Continue reading “Membangun Gerakan Politik lewat Musik”

Bahasa ยป