Mashuri, Menulis untuk Mengisi Hidup

Kukuh Yudha Karnanta
surabayapost.co.id

Sehabis sekolah, Mashuri muda mengayuh sepedanya menuju perpustakaan daerah di kota Lamongan. Jarak 15 km dari sekolahnya tak membuatnya merasa lelah. Ia harus mencari buku-buku yang harus dibacanya karena di sekolah dan pesantrennya tidak menyediakan buku yang diharapkan. Demi mendapatkan buku bacaan itu, Mashuri muda juga rela membolos mengaji di PP Salafiyah Wanar dan PP Ta’sisut Taqwa, Galang, Lamongan. Continue reading “Mashuri, Menulis untuk Mengisi Hidup”

Kidungan Tak Sekadar Pitutur, Juga Ekspresi Anak Zaman

Abdul Lathif
http://oase.kompas.com/

SURABAYA,MINGGU–Sebanyak 18 orang penggemar kidungan dan 14 orang seniman profesional ludruk dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, Lumajang dan Jember unjuk kebolehan dalam ajang f estival kidungan dalam rangkaian perhelatan seni pertunjukan bertajuk Festival Cak Durasim Tahun 2008, Minggu (16/11), di Pendapa Jayengrono, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Continue reading “Kidungan Tak Sekadar Pitutur, Juga Ekspresi Anak Zaman”

Tjiptaning, Melakukan Perlawanan dengan Puisi

Yurnaldi
kompas.co.id

Seharusnya ku mampu menegakkan wajah di hadapan orang-orang ini,/tapi moral ku tak cukup kuat bertopeng, bahwa wajah-wajah ini/tidak sedang mengemis. Mereka sedang menggugat haknya.//Antri panjang di tengah terik yang menyengat, menjadi tugas tambahan/dari para perempuan yang tak lagi muda ini. Saatku berada dalam nyaman/gedung ber-ac, mungkin aku tak selalu ingat bahwa kini para perempuan/miskin ini, bertambah satu kewajibannya; antri!//Tak hanya minyak, beras dan mie instan, kini singkong pun mereka rebut. Continue reading “Tjiptaning, Melakukan Perlawanan dengan Puisi”

Bahasa ยป