Ekspresi Puisi dan Batik

S. Ika Sari
http://www.tempointeraktif.com/

Dalam kehidupan ada dorongan hati untuk terus tumbuh dan berkembang…
Itulah sepenggal larik dari puisi karya Tetet Cahyati Popo Iskandar yang berjudul The Spirit of Growth. Puisi yang ditulis pada 2005 silam itu ternyata membuahkan inspirasi manis bagi dunia fashion Tanah Air. Tak tanggung-tanggung, melalui beberapa puisi hasil karyanya, Tetet berhasil menorehkan sebuah lukisan menjadi sebuah batik tulis kontemporer. Ragam batik Indonesia pun seperti mendapat napas baru. Continue reading “Ekspresi Puisi dan Batik”

Pantun, Kampanye, dan Pemilu

Rendra Setyadiharja*

batampos.co.id

Kota Tanjungpinang, Kota Gurindam Negeri Pantun. Adalah sebuah nama yang masyhur di telinga penulis. Kota dimana penulis dilahirkan dan dibesarkan. Kota yang dipimpin oleh wali kota yang cantik, dialah bundaku Hj Suryatati A Manan. Sekarang kota ini bertambah lagi gelarannya sebagai negeri pantun. Dimana budaya pantun sangat dilestarikan di kota ini. Boleh dikatakan segala aktivitas penduduk ataukah pejabat pemegang kekuasaan di kota ini sangat gemar berpantun. Baik itu dalam percakapan, atau dalam sambutan. Jadi wajar saja jika kota ini digelari negeri pantun, negeri tempat pantun selalu dilantunkan. Continue reading “Pantun, Kampanye, dan Pemilu”

D.N. Aidit dan Sastra (Sajak Pamflet Sang Ketua)

D.N. Aidit berhasrat juga menjadi penyair. Tapi puisinya pernah ditolak HR Minggu

majalah.tempointeraktif.com

TELEPON kantor Harian Rakjat di Jalan Pintu Besar Selatan Nomor 93, Jakarta Pusat, meraung-raung pada suatu Sabtu malam, sekitar awal 1965. Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, mencari “orang yang bertanggung jawab” atas seleksi puisi di HR Minggu, lembar kebudayaan yang berbeda isi, bahkan logonya, dengan Harian Rakjat edisi reguler. Telepon itu disambut Amarzan, redaktur yang memang ditugasi menyeleksi kiriman puisi. Continue reading “D.N. Aidit dan Sastra (Sajak Pamflet Sang Ketua)”

Bahasa ยป