PERJALANAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA

Maman S. Mahayana *

Achdiat Karta Mihardja (lahir 6 Maret 1911), dalam usia yang hampir satu abad, hadir dengan novel terbarunya, Manifesto Khalifatullah (Mizan, 2005), sebuah novel gagasan yang mengingatkan pada magnum opus, Mohammad Iqbal, Javid Namah. Berbeda dengan dua novel sebelumnya, di sana kita seperti kehilangan tokoh Hasan yang peragu (Atheis, 1949) atau tokoh Rivai yang diterjang godaan berbagai problem cinta (Debu Cinta Bertebaran, 1973; 2004). Dalam Manifesto Khalifatullah, sikapnya lebih tegas dan lugas. Itulah estetika yang diusungnya, sekaligus sebagai representasi perkembangan pemikirannya. Continue reading “PERJALANAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA”

SEBUAH SUGESTI PEMBODOHAN

Imamuddin SA *

Sudah barang tentu kita mengenal istilah ini. Tidak hanya itu, jangankan dalam dunia kesusastraan (fiksi), bahkan kita sendiri kerap mengalaminya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Ya, benar! Istilah itu adalah konflik.

Tidak dapat dielak lagi, jika kita mengatakan bahwa karya sastra merupakan mimesis. Karya sastra adalah gambaran realitas yang diusung oleh pengarang ke dalam bentuk teks tulis. Karya sastra adalah miniatur kehidupan. Continue reading “SEBUAH SUGESTI PEMBODOHAN”

Gandrik

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Gedung Kesenian Jakarta, 24 Agustus 2006. Butet Kartaredjasa sedang memerankan Raden Mas Suhikayatno (RMS) dalam pertunjukan Matinya Toekang Kritik karya Agus Noor. Pementasan didukung oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kuaetnika, Teater Gandrik, dan Orkes Sinten Remen, yang melibatkan para seniman seperti Djaduk Ferianto, Whani Darmawan, Ong Harry Wahyu, Clink Sugiarto, Indra Gunawan, dll. Continue reading “Gandrik”

Bahasa ยป