PERJALANAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Achdiat Karta Mihardja (lahir 6 Maret 1911), dalam usia yang hampir satu abad, hadir dengan novel terbarunya, Manifesto Khalifatullah (Mizan, 2005), sebuah novel gagasan yang mengingatkan pada magnum opus, Mohammad Iqbal, Javid Namah. Berbeda dengan dua novel sebelumnya, di sana kita seperti kehilangan tokoh Hasan yang peragu (Atheis, 1949) atau tokoh Rivai yang diterjang godaan berbagai problem cinta (Debu Cinta Bertebaran, 1973; 2004). Dalam Manifesto Khalifatullah, sikapnya lebih tegas dan lugas. Itulah estetika yang diusungnya, sekaligus sebagai representasi perkembangan pemikirannya.

Melihat tarikh penerbitan ketiga novel itu (1949, 1973, dan 2005), serta-merta kita dapat menempatkan ketiga karya itu ke dalam tiga fase perkembangan pemikiran Achdiat, yaitu Atheis (fase pertama), Debu Cinta Bertebaran (DCB) (fase kedua), dan Manifesto Khalifatullah (MK) (fase ketiga). Dari sana, sangat mungkin kita dapat mengungkapkan lebih jauh pandangan dan kegelisahan AKM dalam menyikapi problem bangsa ini.
***

Sebagai seorang yang lahir dari keluarga Islam yang taat dan dibesarkan dalam lingkungan Islam tradisional, Achdiat awalnya berhadapan dengan kebudayaan Barat melalui pendidikan Belanda. Ia menyerap suasana religius kehidupan pesantren dan menerima langsung kebudayaan Barat lewat bahasa sumbernya. Jadi, ke belakang, ia melihat masa lalu yang tak dapat lepas dari dogma agama, ke depan terbentang harapan tentang manusia Indonesia mendatang yang tak dapat menghidar dari pengaruh kebudayaan Barat.

Tarik-menarik antara masa lalu yang religius dan kerap juga dogmatis, dan masa depan yang cerah penuh pengharapan itu, kemudian dianggap sebagai representasi pergulatan Timur—Barat. Puncaknya terjadi ketika wacana ini menjadi ajang perdebatan pada zaman Pujangga Baru. Perdebatan itulah yang dikenal dengan nama Polemik Kebudayaan. Achdiat sendiri memang tidak terlibat langsung dalam kancah polemik itu. Sambil menyitir pandangan Sutan Sjahrir, sikap Achdiat tegas. Dalam Pengantar buku Polemik Kebudayaan (1948), ia mengatakan “… bahwa kini tak usah pilih-pilih antara Timur (yang feodalistik) dan Barat (yang kapitalistik), sebab kedua-duanya akan silam dan sekarang ini sedang tenggelam ke masa silam.” Achdiat muda seperti diterjang kegelisahan. Ia harus menyatakan sikapnya. Dan wadah kegelisahannya itu seperti tersalurkan melalui novel. Lahirlah Atheis (1949), sebuah novel yang ternyata menjadi salah satu monumen penting dalam sejarah sastra Indonesia.
***

Atheis (1949) laksana buah pemikiran dan kegelisahannya atas situasi zaman ketika bangsa ini berada dalam masa transisi. Tokoh-tokoh yang ditampilkannya merepresentasikan berbagai golongan masyarakat dalam menyikapi problem Timur—Barat yang belum selesai dalam perdebatan Polemik Kebudayaan. Dalam perdebatan itu, ia menolak feodalisme (kebudayaan Timur yang lapuk) dan menerima modernisme dengan catatan kritis.

Berbeda dengan Sutan Takdir Alisjahbana yang secara tegas menerima Barat dan menjadikannya sebagai orientasinya, AKM menerimanya dengan catatan kritis tadi. Hal itu juga yang dilakukannya dalam menyikapi kebudayaan sendiri. Jika mencermati, ada tiga hal yang menurutnya perlu diselidiki, yaitu (1) pengaruh Barat, (2) kebudayaan sendiri, dan (3) persoalan dogma. Lalu bagaimanakah gagasan itu bisa diselusupkan ke dalam Atheis.

Tokoh Rusli yang karena kesadaran politik dan ideologinya, justru berhasil memanfaatkan pengaruh Barat untuk kepentingan perjuangan ideologinya. Dalam hal kepercayaan, Rusli memang ateistik, tetapi ia menolak kapitalisme. Tentu saja itu berkaitan dengan ideologi yang dianutnya. Jadi, Rusli seperti mewakili kelompok masyarakat yang menentukan pilihan apapun atas dasar kesadaran, dan bukan sekadar ikut-ikutan. Citra tokoh Rusli yang cerdas, terpelajar, propagandis, dan konsekuen atas pilihan ideologinya itu, sangat berbeda dengan gambaran ketokohan Anwar yang anarkis, individualis, dan kerap tidak konsekuen.. Ada kesan, Anwar dicitrakan sebagai orang yang sok “kebarat-baratan”.

Mengapa kedua tokoh itu dibiarkan tetap hidup dan tidak mengalami cedera apa-apa, sebagaimana yang terjadi pada diri Hasan –yang mengidap TBC, ditangkap Kempetai, dan mati—dan ayahnya, Raden Wiradikarta –yang kecewa atas perubahan sikap Hasan? Sangat mungkin itu merupakan bentuk “penghukuman” atas sikap pembeo, penuh keraguan, dan taklid buta tokoh Hasan. Bahwa Raden Wiradikarta itu juga mati, bolehlah kita tafsirkan sebagai korban keragu-raguan tokoh Hasan atau kekhawatirannya terikat oleh suatu dogma.

Hal lain yang disorot dalam novel itu adalah persoalan tahayul, dogma agama, dan kisah-kisah neraka yang menempatkan agama sebagai sesuatu yang menakutkan. Dan itulah yang terjadi di sebagian besar masyarakat Indonesia. Beribadat bukan lantaran pengabdian atau kecintaan kepada Tuhan atau kesadaran keberimanannya, melainkan lantaran ketakutan masuk neraka atau agar kelak bisa masuk surga. Meski pembicaraan ini sangat simplistis, setidaknya kita dapat menangkap, bagaimana Achdiat menyikapi persoalan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia masa itu. Kenyataannya, tahayul dan cara pengajaran agama yang kerap dihiasai kisah-kisah surga dan neraka itu, sampai kini masih banyak kita jumpai.
***

Berbeda dengan Atheis, persoalan yang diangkat dalam Debu Cinta Bertebaran (DCB) menyangkut konsep cinta yang tidak jarang diterjemahkan secara keliru. Jika perkara teisme—ateisme menyangkut keyakinan manusia akan keberadaan atau ketiadaan Tuhan, maka persoalan cinta menyangkut hubungan dua –atau lebih—manusia yang bisa sejenis bisa juga tidak. Dengan mengambil latar waktu sekitar tahun 1960-an sampai awal pemerintahan Orde Baru dengan latar tempat di Australia, AKM leluasa memasukkan pandangan-pandangannya tentang itu. Dengan memanfaatkan tokoh Rivai, seorang wartawan, AKM dapat memasukkan pemikiran dan gagasannya jauh lebih leluasa dibandingkan dengan penggunaan bentuk pencerita “Aku” sebagaimana yang terjadi dalam Atheis.

Cinta dengan berbagai definisi dan tafsirnya, ternyata juga bukan persoalan sederhana. Cinta Rivai terhadap istrinya, Fatimah, yang gila, lambat-laun berubah menjadi belas kasihan. Sementara cinta Frieda pada suaminya, Ulf yang didera penyakit paru-paru, menggiringnya pada pemikiran agar dokter yang merawat suaminya itu melakukan euthanasia atau mercy killing –melepaskan penderitaan seseorang dengan menyegerakan kematiannya. Pasangan kumpul kebo Janet dan Peter Thomas lain lagi dalam menerjemahkan konsep cinta. Bagi keduanya, cinta tidak harus mengorbankan kebebasan individu. Cinta tidak harus diwujudkan dalam ikatan perkawinan, dan masing-masing pasangan bebas pula melakukan hubungan seks dengan siapa pun. Sedangkan tokoh Judy yang bercinta dengan Hermanus, beranggapan, cinta tidak dapat dipisahkan dengan kehadiran dan hubungan badani. Aneka ragam pemahaman tentang cinta datang dari kepentingan masing-masing. Ia tidak dibatasi oleh suku bangsa, agama atau usia. Tokoh Rivai sendiri akhirnya juga jatuh cinta lagi kepada Deanne Jorgensen, meski pada saat-saat tertentu, ia harus kalah oleh hasrat seksnya pada Janet atau Frieda.

Satu hal yang tampaknya hendak ditekankan AKM dalam perkara ini adalah ekses dari pemahaman cinta yang keliru tadi, yaitu seks bebas. Banyak tokoh dalam novel ini cenderung mengusung seks bebas. Tokoh Dr. Ingrid Fry, misalnya, yang sama sekali tidak mementingkan makna kegadisan dan perlunya memahami seks pranikah (sex premarital), seks di luar nikah (sex extramarital) atau Janet dan Peter Thomas bisa seenaknya gonta-ganti pasangan, atau Christine yang akhirnya bunuh diri. Dalam konteks ini, AKM cenderung sekadar memotret fenomena sosial yang terjadi di Australia –yang kebetulan juga banyak dilakukan orang-orang Indonesia di sana. Ia seperti hendak mengingatkan bahaya kebebasan seks. Dan persoalan seks bebas itu, kini benar-benar terjadi di banyak kota di negeri ini. Novel DCB yang terbit lebih dari 30 tahun yang lalu itu, telah mengingatkan kita akan bahaya seks bebas.
***

Berbeda dengan Atheis dan DCB, dalam novel Manifesto Khalifatullah, AKM sengaja menegaskan sikap keseluruhan perjalanan hidupnya. Di bagian akhir Prolog, si tokoh saya mengatakan, “… setelah banyak merenung dan kedua belah mata saya yang “buta huruf” dapat bantuan tenaga typist komputer yang cukup cerdas dan cekatan orangnya, maka khayal kreatif saya berhasillah menciptakan sebuah kispan …” (hlm. 81). Pola ini mengingatkan kita pada tokoh “saya” yang menerima naskah otobiografi tokoh Hasan (Atheis) dan tokoh Rivai yang berniat menulis novel (DCB). Batas tipis antara fakta dan fiksi seperti sengaja dihadirkan di sana, dan bentuk penceritaan Atheis laksana terus membayangi pikiran AKM.

Persoalannya sendiri berawal pada penentangan tokoh saya atas ideologi kapitalisme dan sekularisme. Mula-mula ia bertemu dengan pengusaha Amerika yang menganggap Tuhan sekadar persoalan sepele. Kemudian tokoh saya jumpa dengan Rosy Brisley yang beranggapan bahwa “Manusia adalah ciptaan alam, dan … tidak ada yang Maha Pencipta kecuali alam sendiri…” Dari sana cerita bergulir menyinggung masalah kapitalisme dan sekularisme. Tokoh-tokoh dunia pun bermunculan, mulai tokoh-tokoh pemikir Indonesia seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Sjahrir, Bung Karno, para pemikir seperti Nietzshe, Goethe, rohaniawan agung Siddharta dan Pastor Calvinus, ekonom Adam Smith, tokoh-tokoh Komunis macam Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin, sampai ke tokoh kunci Abah Arifin, Manusia Biasa Saja. Tokoh inilah yang kemudian memproklamasikan manifestonya.

Bahwa kunjungan ekonom Adam Smith dan tokoh-tokoh Komunis –Karl Marx, Engels, Lenin—ke tempat Abah yang kemudian membekali mereka dengan amplop berisi sebuah cerita, secara simbolik menunjukkan pentingnya kapitalisme dan komunisme diisi oleh spiritualitas agama agar terjadi keseimbangan antara individualisme dan nilai-nilai keagamaan. “… agama dan ilmu pengetahuan harus bersatu berbimbingan tangan. Kalau tidak, agama maupun ilmu pengetahuan bisa acak-acakan. … Agama kehilangan akal sehatnya, ketinggalan zaman, bahkan antikemajuan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan tanpa iman kepada Yang Maha Esa lebih acak-acakan lagi…” (hlm. 144). Ujar Einstein: “science without religion is blind; religion without science is lame.” (Ilmu tanpa agama, buta; agama tanpa ilmu, pincang).

Selain itu, kehadiran Pastor Calvinus dan proklamasi Manifesto Khalifatullah yang disampaikan tokoh Manusia Biasa Saja, Abah Arifin, di hadapan umat manusia, menegaskan kembali pentingnya makna kerja. Slogan Ora et Labora (berdoalah dan bekerjalah) menunjukkan pentingnya kesadaran akan tugas dan kewajiban manusia di muka bumi ini, yaitu adanya keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Keduanya sama-sama penting, saling melengkapi. Yang satu baru bermakna jika yang satunya lagi tidak diabaikan.

Demikianlah, sebagai novel gagasan, MK tidak hanya menegaskan sikap hidup seorang Achdiat dalam memandang Indonesia dan hubungannya dengan berbagai ideologi di dunia, melainkan juga memberi begitu banyak “PR” kepada generasi bangsa ini, bahwa tantangan global tidak dapat dianggap enteng. Ia berkaitan dengan berbagai usaha banyak pihak untuk menyelusupkan ideloginya agar bangsa ini masuk ke dalam barisannya.
***

Dalam sejarah sastra Indonesia, Achdiat satu-satunya sastrawan Indonesia yang masih berkarya dalam usia lebih 90 tahun. Dalam sastra dunia, ia termasuk orang ketiga, setelah Sopokhles (dramawan Yunani klasik) dan George Bernard Shaw (dramawan Inggris). Jika obsesi –atau ambisi—untuk merampungkan karya keempatnya, dapat direalisasikan, Achdiat Karya Mihardja akan tercatat dalam Guinness Book of World Records sebagai sastrawan yang menghasilkan lebih dari dua karya dalam usia di atas 94 tahun. Semoga!

(Maman S. Mahayana, Pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *