Gandrik

Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/

Gedung Kesenian Jakarta, 24 Agustus 2006. Butet Kartaredjasa sedang memerankan Raden Mas Suhikayatno (RMS) dalam pertunjukan Matinya Toekang Kritik karya Agus Noor. Pementasan didukung oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kuaetnika, Teater Gandrik, dan Orkes Sinten Remen, yang melibatkan para seniman seperti Djaduk Ferianto, Whani Darmawan, Ong Harry Wahyu, Clink Sugiarto, Indra Gunawan, dll.

RMS, si tokoh cerita, disebutkan sebagai seorang juru kritik yang memiliki kisah kelahiran 1501 versi. Di satu kisah ia dilahirkan dari bonggol pisang, di kisah lain ia dilahirkan dari kabut dan waktu. Sementara malam itu, RMS ditegaskan sebagai juru kritik yang tak bisa hidup kalau tidak melontarkan kritik, khususnya kepada pemerintah yang berkuasa. Jadi, pementasan malam itu adalah salah satu tafsir perjalanan RMS, di tengah konteks persoalan ’Indonesia’ yang disorotinya.

Pembantu RMS bernama Bambang, yang juga diperankan Butet, terkadang mengenakan kaus kuning. Hal itu dikomentari RMS mirip kotoran. Ketika Bambang mengenakan kaus merah, Bambang dikatakan sok jagoan padahal kalah. Sementara, saat Bambang mengenakan kaus biru, Bambang dikatakan plin-plan.

Lalu, “kalau Bambang berpakaian hijau…?” pemusik yang dikomandani Djaduk Ferianto berteriak dari bawah panggung, yang membuat Bambang (baca: Butet) di atas panggung sesaat melengak, dan berkomentar dengan senyum simpul, “Lho, ada toh kaus warna hijau. Bukannya yang hijau cuma sayuran, soalnya saya vegetarian…”

Grrrr…. Penonton pun tertawa. Itulah teater gaya sampakan, ikut bermainnya (atau dilibatkannya) para penonton (juga pemusik) seperti pada teater tradisional lenong, ludruk, dll, atau yang populer di panggung hiburan modern dengan istilah standing comedy atau one man show – yang memang jadi keistimewaan setiap pertunjukan monolog Butet Kartaredjasa sebagai pentolan Teater Gandrik.

Dalam pementasan Gandrik, sampakan adalah paradigma teater yang ’mencairkan’ pertunjukan hingga tidak terkungkung dalam kaidah ketat teater. Para aktor dapat menetralisir realitas panggung, dengan meringankan adegan yang semula membebani. Pertunjukan bisa saja berlangsung, berupa dialog antara pemain di panggung dengan penonton di bawah panggung. Dan untuk memuluskan ’keterlibatan’ ini – pertunjukan pun disengaja menyoroti fenomena sosial-politik yang dikenal bersama – secara humoristis.

Pemain dan penonton pun kemudian akan sama-sama tersenyum getir, seperti halnya dalam Matinya Toekang Kritik di atas. Gandrik yang bermukim di Yogyakarta ini – dengan gaya sampakannya – mengolah jagat pemanggungan sebagai bangunan dramatik yang serius tapi juga main-main dalam pemahaman semangat teater rakyat – berhasil menyosokkan diri di barisan grup teater penting Indonesia saat ini.

Sebagai teater yang ternyata sukses pula menjaring penonton berjumlah besar dalam setiap pementasannya, Gandrik disejajarkan dengan Teater Koma oleh peneliti teater Indonesia, Arie F Batubara (2002). Sebagaimana Koma, Gandrik berhasil mensinergikan kelompok industri, seniman, media massa, dengan institusi kebudayaan lainnya, sehingga pertunjukan teater dapat jadi kunci masuk ke dalam kelas elite kebudayaan.

Sedangkan dari perspektif teoritis teater, Gandrik bisa disimak dari tendensi pemanggungannya yang begitu terlibat dengan persoalan politik, sebagaimana dilakoni teater-teater interkultur yang menjadikan masalah politik Amerika Latin, India, Asia Tenggara, sebagai bahan eksplorasi tema. Sekaligus menghadirkan diri, sebagai ’teater rakyat’ atau ’teater tandingan’, dihadapkan dengan konvensi teater Barat.

Konvensi teater Barat yang menjadi impuls teater modern, lebih bersifat formal dan tegas membedakan antara pemain (panggung), dan penonton, serta memegang teguh peraturan-peraturan tontonan yang terkait dengan pemikiran, gaya, dan gerakan modern. Sedangkan teater rakyat, tidak lagi berbicara tentang Timur yang sebelumnya banyak dibicarakan Brecht melalui dialektika teknik akting China, untuk mencipta apa yang disebut ”Ketimuran”.

Teater interkultur atau teater rakyat ini, pada 1960-an ikut melanda hiruk-pikuk kreativitas grup teater di New York, seperti kelompok The Living Theatre dan The Open Theatre yang terpengaruh kuat oleh filsafat Jepang, dan The Performances Group yang lebih menekankan pada karya otobiografi dan keterlibatan penonton.

Hasil karya teater interkultur adalah bentuk budaya tanding, terhadap budaya kaum formalis, garapan teknologi tinggi, garapan teater jalanan, serta selera seniman modern yang telah berkuasa selama hampir dua puluh tahunan. Teater interkultur menjadi sebuah sikap mental antimodern yang menjadi ciri kekuasaan Eropa – dan sebuah pencarian pada ’otensititas’, pengalaman nyata penjelajahan budaya – bukan Barat. Sebagaimana pernah digagas Antonin Artaud, yang begitu tergila-gila pada ”Ketimuran” yang diserapnya dari teater Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *