Gapura-Puri

S.W. Teofani

Kau menyambangiku ketika seluruh pintu puri telah kukunci. Kita bertukar kata di balik benteng yang lebih batu dari pualam. Tak ada lagi cekrama atau sesiah laksmi. Tinggal dinding murah pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki gigir takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Mahapasti. Tak ada lagi sesesap harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih langit dari arasy. Continue reading “Gapura-Puri”

NB: Aku Sangat Merindukanmu!

M.D. Atmaja

Serintik hujan mengisi malam wening. Memelodikan tembang kenangan tentang perjalanan jauh yang menyayat pilu. Semerbak sisa asap di pedupan, menggelayutkan mimpi. Mengajak seorang lelaki untuk terpekur dalam kesendirian yang tidak akan mampu dimengerti orang lain. Awang-uwung yang tadinya senyap, dikagetkan dering pesan singkat. Pesan dari kawan yang jauh.“Jalan-jalanlah. Jangan tenggelam dalam selimut.” Pesan itu penuh bujuk. Continue reading “NB: Aku Sangat Merindukanmu!”

Pak Beye

Linda Sarmili
suarakarya-online.com

Pak Beye, panggilan akrab lelaki tua itu, sedang berbaring di kursi rotan yang dibuatnya sendiri beberapa tahun lalu. Kepalanya terangkat sesuai dengan bentuk kursi. Di depannya ada sebuah televisi kesayangannya sekaligus musuhnya. Ia sayang kepada televisinya kalau muncul acara-acara kegemarannya seperti pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan tangan dan pertukangan, apalagi kerajinan atau pertukangan kursi kayu. Continue reading “Pak Beye”

Muara Jambi

Sunaryono Basuki Ks
suarakarya-online.com

Akhirnya pesawat kami mendarat di Bandara Sultan Taha yang kosong, tanpa terlihat pesawat lain yang parkir. Pesawat Batavia Air berhenti sekitar dua ratus meter dari bangunan kedatangan dan ketika sampai di depan pintu pesawat, Wayan Sadnyana dalam seragam pramugara dan sosok tubuhnya yang tak begitu tinggi menunjuk ke lantai landasan dimana seorang lelaki telah siap dengan sebuah kursi dorong. Continue reading “Muara Jambi”

Malam Ziarah

Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

WARTI tersungkur di punggung makam. Memeluk gundukan tanah dengan sepasang lengannya. Separuh wajahnya yang mulus tak berjarak dengan permukaan tanah yang ditumbuhi alang-alang yang mulai membasah oleh embun.

Cahaya bulan samar-samar membantunya membaca guratan nama di nisan papan. Dia menahan suara tangisnya, tapi tak kuasa menghentikan air yang ambrol dari kedua sudut matanya. Susah payah dia mengambil posisi bersimpuh lantaran gaun terusan panjang yang dikenakannya, lalu berdoa dalam diam. Continue reading “Malam Ziarah”

Bahasa »