Award NgeSeks

M.D. Atmaja

Pagi ini matahari cerah tidak seperti dua hari berturut sebelumnya. Hangat menerobos tirai, namun udara tetap begitu dingin membuatku terus mendekap lutut mencapai kehangatan. Di langit, menggantung derum mesin pesawat yang seolah hanya memutar-mutar, seperti tawon raksasa. Terus menggantung, merecoki kicau burung yang jelas lebih bermanfaat untuk jiwaku.Percakapan semalam, dengan kawan lama masih juga terasa sisanya. Kental. Continue reading “Award NgeSeks”

Anak Haram Indonesia

Tandi Skober
http://www.lampungpost.com/

“AKU ingin jadi Promatheus yang melepas absurditas menantang dewa-dewa, mencuri api Olymphus sekaligus ogah sembah sungkem di haribaan Dewa Zeus. Aku ingin jadi anak haram Indonesia, memanjat Monas, mencuri emas sekaligus tak waswas disebut tak waras,” ucap saya tiap kali saya datang ke Jakarta. Continue reading “Anak Haram Indonesia”

Pulang

M.D. Atmaja

Malam belum terlalu dingin saat aku menikmati kopi dan tembakau yang sudah terasa menyesakkan dada. Memang belum terlalu dingin, meskipun kulitku berbintik dan kopi yang baru saja diseduh cepat dingin. Tidak apa, aku nikmati saja mumpung masih ada waktu menikmati sebelum deadline memenggal kesantaianku. Bisa-bisa, kalau tidak dinikamati sekarang, kopi bisa tidak terminum, pun rokok pasti tidak akan terhisap juga. Meskipun dalam waktu terjepit, istriku memang tidak pernah ketinggalan menyiapkan kopi nasgitel. Continue reading “Pulang”

Bunglon Menjadi Serigala

M.D. Atmaja

Hari ini, langit sudah meredup kembali. seperti kemarin-kemarin, udara akan lekas basah dan membuatku kesulitan bernapas. Sesak. Sementara langit telah menghitam kembali, dan sedangkan matahari masih berhutang padaku sebesar seperempat perjalanan. Tapi, yah, mau bagaimana lagi sedangkan diriku ini hanya manusia yang tidak mencipta.“Hujan lagi, Kang!” ucap saudara mudaki. Dhimas Gathuk namanya, berperawakan kecil namun tegak dan tegas. Continue reading “Bunglon Menjadi Serigala”

Jurai

Guntur Alam
http://www.lampungpost.com/

[1]

EBAKku meninggal hanya beberapa purnama saja setelah aku mengoek panjang dari rahim emak. Di pagi kelabu pada tanggal 5 Mei 1987. Pagi yang kelak kucatat sebagai pagi yang paling pekat dalam hidup. Sebuah pagi yang ternyata begitu mahadalam menentukan nasibku. Continue reading “Jurai”

Bahasa »