Kado Ultah

Tarpin A. Nasri
http://www.lampungpost.com/

BUAH CINTA, kasih, sayang, rindu dan pernikahanku dengan Kunti Dewi Talibrata, telah terlahir. Anak kami yang sulung laki-laki, kuberi nama Bisma Putra Bayu, dan anak kami yang ragil perempuan. Istriku memberi nama Widawati Putri Setyawati. Kami hidup rukun, damai, dan bahagia dalam bingkai kesederhanaan. Continue reading “Kado Ultah”

PETI MATI

Saut Situmorang

Aku sedang tidur lelap waktu tiba-tiba suara bel pintu mengagetkanku. Pukimak! makiku, terseok-seok jalan ke pintu. Dengan kepala masih setengah tidur aku buka kunci pintu dan ternyata tak ada orang! Aku keluar dan tetap tak ada orang di situ. Bangsat! Setan alas begu ganjang mana pula ini yang berani mengganggu tidurku pagi-pagi begini! Continue reading “PETI MATI”

KOTBAH HARI MINGGU

Saut Situmorang

Hari Minggu pagi. Tak ada mendung di langit, matahari bulat penuh kemerah-merahan seperti telor matasapi tergantung di ranting pohon jambu di depan rumah. Tiga ekor burung kutilang ribut di pucuk ranting jambu yang tinggi, sementara di bawahnya di tanah ayam-ayam kampung berebutan makan jagung. Terdengar suara anak menangis dari dalam rumah. Continue reading “KOTBAH HARI MINGGU”

Kado Mimpi buat Konglomerat

Iwan Gunadi
http://www.lampungpost.com/

INI benar-benar tak masuk akal. Aku konglomerat yang selalu menindas dan mengisap rakyat. Tapi rakyat pula yang menghadiahiku sebuah tempat di surga.

Mulanya sebuah kado di atas meja di kantorku. Kado itu berlapis kertas warna putih dengan pita merah. Bentuknya kotak empat persegi panjang dengan ukuran setengah meter kali satu meter. Tebalnya sekitar lima sentimeter. Continue reading “Kado Mimpi buat Konglomerat”

TIRAI

Saut Situmorang
http://boemipoetra.wordpress.com/

Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Seekor kucing tiba-tiba saja muncul dari seberang jalan dan berlari melintas. Aku gugup dan berusaha menekan pedal rem kuat-kuat. Akibatnya sepeda motorku ‘slip’ dan menggelincir tak terkendali ke tepi jalan.

Aku lihat banyak orang berlarian ke tempat di mana badanku terkapar. Mereka lalu berkerumun di sekitarku. Segera saja lalulintas di jalan itu macet. Suara-suara klakson mobil dan sepeda motor begitu ramai, tapi tak membuat kerumunan orang di sekitarku jadi bubar. Malah semakin banyak orang yang datang berkerumun di situ. Continue reading “TIRAI”

Bahasa »