Kado Ultah

Tarpin A. Nasri
http://www.lampungpost.com/

BUAH CINTA, kasih, sayang, rindu dan pernikahanku dengan Kunti Dewi Talibrata, telah terlahir. Anak kami yang sulung laki-laki, kuberi nama Bisma Putra Bayu, dan anak kami yang ragil perempuan. Istriku memberi nama Widawati Putri Setyawati. Kami hidup rukun, damai, dan bahagia dalam bingkai kesederhanaan.

Anakku bukan tak pernah merayakan ulang tahun, karena baik Bisma maupun Widawati, pernah diulangtahunkan meski tidak setiap tahun. Kalau ada rezeki lebih, kedua anakku diultahkan. Akan tetapi bila rezekinya hanya cukup untuk menyangga biaya hidup sehari-hari, paling-paling aku minta tolong Kunti untuk memasak yang agak spesial. Seperti hari ini misalnya. Pada hari ultah Widawati kali ini, aku menyuruh istriku membuat soto ayam spesial.

Ketika soto ayam spesial terhidang di meja makan, aku bilang, “Hari ini ulang tahun siapa?”

“Akuuu….,” jawab Widawati sambil mengangkat telunjuk tangannya tinggi-tinggi.

“Ya benar, Sayang,” ujar istriku. “Hari ini adalah hari ulang tahun Widawati yang keempat,” lanjut soulmate-ku.

“Jadi soto ini sebagai tanda ulang tahun Widawati ya, Pa?” tanya Bisma.

“Iya, Mas,” jawabku. “Habis mau dirayakan dengan meriah Papa lagi tak punya cukup uang nih,” lanjutku.

Setelah aku memimpin doa sebelum makan dan kami mengucapkan ultah kepada Widawati disertai dengan ciuman, kami kemudian makan soto bersama.

“Rasa sotonya enak banget, Ma,” puji Bisma.

“Masa sih?” ujarku.

“Benar, Pa,” jawab Bisma. “Soto buatan Mama enak banget bumbunya.”

Kami makan soto dengan nikmat dan semua nambah. Setelah selesai makan malam dengan soto, istriku memimpin doa penutup makan. Tapi setelah itu, aku dan istriku menangis di kamar. Karena tanpa disengaja, tadi di meja makan Widawati mengalungkan mi di lehernya sambil bilang, “Mama lihat Ma, bagus ya kalung Nduk,” katanya.

Aku benar-benar sedih. Daun telinga, leher, pergelangan tangan dan jari-jari anakku sudah sangat lama tidak dihiasi emas, baik itu dalam bentuk anting, kalung, gelang ataupun cincin. Dan lebih sedih lagi ketika pulang sekolah Widawati curhat kepadaku kalau teman sekolahnya di TK, Gisella, baru saja dibelikan kalung dan gelang oleh orang tuanya. Katanya Ella yang sudah cantik jadi tambah cantik. “Kalau Nduk pakai gelang dan kalung kan nanti cantik juga, Pa,” kata dia.

Aku melirik istriku yang matanya juga sudah ikut basah, “Nanti kalau Papa gajian, Nduk juga dibelikan sama Papa. Sabar ya, Sayang,” jawab istriku. “Iya kan, Pa?”

Demi Widawati, aku mengangguk saja. Padahal saat itu aku berpikir keras: dari mana aku dapat uang untuk membeli kalung, gelang, anting atau cincin untuk anakku? Karena gaji bulan depan sudah terbayang alokasinya untuk apa saja. Kalaupun ada sisa, itu untuk kebutuhan rutin bulanan dapur, bayar iuran sekolah, listrik, sampah, arisan dan cadangan berobat bila swaktu-waktu di antara kami ada yang sakit dan harus ke dokter.

Sampai Cutiku habis dan aku berangkat kerja kembali, aku belum bisa membelikan barang emas untuk mempercantik penampilan anakku. Aku benar-benar sedih, bahkan sampai aku tak bisa makan melebihi dari yang penting bisa makan. Begitu aku mau makan enak sedikit saja, aku seperti mengunyah Widawati. Begitu aku merokok, Widawati mengepul di asap rokokku. Akhirnya aku makan dan merokok benar-benar irit. Jangankan untuk minum susu, kini ngopi juga aku mikir-mikir. Paling pol aku ngeteh. Itu pun kadang-kadang saja. Aku lebih banyak minum air putih dari isi ulang. Semua itu aku lakukan demi mengumpulkan sedikit demi sedikit uang buat menggembirakan Widawati.

Sampai beberapa kali gajian, aku baru bisa mengumpulkan sedikit uang untuk hadiah ulang tahun Widawati. Tiga bulan kemudian begitu uang hampir terkumpul sesuai kebutuhan, ndilalah-nya Bisma wajib mengikuti study tour. Duh Gusti! Bagaimana ini?

Terpaksa pergelangan tangan dan leher Widawati bakal polos lagi. Kami sedih bukan main, dan itu pun diketahui Bisma. “Kalau saja study tour ini tidak wajib diikuti, Bisma tidak apa-apa tidak ikut, Pa. Karena Bisma tahu, hidup kita lagi susah, dan Nduk Widawati ingin dibelikan kalung dan gelang,” katanya. “Bisma juga tahu, jangankan untuk study tour, untuk makan kita saja begitu sederhana dan seadanya, tapi semuanya terserah Papa deh mana yang terbaik,” lanjut Bisma dengan sangat bijaksana meski baru kelas III SMP.

Aku memeluk Bisma dengan segenap cintaku, “Kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan. Yang jelas Papa pasti berusaha dan bekerja yang terbaik untuk Mama dan anak-anak Papa. Oke?”

KETIKA aku sedang berperang antara membiayai study tour Bisma atau membelikan kalung dan gelang untuk Widawati, datanglah Pengurus Remaja Islam Masjid Al Huda minta sumbangan 50—100 nasi kotak untuk acara makan siang dengan anak yatim piatu. Tanpa pikir panjang kuiyakan permohonan tersebut.

Esoknya aku memesan sejumlah nasi kotak seperti yang diminta utusan panitia, bahkan pesannya kulebihkan sampai 25 kotak. Lalu istri dan anak-anakku kuajak memenuhi undangan kegiatan itu. “Lihat Mas, ternyata masih ada yang lebih membutuhkan dari pada kita kan, Mas?” kataku dan Bisma mengangguk. “Ada yang makannya jauh lebih sederhana dari kita kan, Nduk?” tanyaku dan Widawati mengangguk.

Sebelum acara makan dimulai, dilakukan pembacaan doa yang dipimpin oleh anak yatim piatu tertua yang nyantri di masjid itu. Hampir semua yang hadir mengucurkan air mata, termasuk istriku, Bisma, dan Widawati, dan kami kembali menangis ketika doa akhir makan dipanjatkan. “…Kami tidak pernah makan siang semewah ini, ya Allah. Oleh karena itu, terima kasih untuk makan siangnya yang sungguh amat lezat dan bergizi ini, ya Allah. Tolonglah ya Allah, semoga yang memberikannya Engkau balas dengan rezeki yang lebih baik lagi. Amin…”

Beberapa hari kemudian kami belanja di supermarket dan mendapatkan kupon undian berhadiah dua lembar. Karena masih punya cukup waktu, kuisi kupon itu dan kumasukkan ke kotak, dan beberapa waktu kemudian ketika kami sedang berpikir keras bagaimana mendapatkan uang untuk membayar study tour Bisma, aku dihubungi oleh salah seorang karyawan supermarket di mana dulu kami belanja, dan memberi tahukan kalau kupon undianku memenangkan satu unit rumah. “Alhamdulillah, ya Allah…,” ujarku sambil bersujud.

Ketika kami sedang mengurus hadiah tersebut, seorang pembeli menghampiriku dan menanyakan: apakah rumahnya mau dijual? Karena aku ingat hadiah yang kujanjikan untuk Widawati, study tour Bisma harus segera dibayar, serta genteng dan talang rumah banyak yang bocor, tanpa pikir panjang kujual rumah hadiah itu dengan harga yang kemudian kami sepakati bersama.

Dengan uang hasil penjualan rumah hadiah itu, aku bisa membayar utang kado ultah Widawati, bayar study tour Bisma, bisa memperbaiki rumah, bisa membelikan mukena, baju muslim dan kerudung untuk istriku, serta sisa uangnya aku tabung.

“Alhamdulillah Engkau telah berkenan mengabulkan doa anak yatim piatu itu untuk kami dengan cara atau jalan yang tidak disangka-sangka. Terima kasih ya Allah,” ujar kami berempat setelah menunaikan ibadah salat Subuh secara berjamaah.

Braja Mulya-Braja Selebah-Lamtim, Februari 2011