AIDS

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/tag/hiv/

“Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS,” kata Ami memberikan ceramah, di depan sejumlah ibu kampung. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya.

Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar, khususnya di kalangan kaum homo. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu, kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia. Continue reading “AIDS”

Menjadi Tua

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

AKU tidak ingat persis kapan aku mulai sadar sudah menjadi tua. Seakan tiba-tiba saja ketuaan itu aku rasakan. Atau bisa jadi kesadaran itu bermula pada suatu pagi ketika sebuah gerahamku gompal dan serpihannya berdenting jatuh ke piring sewaktu kami sarapan sekeluarga. Dentingnya nyaring sekali. “Heh, apa ini?” ucapku tertegun. Continue reading “Menjadi Tua”

5 Jam Bersama

Jayaning S.A

“Gimana? Nggak apa-apa Bapak tinggal disini?” Bapakku tersenyum.
“Nggak apa-apa. Bapak pulang aja,” jawabku.

Lagi, untuk yang kesekian kalinya aku minta ditinggal sendiri. Aku ingin belajar menghadapi sendiri, dengan segala carut marutnya. Oh ya, perkenalkan, aku seorang mahasiswi yang tinggal di bagian timur pulau Jawa, di desa kecil di pinggiran kota yang juga kecil. Continue reading “5 Jam Bersama”

Aku dan Angka 18:18

Saiful Bahri

Tak banyak yang tahu, begitupun diriku mengapa angka 18:18 selalu terlihat saat aku melihat jam di ponsel warna hitam punyaku. Awalnya aku menganggap itu hanya kebetulan belaka. Namun semua itu berubah saat aku sadar ternyata angka 18:18 punya arti yang cukup besar dalam hidup yang kujalani. Ia, angka itu benar-benar membuatku termenung penasaran. Hampir saja aku menganggap bahwa angka itu angka keberuntungan, atau paling tidak dibalik angka itu pasti ada sesuatu yang harus kucari maksudnya. Continue reading “Aku dan Angka 18:18”

Sahabat Lama

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

SEBUTLAH Fajri, ia sahabatku sejak kuliah dulu. Ketika aku pulang kampung, empat tahun yang lalu, ia tergeletak lemah di rumah sakit.

“Berlebihan,” sunggut Tante Min, ibunya Fajri.

Aku diam. Beringsut dari ujung tempat tidur ke arah Fajri. Membantunya membetulkan selang infus yang melibat di tiang gantungnya. Continue reading “Sahabat Lama”

Bahasa »