Angsa di Seberang Sungai

Miftahul Abrori
http://pawonsastra.blogspot.com/

Mata merah sayu itu menahan kantuk setelah semalam mendapat jatah piket redaksi. Sigit tampak kegerahan memandang layar komputer di ruang redaksi harian Garda Metro, sebuah koran nasional yang mempunyai anak cabang di kota ini. Rupanya deadline hari sabtu membuat ia tak berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan feature untuk edisi minggu. Sebagai wartawan rubrik Budaya dan Humanioria yang terbit setiap minggu ia seharusnya mempunyai waktu yang leluasa untuk mengatur jam menulis. Ide kreatifitasnya rupanya terpacu ketika mendekati deadline. Continue reading “Angsa di Seberang Sungai”

Cermin

Maghriza Novita Syahti
http://www.lampungpost.com/

Perempuan 1 dan Cermin

Ratih masih berdiri tegak di depan lemarinya. Diambilnya baju berwarna merah dengan motif bunga-bunga emas. Dipandanginya pula baju itu dari kerah hingga pinggir bawahnya. Disentuhnya payet-payet berwarna emas berbentuk bunga itu. Diperiksanya satu per satu. Entah ada yang rusak entah ada yang lepas. Continue reading “Cermin”

Kuwalat

Joko Utomo
http://pawonsastra.blogspot.com/

Desa Jampi Sari yang biasanya sunyi, pada hari-hari ini sontak menjadi ramai. Hampir tiap waktu semua warga membicarakan rencana Pak lurah yang mau menjadikan tanah desa yang dulunya adalah tanah kuburan menjadi kantor dan balai pertemuan desa.

Bukan masalah peralihan fungsi tanah itu yang bikin ramai dan menjadi kontroversi. Namun keputusan Pak Lurah yang tidak mau melakukan upacara adat untuk memohon dan meminta ijin kepada yang mbaurekso atau penunggu tanah kuburan yang daerah miliknya akan diubah menjadi kantor dan balai pertemuan desa itu yang bikin warga menjadi uring-uringan. Continue reading “Kuwalat”

Menjaring Mimpi di Tengah Laut

Fathor Rasyid*
http://pawonsastra.blogspot.com/

Hari ini adalah hari kemarin. Hari esok, mungkin hari yang saat ini ia jalani. Tak ada senyum mengambang di bibirnya. Cita-cita, harapan, dan keinginan mungkin hanya sebatas mimpi yang entah di mana harus ia tambatkan.

Seperti hari-hari kemarin, mendung di wajah Samen masih belum memudar. Matanya yang letih jauh menatap ke depan, ke sebuah gubuk yang tak pernah menaburkan senyum. Ia biarkan angin pantai mengibas-ngibaskan baju rombengnya. Sementara terik matahari menjilati kulitnya yang gelap kecoklatan. Continue reading “Menjaring Mimpi di Tengah Laut”

Menaklukkan Harimau

Andri Saptono*
http://pawonsastra.blogspot.com/

Malang sekali nasib Rahayu. Ia merasa suaminya tidak cinta lagi padanya. Seperti kisah perkawinan temannya yang lain, suaminya sekarang menyukai rumput tetangga mereka yang lebih hijau dan lebih menarik.

Tentu saja Rahayu tak tinggal diam. Ia masih mencintai suaminya dan ia pun mencoba berbagai resep agar suaminya kembali mencintainya. Ia merelakan waktunya untuk mandi lulur dan sering minum jamu sari rapet. Ketika melihat iklan di televisi, bagaimana tips-tips setiap hari untuk memikat pasangan kita, Rahayu pun tak ingin ketinggalan. Singkat kata, ia melakukan apa saja dengan harapan suaminya itu kembali mesra padanya. Continue reading “Menaklukkan Harimau”

Bahasa ยป