Pertemuan Terakhir

Denny Mizhar

Aku menjadi heran, sejak kepergianmu meninggalkan kampung halaman kita yang terletak di Lamongan bagian tengah menuju kota Jember, menjadikanmu banyak perubahan. Kamu berbeda dengan yang aku kenal tiga tahun yang lalu. Atau mungkin hanya pandanganku yang tak segaris denganmu, bisa jadi, aku yang tak mengenal sisi lain dari hidupmu. Yang aneh mengenai perubahanmu adalah baju yang kau kenakan. Kau mirip orang-orang Barat Tengah. Kau tahu mana Barat Tengah, coba ambilah peta dan lihatlah kau akan tahu bahwa ada kesalahan selama ini dalam melihat peta di mana timur, tengah dan barat jika kita berada di kampung kita. Continue reading “Pertemuan Terakhir”

Rumah Danau

Widhi Hayu Setiarso
http://pawonsastra.blogspot.com/

Aku jengkel dengan ayah. Ayah jahat. Ayah tak mau mengantar aku ke danau Banyu Bening. Padahal kan, aku pingin sekali ke sana. Apalagi kemarin Minggu, Reyna, Dita, dan Reno teman-temanku TK habis ke sana. Cuma aku yang belum pernah ke sana. Aku kan malu. Uh, waktu kami main bareng saat istirahat sekolah, aku hanya bisa melongo mendengar cerita mereka tentang air yang bening, perahu-perahu yang mengambang, gunung-gunung di kejauhan, burung-burung yang terbang merendah, juga rumah-rumah ikan yang ada di tengah. Ah, ayah tega sekali! Continue reading “Rumah Danau”

Pintu Air Jagir

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

“Karena yang kita lakukan selama ini tidaklah sia-sia.”

SATU

Jadi, jika tubuhmu memang benar telah hanyut di sungai itu, bukan berarti tak ada lagi yang akan menunggumu di pengujung sore di sudut desa ini. Mungkin kau sadar, ketika keheningan yang kau cita-citakan itu mulai kau rasakan, ketika tubuhmu terbelit akar-akar dan daun rumput yang bergerak seragam, kau biarkan kehanyutan itu menjadi semacam doa yang melebihi waktu, kau tempuh kesunyian seperti tanpa beban, tanpa arah, dan hanya menitipkan pesan lewat celah remah dedaunan. Continue reading “Pintu Air Jagir”

Gapura Doa

S.W. Teofani
Lampung post 03/16/2008

AKU selalu coba melupa. Menutup sirip kenangan dengan taburan doa. Mengelupas tiap helai tanpa nada. Meski tak pernah benar-benar mencapai amnesia. Gapura itu tetap dan selalu ada. Di ceruk paling maya, mengada dalam taman jiwa. Gigir ngarai yang pernah kita sisir, memanggil dengan suara paling mesra. Ruah rasa yang dulu hadir, menerbangkanmu untuk menyambangi waktu. Semua kembali bersua. Seolah tak pernah ada jeda menganga. Kita kembali mengeja kidung-kidung gapura. Meracik harap mencapainya. Hingga kau membuka tirai nelangsa. Utas janji telah kau patri pada seruas hati. Lingkar tunang telah kau semat pada lentik jari. Aku berpaling dengan pasti. Bukan langkah kita yang menuju ke sana. Lagi, aku ingin menghapus setiap jejak kaki kita. Continue reading “Gapura Doa”

Bahasa ยป