Bunga Besut

Sabrank Suparno

Marsudi benar-benar hilang. Entah kapan persisnya, aku tak punya tanda pengingat khusus, semisal jaman Semeru meletus yang tiap dedaunan dipenuhi debu hingga sempal, jaman hama wereng yang menggagalkan panen padi, jaman pederos yang mencekam karena tiba-tiba ditemukan mayat terbungkus karung, atau ketika muncul peristiwa manggar emas, manggar yang diterpa bias sinar mentari sore, sehingga warnanya persis seperti emas. Dan, hanya sore itu, tidak terjadi lagi pada sore berikutnya hingga kini. Tak pelak sore itu banyak orang berkerumun,menyaksikan manggar yang berupa emas. Continue reading “Bunga Besut”

AYAM KAMPUNG

M. Ikhsan
http://pawonsastra.blogspot.com/

Terpengaruh oleh ilmu pengetahuan populer, aku lebih menyukai ayam kampung daripada ayam RAS. Konon kadar kolesterol ayam kampung lebih rendah daripada ayam RAS. Selain itu tidak ada zat aditif seperti hormon pemacu pertumbuhan ataupun obat-obatan. Siang itu untuk sedikit memanjakan tubuh aku nongkrong di warung ayam bakar kampung yang terkenal lezat di kotaku. Warung itu walaupun sederhana tetapi banyak dikunjungi orang-orang berdasi dan bermobil mewah. Aku tidak keki dengan kehadiran mereka, soalnya di situ kulihat juga beberapa pengunjung berkasta sepertiku, pemakai sepeda motor. Continue reading “AYAM KAMPUNG”

Ketika Semua Berjalan Mundur

Sungging Raga
http://korantempo.com/

Tak ada yang kita tinggalkan kalau kita berjalan mundur….

KALIMAT itu berputar-putar dalam pikiran Ruminah, semacam sugesti yang kuat. Ia mendapatkan kalimat itu dari sebuah buku puisi berjudul Pada Bantal Berasap. Di situ tertulis nama pengarangnya, Afrizal Malna. Siapa ia, Ruminah tidak tahu. Ia hanya menemukan buku itu di atas meja, sepertinya milik tamu ayahnya yang ketinggalan–atau sengaja ditinggal? Continue reading “Ketika Semua Berjalan Mundur”

Sepasang Wayang

Arman A.Z.
lampungpost.com

ADAKAH yang lebih membahagiakan bagi lelaki uzur macam kalian selain memberi napas pada nostalgi? Kalian seperti menemukan peti harta karun saat menoleh ke belakang. Ah, memang getir menjalani sisa hidup sebagai sampah yang disisakan masa lalu untuk masa kini.

Tjin Siong, tentu kau tahu kotamu tengah bersolek menjelang Imlek, bukan? Mengapa mengurung diri dalam kamar pengap apak ketika orang-orang berwajah bungah? Buka jendela dan tataplah langit cerah di luar sana. Dengar kesiur angin kencang merontokkan daun-daun tua, mewartakan tahun baru sudah di depan mata. Continue reading “Sepasang Wayang”

Bahasa ยป