Bekas Pengarang

Kurniawan Junaedhie
suarakarya-online.com

Hamid Hamaluddin, biasa dipanggil HH, meradang, ketika tahu naskahnya dikembalikan redaksi suratkabar. Kalau sekadar cinta ditolak, mah, biasa. Tapi soal ini? Lihat saja. Mukanya merah padam. Giginya gemeletuk. Darahnya mendidih. Terdengar suaranya menggeram-geram seperti singa yang mencabik-cabik mangsanya. Naskah yang dikembalikan redaksi itu disobek-sobeknya, lalu dicampakkan ke lantai dan diinjak-injak. Itulah kenanganku terhadap HH berbelas tahun lalu. Continue reading “Bekas Pengarang”

Dibalik Jeruji

Elnisya Mahendra
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Tuhan, bila takdir-Mu telah engkau teteskan kepadaku, kekuatan apa yang bisa membuatku menolaknya? Tidak akan ada, kecuali kepasrahan yang teramat dalam dari mahkluk-Mu yang hanya sebutir pasir diantara laut dan pantai-Mu yang maha luas.

Kulipat mukena dan sajadahku setelah do’a kupanjatkan untuk orang-orang yang aku cintai diawal pagi ini. Kulirik Amel yang masih tidur di ranjang, dengkur lembutnya seirama dengan naik turun dadanya. Continue reading “Dibalik Jeruji”

Dua Lelaki Tua

I Wayan Suardika
http://www.balipost.co.id/

Pagi ialah kenyataan yang selalu berulang; matahari pagi dengan cahaya yang menyehatkan, atau kalau tidak ia mungkin murung dengan rinai gerimis yang memberi rasa gigil atau kuyup. Selalu begitu, sebagaimana juga dua lelaki tua itu begitu setia mengikuti irama siklus pagi. Mereka selalu hadir berdua ketika pagi tiba, menyusur trotoar kota Jalan Veteran menuju Taman Puputan. Continue reading “Dua Lelaki Tua”

Cerita Menyentuh dari Nenekku

Raudal Tanjung Banua
korantempo.com

DALAM rangkaian cerita kecil yang kusampaikan dengan cara mencicil, baru sekarang nenek kusebut. Ini mungkin tidak lazim. Biasanya, neneklah rujukan cerita banyak orang, terlebih menyangkut keselamatan dunia-akhirat. Tapi bukan salah nenek berkisah kalau ceritaku terdahulu merujuk ibu dan ayah, wabah, bahkan pohon dan belukar masa kecilku. Lalu kusiapkan cerita campur-aduk dari pamanku dan cerita kecil dunia anakku. Aih, ternyata dunia semata pijakanku! Alangkah picik. Tapi tidak. Sebab tak kutahu setinggi ini haruku pada nenek, sehingga ceritanya mesti kutempatkan setelah yang lain-lain lewat, setelah benda-benda simbol dunia hilang sempat. Tinggal rida. Rida semata mengenangnya?. Continue reading “Cerita Menyentuh dari Nenekku”

Tio na Tonggi

Hasan Al Banna
http://www.korantempo.com/

LEGENDA Pitta Bargot Nauli! Bagaimana bisa Tio merontokkan sepahatan cerita itu dari dinding benaknya? Bayangkan, tak terbilang jumlah malam yang dihabiskan Tio untuk tekun menyimak Bapaknya bercerita. Sebelum berakhir, jangan harap Tio hanyut ke sungai lelap, lalu tenggelam ke kedalaman dekap Bapaknya. Continue reading “Tio na Tonggi”

Bahasa ยป