Monolog Ayam Jago

Purnawan Kristanto
http://www.sinarharapan.co.id/

Hari ini rasanya aneh sekali. Entah mengapa, rasanya malam lebih cepat menjelang daripada biasanya. Matahari memang sudah bergulir ke Barat, tapi masih tinggi. Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap. Karena mengira hari sudah malam, betina-betina mulai masuk ke petarangannya. Anak-anak menciap-ciap mencari kehangatan di balik ketiak induknya. Mereka bersiap mulai tidur. Pandangan mataku juga mulai meremang. Walaupun sebenarnya belum merasa mengantuk, aku pun mulai bertengger di atas ranting pohon kesukaanku. Dengan perasaan aneh, aku juga mencoba untuk tidur. Continue reading “Monolog Ayam Jago”

Nawang Wulan

Setiyo Bardono
http://www.sinarharapan.co.id/

?Jangan sekali-kali membuka tutup periuk ini.? Seingatku ada tiga orang yang pernah mengatakan hal seperti itu.

Orang yang pertama adalah Emakku. Soalnya ketika kecil dulu aku sering mengambil air campuran beras yang sudah mendidih, kemudian kucampur dengan sedikit garam dan gula jawa. Orang menyebutnya air tajin. Rasanya enak sekali. Mungkin air tajin itu kurang sehat atau Emak agak kesal karena kadang aku mengambil tajinnya terlalu banyak hingga air yang ditakar secukupnya akan berkurang kemudian mengganggu keras lunaknya nasi. Continue reading “Nawang Wulan”

Hosea

Maroeli Simbolon
sinarharapan.co.id

Saat itu aku baru bangun pagi. Lalu, segera aku membuka televisi, entah mengapa. Padahal, biasanya, aku akan bergegas ke luar rumah, dan berolahraga ringan dengan jalan kaki. Ah, benarkah yang kusaksikan ini? Seketika mataku terbelalak; berita televisi yang menayangkan tragedi Nias. Ya, Tuhan, Nias kembali diguncang gempa? Ada apakah ini? Pertanda apakah? Continue reading “Hosea”

Sucipto

Gunawan Maryanto
suaramerdeka.com

SUCIPTO tahu besok pagi dia akan kalah. “Tak ada yang mendukungku sama sekali!” Tak ada tenaga dalam suaranya. Keras tapi kopong. Dyah hanya diam menatap ayahnya yang duduk terpekur di kursi tamu. “Masmu tetap tak pulang?” Dyah menggeleng.

“Sudah kutelepon dan SMS berkali-kali.”

Sucipto beranjak dari tempat duduknya. Melangkah pergi keluar rumah. ?Pintu jangan dikunci.? Continue reading “Sucipto”

Lipstik di Bawah Guyuran Hujan

Miftah Fadhli
http://www.lampungpost.com/

SEPULUH tahun silam dia pernah di sini, bersama seorang lelaki. Lelaki yang menyapu wajahnya yang basah kuyup karena hujan. Dengan takzim lelaki itu berucap, “Kita akan bertemu lagi di sini, sepuluh tahun lagi.”

Maka sepuluh tahun kemudian, tepatnya hari ini, perempuan itu duduk lagi di sini. Di hari yang sama. Di hujan yang juga sama: bergedebum, membawa gigil dingin. Continue reading “Lipstik di Bawah Guyuran Hujan”

Bahasa ยป