Lima Liang Banua

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Dia bosan hidup miskin. Miskin itu tidak enak. Tak bisa apa-apa dan selalu dipandang rendah. Dia memutuskan meninggalkan kampungnya, merantau ke dekat batubara. Meninggalkan ibunya. Selama ini dia cuma tahu bahwa orang tuanya cuma satu. Sejak kecil dia tak pernah melihat seperti apa abahnya. Cuma tahu namanya, dan dia tak peduli itu benar atau salah. Continue reading “Lima Liang Banua”

PERNIKAHAN SEMU

Lina Kelana
http://lina-kelana.blogspot.com/

Ini adalah kesekian kali dari pernikahan pernikahanku sebelumnya. Aku susun, kudirikan dan kurobohkan kemudian. Ketidakpercayaan yang disodorkan Priyadi adalah kegamangan yang bukan tanpa alasan jika aku menginginkan dia segera meminangku. Aku sangat menyukainya, namun di sisi lain aku tak menginginkan dia terkapar kecewa seperti suami suamiku sebelumnya. Continue reading “PERNIKAHAN SEMU”

Matahari Pulang, Cakrawala dan Perempuan

M.D. Atmaja

Sekelebat mata, sang Perempuan berlari di atas pasir yang basah. kakinya lincah. Seperti anak kecil yang bermain di taman kembang kesayangannya. Perempuan itu sesekali melemparkan pandangan pada Lelaki yang hanya duduk di atas gunungan pasir. Perempuan itu, menatap manja sambil sesekali menghindari ombak yang mendebur dan sambil meletupkankan tawa riang.

“Ah,” desah sang Lelaki, “anak kecil.” Ucapnya pelan pada diri sendiri sambil menggelengkan kepala saat Perempuan yang ada di depannya bermain ombak. Continue reading “Matahari Pulang, Cakrawala dan Perempuan”

Selingan Tragedi

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

“ATAS nama apa mereka turun ke jalan?”
“Atas nama bangsa.”
“Bangsa siapa?”
“Bangsa mereka sendiri.”

Bendera berkibar, jalanan macet. Udara sedikit mendung. Hujan masih tertahan. Orang-orang berselimut amarah, berselimut bahasa yang tajam. Bendera diikat ke kayu, kayu digenggam tangan. Invasi jalan raya, jalan protokol, jalan umum. Continue reading “Selingan Tragedi”

Perjalanan

M.D. Atmaja

Matahari meluncur ke barat, bersama dengan irama jalanan yang sibuk membawa para pekerja melangkah pulang. Ini lah kota yang berirama dalam khas tersendiri. Pagi dan sore, jalanan dipenuhi dengan pekerja yang bertaburan. Sore, pukul empat, seperti terhempaskan semuanya. Orang-orang yang semula berkumpul di dalam lingkaran, akhirnya keluar juga. Hiruk pikuk jalanan direguk habis sang Pendosa yang berdiri terpaku di sebuah perempetan. Jalanan ke selatan penuh. Jalan ke barat juga penuh. Jalan ke utara dan ke timur demikian juga. Continue reading “Perjalanan”

Bahasa ยป