Cekik

Beni Setia *
suaramerdeka.com

PINTU terbuka. Lelaki langsing hanya berkaus masuk, dengan secangkir kopi dan rokok terselip di bibir. Ia menutup pintu dengan sepakan kecil kaki kiri. Melangkah tenang, nyaris tanpa bunyi debap sepatu. Meletakkan cangkir kopi -ruapnya menimbulkan kesan intim ruang tamu, dan bukan ruang interogasi. Menarik kursi. Duduk. Memainkan ujung bara, membersihkan sisik sisa pembakaran yang siap luruh jadi abu. Continue reading “Cekik”

Menari di Padang Prairi

Abidah El Khalieqy
http://www.jawapos.co.id/

OKE! Aku menyerah. Teruslah menari seluas padang prairi. Karena kau adalah benih adalah hujan adalah angin dan matahari. Tunas cinta menyembul darimu per detik. Tak ada jemu. Meski telah kubabat rumputan sabanamu, kuluapkan sungai-sungaimu hingga kering dan kutebas pohonan rimba rayamu. Meski telah kututup pintu-pintu dan kukafani sejarahmu. Meski telah kuhapus huruf-huruf yang mengisahkan namamu. Continue reading “Menari di Padang Prairi”

Nyanyian Kesunyian

Denny Mizhar

Malam dengan dinginnya memeluk tubuhnya, di halaman rumah yang dulu biasa digunakan untuk bertemunya para penyair. Mereka saling mengadu argumentasi dan mendiskusikan realitas yang terjadi di sekitarnya, lalu dijadikan bahan membuat sajak-sajak ataupun esai.

Rumah yang memiliki halaman lua sebagai tempat menaruh padi dan hasil kebun ketika musim panen tiba. Tidak seperti dulu lagi, sekarang sepi dan sunyi. Continue reading “Nyanyian Kesunyian”

Pemakaman yang Bahagia

Sungging Raga
http://suaramerdeka.com/

KETIKA tak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidupnya, ketika tak ada lagi yang bisa dibanggakan setiap kali mata itu terbuka menatap dunia yang muram, lelaki itu pun bersumpah, bahwa setidak-tidaknya ia harus bisa menciptakan sesuatu yang akan memuaskannya kelak, sesuatu yang barangkali akan menjadi satu-satunya sejarah yang tercatat atas namanya. Ya, dan hal itu sudah ada di antara sepasang matanya. Diam-diam, ia ingin sekali mengakhiri hidupnya, dengan sebuah pemakaman yang bahagia. Continue reading “Pemakaman yang Bahagia”

Kejahatan Hati Nurani

Penulis: Nadine Gordimer
Penerjemah: Heru Emka
http://suaramerdeka.com/

MEREKA saling mengamati pada saat yang sama, ketika melangkah turun dari tangga Mahkamah Agung pada hari ketiga pengadilan itu. Pada saat itu, kebetulan saja para penonton datang untuk melihat si terdakwa -melihat mereka yang bakal menanggung kurungan dinding-dinding penjara karena gagasan-gagasan yang ada di kepala- telah memuaskan rasa ingin tahu, yang memiliki kepentingan khusus mengikuti peradilan itu dari hari ke hari. Mungkin dia seorang wartawan atau perwakilan kekuatan Barat yang mengamati proses peradilan-peradilan politik dalam problematika negara-negara itu bagi kebijaksanaan luar negeri, dan melobi kembali persoalan hak asasi manusia di Eropa Barat dan Amerika. Continue reading “Kejahatan Hati Nurani”

Bahasa ยป