Kejahatan Hati Nurani

Penulis: Nadine Gordimer
Penerjemah: Heru Emka
http://suaramerdeka.com/

MEREKA saling mengamati pada saat yang sama, ketika melangkah turun dari tangga Mahkamah Agung pada hari ketiga pengadilan itu. Pada saat itu, kebetulan saja para penonton datang untuk melihat si terdakwa -melihat mereka yang bakal menanggung kurungan dinding-dinding penjara karena gagasan-gagasan yang ada di kepala- telah memuaskan rasa ingin tahu, yang memiliki kepentingan khusus mengikuti peradilan itu dari hari ke hari. Mungkin dia seorang wartawan atau perwakilan kekuatan Barat yang mengamati proses peradilan-peradilan politik dalam problematika negara-negara itu bagi kebijaksanaan luar negeri, dan melobi kembali persoalan hak asasi manusia di Eropa Barat dan Amerika.

Dia mengenakan setelan korduray dengan potongan yang tidak lazim. Tapi saat lelaki itu berbicara, jelaslah dia pun mirip perempuan itu, seorang rumahan, dia memiliki aksen dengan gaya khas membelokkan frasa yang berhubungan dengan bahasa sehari-hari. “Apalah arti sidang ini! Aku tak paham…Setelah dua jam mengikutinya…Aku merasa bagai terperangkap dalam gulungan pita yang lengket -tak berdasarkan fakta…”

Wanita itu tak bersalah. Dia seorang wanita muda dengan kelembutan ekspresi tapi terlatih dengan gaya tenunan rumahan sederhana, dalam pertemuan apa pun, tanpa memberi kesan sebagai anggota pusat meditasi transendental atau kelompok yang memprihatinkan lingkungan hidup atau studio desain, melainkan suatu lambang perikemanusiaan tersendiri dari mereka yang tak memiliki apa-apa dan menanggung risiko tersendiri. Satu-satunya perhiasannya, seuntai kalung mungil dari potongan-potongan kulit unta yang tertata sepanjang benang, dan bergerak ketat pada lehernya saat dia tersenyum atau mengangguk. “Kerja pengacara memang seperti ini…Aku melihatnya dengan jelas. Beberapa hari yang pertama, hal itu merupakan urusan orang-orang yang berusaha agar setiap orang terkecoh pada sisi yang lain.”

Pada akhir pekan, mereka minum kopi bersama selama rehat siang. Lelaki itu mengutarakan sejumlah impresi yang naif dari peradilan itu, namun seolah-olah menyadari sepenuhnya akan kemudahan tipuan. Mengapa negara memanggil saksi-saksi yang tak berhak dan mengatakan rezim ini menindas semangatnya dan menghalang-halangi ambisi normalnya? Tentu saja, karena jenis kesaksian seperti itu mendukung pembelaan, biarpun hal itu merupakan kejahatan hati nurani? Wanita itu menggeraikan rambutnya yang indah, berdesir bagai permadani yang terbuat dari bulu kambing Anggora. “Tunggu. Tunggu. Itu demi memantapkan keyakinan. Membuktikan keterlibatannya dengan terdakwa. Pengetahuan mereka yang mendalam mengenai apa yang dikatakan dan dilakukan terdakwa, demi menyalahkan terdakwa dalam hal yang bertentangan dengan pembelaan. Tidakkah kau melihatnya?”

“Kini aku melihat.” Lelaki itu tersenyum sendiri. “Saat aku di sini sebelumnya, aku tak begitu perduli dengan persoalan-persoalan politik, aktivitas politik, kukira kau sudah mengatakannya? Itu hanya setelah saya pulang dari seberang lautan.”

Dia menanyakan apa yang diharapkan darinya setelah beberapa dia menghilang?

“Hampir lima tahun. Periklanan. Lalu komputer. Hapuskan hukuman yang memberi kesan tiadanya kepentingan, mengingat riwayat kerja ini telah habis kekuatannya.

”Dua tahun silam aku baru merasa ingin kembali. Aku tak bisa memberi alasan yang sebenarnya pada diriku. Aku telah melakukan jenis pekerjaan yang sama di sini -sebenarnya aku sudah menempuh kursus sekolah bisnis di sebuah universitas- lalu sedikit demi sedikit aku paham kenapa aku inginkan hal itu. Pulang kembali. Nampaknya hal itu bisa dilakukan bersama problema seperti ini.”

Air mukanya menampakkan pikiran yang berbeda, walau alis mata dan mulut mengekspresikan pengertian yang tenang. “Aku kira semua kesaksian ini kabur bagimu. Aku tak mengira kau adalah orang yang berdiri di luar lapangan.”

Tubuhnya kurus. Genggaman tangannya yang kecil tak ubahnya perkakas yang ditaruh di atas meja etalase sebuah warung kopi. Di luar kemampuannya, mereka memainkan bungkusan gula sementara dia menjawab, “Apa yang membuatmu memikirkan hal itu?”

“Agaknya banyak yang kau tahu. Sepertinya kau mengalami sendiri…Atau barangkali…kau mahasiswa hukum?”

“Aku? Bukan..,” dia memberikan sambutan bersahabat setelah seteguk-dua teguk kopi, “Aku bekerja untuk korespondensi universitas.”

“Guru?”

Sambil tersenyum dia melanjutkan,” Mengajar orang-orang yang tak pernah kulihat.”

“Tak mungkin. Kau nampak bagaikan orang yang begitu terlibat.”

Untuk pertama kalinya, perhatian basa-basi itu berubah, jadi menghangat, ” Tidakkah kau berada di London? Tak terlibat..?”

Pada perjumpaan itu, dia memberikan kartu nama pada perempuan itu, dan bercerita lagi padanya.

Namanya Derek Felterman. Itu nama yang sebenarnya. Dia menghabiskan waktunya lima tahun di London. Bekerja di sebuah biro iklan lalu mempelajari ilmu komputer di sebuah perusahaan yang bonafid. Selama di London itulah dia direkrut oleh ‘orang Kedutaan’, bukan seorang diplomat, namun seorang petugas seksi keamanan internal dari negara asalnya. Tak seorang pun tahu, bagaimana polisi rahasia mengenali para calon yang diinginkan. Hal ini semisterius gairah kawin para ayam. Namun bila dicari ciri-ciri yang sesungguhnya, perekrutan agen ini nampak gamblang, tak soal seberapa dalam seseorang bisa menyembunyikan hal ini dari dirinya sendiri.

Dia tidak bekerja untuk menyelundup dalam lingkaran para pengungsi yang bersekongkol meninggalkan kampung halamannya. Hal itu sudah diputuskan bahwa dia akan pulang dengan ”bersih”, dan bekerja pada partai politik bayangan di sebuah kampus universitas di sebuah kota pantai. Dia lantas dikirim ke utara, ke pusat industri dan logam negara, dan mengisahkan dirinya mendapat pekerjaan komersial biasa yang tak berhubungan dengan kampus, dan sebagai pendatang baru, dia mencari kontak di mana saja: informasi tentang para majikan yang dibiarkan tergelincir, kelompok budaya sayap kiri, gelombang poster kelompok protes, galeri publik pada peristiwa pengadilan politik.

Para majikan mempercayainya untuk mengetahui bagaimana cara menjilat dirinya sendiri; yang menjadi suatu kualitas yang diinginkannya, seperti halnya wanita yang mendambakan pria dengan karakter yang bahkan di luar kemampuannya – nampak dari sebuah sudut bibirnya yang mencibir bila dia tersenyum.

Pada gilirannya, dia cepat mengenali perempuan itu -pertama sebagai suatu tipe, kemudian, pada hari ketiga, saat dia mencari pembuktian tentang perempuan itu di arsip kepolisian, saat si perempuan diam-diam pergi mengunjungi teman-temannya yang berada di penjara. Yang menjalani hukuman selama tiga bulan karena menolak memberikan kesaksian dalam sebuah kasus. Aly, begitu dia menyebut dirinya sendiri. Alison Jane Ross. Ada hubungan tak langsung antara kepentingan Allison Jane Ross di pengadilan sekarang ini, dengan orang-orang yang sedang diadili, dan sudut pandangnya ini tak meniadakan kemungkinan keterlibatannya dengan pemimpin organisisasi atau kelompok aksi subversif yang ingin mencari nama.

Felterman nampak senang bersahabat dengannya. Sambil membawa kotak berat berisi buku-buku dan sebuah alat pemanggang, dia bertanya andai Aly ingin nonton drama dengannya padaa malam Minggu. Sayangnya dia sedang pindah rumah pada hari Sabtu, tapi siapa tahu Felterman bersedia datang dan membantu?

Lelaki itu ada di sana tepat waktu. Keluarga kawan-kawannya diperkenalkan dengan nama kecil, memberikan bantuan ganda dengan sebuah combi tua, -station wagon yang kehilangan daya pegas, mengangkuti makanan drngan energi kasih sayang sebagai bahan bakarnya. Selesailah perpindahan dari sebuah flat ke sebuah rumah mungil dengan sebatang pohon palem tua yang mengisi seperempat bidang taman, daun-daunnya yang kering terasa mengganggu bila angin berhembus, juga suara serangga besar yang menggosok-gosokkan kakinya bersama-sama.

Bersama senandung malam makhluk itulah, mereka bercinta untuk kali pertama dalam sebulan ini. Walaupun Robs, Jimbo dan Ricks sama baiknya dengan Jojos, Bets dan Lils dalam hal mencium dan memeluk sahabat mereka , Aly, -namun sebagai kekasih, lelaki ini tak tergantikan. Walau faktanya, perempuan itu agak merasa canggung menjalin keintiman, seperti yang juga diperlihatkan lelaki itu padanya. Namun di sana ada sebuah kamar bagi mereka berdua.

Pada awal kedekatan mereka, bahkan sebelum mereka menjadi sepasang kekasih, dia berniat menceritakan pengalamannya selama di penjara. Namun dia mengatakannya dengan kalimat basa-basi yang dangkal -selimut yang berbau antiseptik dan kucing yang selalu mengelilingi ruangan bersama pasangannya. Kini dia tak lagi bertanya tentang wanita lain pada lelaki itu, dan terkadang ada beberapa kehangatan tak terduga, rasa saling mengisi yang terpancar, kenikmatan seksual yang masih terasa, yang diakui lewat anekdot konyol, affair masa lalu, dengan wanita yang menguasai ruang dan waktu mereka.

Saat kesempatan yang baik muncul secara alami, dia pun bercerita tanpa rasa malu, dendam atau kesombongan yang sepertinya dibutuhkan setelah hidup selama tiga tahun bersama seseorang, yang pada akhirnya, kembali ke pelukan isterinya. Belakangan ini ada satu-dua affair singkat – ”Terkadang -tidakkah kau temukan- seorang sahabat lama yang mendadak terasa asing…? Dan keesokannya kembali sama seperti sedia kala, sepertinya tak ada yang berubah.”

“Bukankah sahabat adalah sesuatu yang amat penting bagimu? Maksudku setiap orang adalah sahabat, tapi kau…Kau benar-benat nelakukan apa pun untuk sahabat-sahabatmu.Benar kan?”

Hal ini tercermin dari reaksinya yang lebih baik daripada sekadar kata belaka. Pengalaman yang dilewatkan selama tiga bulan di penjara. Dia mengangkat ujung rambutnya yang keriting di keningnya, dan wajahnya yang berbintik nampak kontras dengan bagian yang merona di bawahnya: “Mereka memang sahabat bagi diriku.”

“Ini bukan masalah persahabatan saja -tentunya aku melihat para sahabat sebagai ikatan sejiwa…”

Dia memandangnya bagai seorang anak yang memandang lewat sebuah jendela pada kisah yang lain. Dia membungkuk dan menggenggam tangannya, menciumnya di kelopak mata masing-masing, dengan jenis dekapan yang sebelumnya tak pernah saling mereka berikan.

Walau begitu, teman-temannya agak terabaikan juga, suatu hal yang disetujui Felterman. Lelaki itu ingin masuk dalam kelompok itu secara lebih erat, hal yang wajar bagi doa orang yang terlibat kisah cinta yang penuh gairah. Juga bisa dipahami bahwa Felterman tak punya kenalan lebih banyak daripada mereka, dia telah lima tahun meninggalkan rumah, baru dia tahun kembali ke kota pantai itu. Dia menyegarkan lagi kesenangan Aly, yang telah ditinggalkannya pada masa lalu, saat dia masih menjadi siswa; bermain ski air dan mendaki. Mereka pergi bersama menonton pertunjukan teater rakyat penduduk pribumi, bagian dari kursus politik yang diberikan padanya tanpa melalui korespondensi, tanpa menyadari apa yang dilakukannya dan tanpa memberinya nama yang berlebihan.

Aly tak mengajaknya ke diskotek, melainkan melibatkan dalam kontak penting yang dilakukannya bersama sekelompok temannya dari ras dan warna kulit yang berbeda, dengan pengandaian bila Felterman berada dalam pesta-pesta perempuan itu, dia menari lebih cepat darinya, dia belajar dari orang-orang Negro bagaimana cara mendayagunakan tubuhnya untuk musik. Dalam transformasi ini, dari tempat dia minum dan mengamati Aly dan teman-temannya, perempuan itu nampak binal dan begitu menggairahkan. Terkadang dia kembali pada Felterman, bersama persembahannya : makanan dan minuman yang dibawanya.

Bulan demi bulan pun terlewatkan. Lelaki itu melihat pola-pola tertentu dalam persahabatan si wanita , hingga melebihi hidupnya bersama wanita itu, yang memasuki wilayah-wilayah terlarang dan di antara orang-orang yang dibatasi hukum pergaulan, seperti wanita yang menyebabkan dia masuk penjara, secara bertahap wanita itu mendapatkan rasa percaya diri untuk mendekatkan lelaki itu pada risiko. Tanpa pernah mendiskusikannya, namun jelas secara sensitif selalu mencoba mengukur seberapa banyak dia benar-benar ingin mengetahui ‘mengapa dia ingin kembali melakukan hal seperti ini’.

Memang lebih sulit untuk meninggalkannya, apalagi pada larut malam, sendiri di bawah udara kering, hasutan beku pohon palem tua, dengan sedu daunnya yang merisaukan hati. Namun walau dia tahu telah tercipta tempat baginya untuk berdiam di pondok bersama perempuan itu, dia telah kembali ke flatnya, yang lebih mirip sebuah kantor yang tak dihuni, kecuali kursi dan meja berdebu yang didudukinya untuk menulis laporan, yang hampir tak dapat dituliskan di rumah yang didiami bersama wanita itu.

Dia sering bicara dengan wanita itu ketika berada di penjara. Aly selalu mengawali pembicaraan pada semua topik. Namun ketika mereka baru saja menyimpan senjata lain, jauh dari jangkauan dan tak terliput penyelidikan dan terluput dari cermatnya pengawasan, dia menceritakan kisah yang sebenarnya: kenapa dia memanggung risiko, untuk siapa dan apa yang telah disepakatinya. Dengan penuh hasrat, Aly menantikan kata kunci. Dari lelaki itu.

Itu adalah sebuah kata sandi yang tak dimilikinya. Itu adalah sebuah kode yang tak diberitahukan padanya. Dan kemudian ketika malam lain tiba, dia menemukan kode itu. Malam itu juga dia berkata, “Aku telah memata-mataimu.”

Raut wajah wanita itu terhenyak dalam sebuah momen yang terpusatkan dalam dunia binatang, tempat mahkluk yang terancam berubah menjadi bola paku atau mengubah ketakutannya dengan menggelembungkan ototnya dalam sikap bertahan yang menyala-nyala.

Momen ini dengan cepat menghilang dari wajahnya saat dia melangkah. Felterman menghalangi langkahnya saat seorang lelaki bersenjata muncul di belakang punggungnya. Perempuan itu bergerak cepat melintasi ranjang, tangannya menjangkau kepala lelaki itu, dan menjambaknya.

(Diterjemahkan oleh Heru Emka dari kumpulan cerita pendek Nadine Gordimer: Crimes of Conscience (Heinemann, African Writer Series, 1991)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *